India Melangkah ke Pasar Matcha Global: Assam Menantang Dominasi Jepang
Baca dalam 60 detik
- India resmi memproduksi matcha komersial pertamanya dari perkebunan teh Assam, menandai diversifikasi industri teh nasional.
- Dengan harga jual hingga 3.800 rupee per kilogram, matcha Assam menyasar pasar global yang sedang berkembang pesat.
- Langkah ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengikuti jejak India dalam mengembangkan produk teh bernilai tambah tinggi.

India resmi memasuki panggung produksi matcha global. Pada 3 Juli lalu, Guwahati Tea Auction Centre di Assam, India timur laut, menjadi saksi penjualan batch komersial pertama matcha buatan dalam negeri. Ini bukan sekadar produk teh hijau biasa; ini adalah buah kolaborasi antara keluarga Jalan, pemilik perkebunan teh Chota Tingrai, dengan mitra Jepang, yang berhasil mengolah varietas teh lokal menjadi bubuk matcha berkualitas.
Langkah ini menandai pergeseran signifikan bagi industri teh India yang selama lebih dari dua abad bergantung pada teh hitam. Dengan masuknya India, kini semakin banyak negara yang mampu memproduksi matcha di luar Jepang, seperti China, Taiwan, Korea Selatan, dan Vietnam. Permintaan global yang melonjak—didorong oleh tren gaya hidup sehat dan popularitas budaya Jepang—menjadi momentum yang tak disia-siakan oleh keluarga Jalan.
Menurut data yang dihimpun, pasar matcha India diproyeksikan mencapai US$167 juta pada 2030. Angka ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pekebun teh di berbagai negara, termasuk Indonesia yang juga memiliki industri teh yang kuat. Namun, jalan menuju kesuksesan tidaklah mudah. Keluarga Jalan harus berinovasi untuk menemukan kultivar teh lokal yang cocok, yaitu Tinali 17, yang memiliki kandungan polifenol dan asam amino tinggi serta warna hijau yang kaya—atribut penting untuk matcha berkualitas.
Proses produksinya pun sangat teliti. Daun teh dikukus, dikeringkan dalam enam siklus dengan suhu berbeda, digiling halus selama lebih dari 12 jam, dan menggunakan mesin buatan Jepang yang dirancang khusus untuk teh Assam. Konsultan teh Jepang, Masanori Yanagawa, yang telah bekerja sama dengan keluarga Jalan selama tiga tahun, menekankan bahwa kunci keberhasilan adalah mengurangi rasa pahit dari varietas Camellia assamica, yang justru menjadi ciri khas teh hitam Assam.
Menariknya, keluarga Jalan tidak berniat menyaingi matcha Jepang. Mereka justru memberi merek produknya sebagai "Matcha assamica" sebagai bentuk penghormatan terhadap keunikan matcha asli Jepang. Mrityunjay Jalan, generasi keempat pengelola Chota Tingrai, mengibaratkan upaya mereka seperti Jepang yang mencoba membuat masala chai—mustahil untuk menyamai cita rasa asli. Namun, mereka yakin profil rasa yang lebih halus dan tidak terlalu sepat bisa menjadi pintu masuk bagi konsumen baru yang belum terbiasa dengan rasa matcha tradisional yang kuat.
Konsultan Yanagawa menilai bahwa Assam memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk "matcha-style" yang memenuhi standar kualitas global, asalkan konsisten dalam produksi dan memanfaatkan keunggulan lokal. Ia menegaskan bahwa matcha Assam tidak akan menggantikan matcha Jepang, tetapi dapat memperkaya pasar global dengan variasi baru.
Bagi Indonesia, langkah India ini menjadi pelajaran berharga. Industri teh nasional, yang juga didominasi teh hitam, dapat meniru strategi diversifikasi ini. Dengan dukungan riset dan investasi, bukan tidak mungkin Indonesia mampu mengembangkan matcha dari varietas teh lokal, mengingat kesamaan iklim dan kondisi tanah dengan Assam. Namun, tantangan seperti biaya produksi dan persaingan harga tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi.
Ke depan, apakah India akan mampu mempertahankan konsistensi kualitas dan merebut hati konsumen global? Ataukah ini hanya akan menjadi fenomena sesaat di tengah hiruk-pikuk industri teh yang sedang bergejolak? Yang jelas, langkah berani keluarga Jalan telah membuka babak baru dalam sejarah teh dunia, dan Indonesia patut mengamatinya dengan saksama.



