PWNU Jatim Dorong Aswaja Center NU Jadi Lembaga Resmi di Muktamar ke-35
Baca dalam 60 detik
- PWNU Jawa Timur mengusulkan Aswaja Center NU menjadi lembaga resmi dalam Muktamar ke-35 di Jombang, menegaskan peran strategisnya sebagai penjaga ideologi moderat.
- Usulan ini menyusul keberadaan Pokja Aswaja Center sejak 2011 di Jatim, dengan harapan penguatan kelembagaan untuk menghadapi tantangan era digital.
- Jika disetujui, Aswaja Center NU akan memiliki mandat lebih luas dalam merumuskan program NU Abad Kedua 2026-2031, termasuk respons atas isu-isu kontemporer.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengusulkan agar Aswaja Center NU diangkat menjadi lembaga resmi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Usulan ini mengemuka dalam gelaran Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Sabtu (yang lalu). Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk memperkuat peran ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tengah derasnya arus perubahan sosial dan digital.
Gagasan tersebut disampaikan oleh Koordinator Aswaja Center NU Jawa Timur, K.H. Ma'ruf Khozin, bersama Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, K.H. Balya Firjaun Barlaman, dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Aswaja Center NU. Menurut Khozin, PWNU Jatim sebenarnya telah memiliki kelompok kerja (Pokja) Aswaja Center sejak 2011, dan sejumlah cabang di daerah juga telah membentuknya. Namun, statusnya yang belum resmi sebagai lembaga membuat peran dan jangkauannya terbatas.
โKami ingin Aswaja Center tidak sekadar menjadi program, tetapi menjadi lembaga yang memiliki struktur, sumber daya, dan mandat yang jelas,โ ujar Khozin dalam keterangannya di Jombang. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Aswaja adalah ruh dari NU, sehingga sudah selayaknya mendapatkan wadah kelembagaan yang kuat. Meski demikian, Khozin menegaskan bahwa usulan ini masih dalam tahap pembahasan di forum Muktamar dan belum menjadi keputusan final.
Wakil Ketua PWNU Jatim, K.H. Balya Firjaun Barlaman, memberikan landasan teologis atas usulan ini. Ia menjelaskan bahwa prinsip Aswaja tidak bisa dilepaskan dari tiga pilar utama Islam: iman, Islam, dan ihsan, yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Dalam konteks NU, ketiga pilar ini diwujudkan melalui tiga serangkai ajaran KH Hasyim Asy'ari, yakni akidah, syariah, dan tasawuf. โTiga prinsip itu diterapkan NU dalam tiga serangkai ajaran KH Hasyim Asy'ari,โ ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Aswaja Center PWNU Jatim, K.H. Faris Khoirul Anam, menekankan bahwa Aswaja memiliki karakter tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), i'tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran). Karakter-karakter ini, menurutnya, dapat menjadi pendekatan dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. โAswaja itu ilmu dan mental atau karakter yang bersifat problem solver, misalnya dengan qiyas sebagai jalan tengah,โ katanya.
Di luar isu kelembagaan, Muktamar ke-35 NU juga menjadi ajang bagi berbagai elemen untuk menyuarakan aspirasi. Majelis Alumni IPNU dan IPPNU, misalnya, mendesak agar muktamar tidak hanya membahas kepemimpinan, tetapi juga merumuskan program NU Abad Kedua untuk periode 2026-2031, khususnya dalam menghadapi perkembangan era digital. Sementara itu, Jaringan Penulis dan Penggerak Literasi (JPPL) bersama Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jatim telah menyusun buku sejarah berbasis dokumen sebagai kontekstualisasi sejarah NU yang sudah ada.
Dalam kesempatan tersebut, K.H. Ma'ruf Khozin juga meluncurkan โBuku Induk Aswaja NUโ. Buku ini memuat tiga prinsip Aswaja, dalil mengenai Yasin, tahlil, tawassul, dan haul, serta sejarah NU yang mencatat peran KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Ridlwan Abdullah, dan KH Mas Alwi Abdul Aziz. Kehadiran buku ini diharapkan menjadi rujukan komprehensif bagi kader dan masyarakat umum dalam memahami Aswaja secara utuh.
Di arena muktamar, komunitas Nahdlatut Turots turut memamerkan sekitar 2.000 naskah kuno peninggalan ulama dan karya keislaman klasik. Sebagian koleksi tersebut telah melalui proses digitalisasi, sebuah langkah penting untuk pelestarian warisan intelektual Islam di Indonesia. Digitalisasi ini juga membuka akses lebih luas bagi peneliti dan publik untuk mempelajari khazanah keilmuan klasik.
Bagi pembaca di Indonesia, usulan ini memiliki signifikansi yang tidak kecil. Aswaja Center NU selama ini dikenal sebagai garda terdepan dalam menjaga moderasi beragama di tengah maraknya paham ekstrem. Jika resmi menjadi lembaga, Aswaja Center akan memiliki legitimasi dan sumber daya yang lebih besar untuk menjalankan program-program deradikalisasi, pendidikan moderasi, dan literasi keagamaan. Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat toleransi dan kerukunan umat beragama.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah usulan ini akan disetujui, tetapi bagaimana Aswaja Center NU akan menjalankan peran barunya di tengah lanskap keagamaan yang semakin kompleks. Apakah lembaga ini akan mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks? Muktamar ke-35 NU, dengan segala dinamikanya, akan menjadi penentu arah organisasi Islam terbesar di Indonesia ini untuk satu abad ke depan.



