Alcaraz Buka Suara soal Pikiran Intrusif selama Cedera: 'Itu Ujian Terberat'
Baca dalam 60 detik
- Petenis peringkat dua dunia itu mengaku lebih tersiksa oleh ketidakpastian waktu pulih daripada rasa sakit fisik selama menepi hampir tiga bulan.
- Cedera tenosinovitis pada pergelangan tangan memaksanya melewatkan seluruh musim lapangan tanah liat Eropa dan turnamen persiapan Amerika.
- Dengan hanya satu penampilan ganda campuran sebagai pemanasan, Alcaraz diprediksi akan diuji ketahanan fisiknya oleh Roman Safiullin di babak pembuka.

Carlos Alcaraz akhirnya angkat bicara mengenai sisi tergelap dari masa pemulihannya: bukan rasa sakit fisik yang paling menyiksanya, melainkan pikiran-pikiran intrusif yang terus menghantuinya tentang kapan ia bisa kembali bertanding. Jelang memulai debutnya di US Open 2025, Minggu (24/8) waktu setempat, petenis Spanyol berusia 23 tahun itu mengaku beban mental justru menjadi ujian terberat yang pernah ia lalui sepanjang kariernya.
Sejak tersingkir di babak pembuka Barcelona Open pada 13 April lalu, Alcaraz nyaris tanpa aksi tunggal. Cedera pada pergelangan tangan kanannya—yang didiagnosis sebagai tenosinovitis, peradangan pada selubung tendon—memaksanya menepi lebih lama dari perkiraan. Ia melewatkan seluruh musim lapangan tanah liat Eropa, termasuk Prancis Terbuka, serta turnamen persiapan di Cincinnati. Baru pada pekan ini ia kembali merasakan atmosfer pertandingan, tampil di nomor ganda campuran bersama legenda Serena Williams di Flushing Meadows.
Ketidakpastian itulah yang menurut Alcaraz paling sulit dikendalikan. "Begitu saya mulai berlatih sedikit, tapi tidak tahu kapan bisa kembali, pikiran-pikiran itu benar-benar sulit dihadapi," ujarnya dalam konferensi pers Jumat (22/8). "Saya tidak tahu apakah akan siap untuk Cincinnati, US Open, atau justru melewatkan seluruh rangkaian turnamen di Amerika. Itu yang paling berat." Pengakuannya ini membuka tabir betapa rentannya mentalitas atlet papan atas ketika jadwal kompetisi mereka terganggu oleh cedera yang tak menentu masa penyembuhannya.
Bagi pengamat tenis, cedera pergelangan tangan memang momok yang kerap berujung panjang. Sendi ini menjadi tumpuan utama saat Alcaraz melesakkan forehand khasnya yang bertenaga besar. Tekanan berulang pada area yang sama membuat proses penyembuhan berisiko kambuh bila dipaksakan. Karena itu, keputusan tim medis untuk menariknya dari berbagai turnamen dianggap langkah hati-hati yang tepat, meski konsekuensinya ia datang ke New York dengan hanya bermodalkan satu pertandingan ganda campuran sebagai uji coba.
Alcaraz sendiri menegaskan kesiapan mentalnya untuk bertarung dalam format lima set. "Ini benar-benar menantang. Dari segi persiapan, ini bukan waktu terbaik. Tapi saya dan tim percaya saya siap," katanya. Ia juga mengaku berusaha menepis rasa takut dan bermain normal. "Saya harus percaya pada tim yang memberi tahu semuanya akan baik-baik saja. Saya akan tampil 100 persen."
Konteks Indonesia: Bagi penggemar tenis Tanah Air, kabar ini menjadi pengingat bahwa bahkan atlet sekelas Alcaraz pun tidak kebal terhadap tekanan psikologis. Di tengah maraknya turnamen internasional yang kini mudah diakses via streaming, publik Indonesia bisa menyaksikan bagaimana manajemen cedera dan kesehatan mental menjadi faktor penentu performa. Ini juga relevan bagi atlet muda Indonesia yang bercita-cita menembus level global—bahwa pemulihan yang baik tidak hanya soal fisioterapi, tetapi juga dukungan psikologis yang memadai.
Pertandingan pembuka Alcaraz melawan Safiullin akan menjadi ujian nyata sejauh mana kondisinya pulih. Bila ia mampu melewati rintangan awal, bukan tidak mungkin ia kembali menjadi ancaman serius di babak-babak akhir. Namun, jika cedera kambuh, keputusan untuk memaksakan diri bisa menjadi bumerang. Pertanyaannya, akankah ketenangan mental yang ia bangun cukup kuat menopang ambisinya mempertahankan gelar di tengah ketidakpastian fisik?



