Demokrat Diminta Gerak Cepat: Nachrowi Ramli Canangkan Persiapan Pemilu 2029 Sejak 2026
Baca dalam 60 detik
- Partai Demokrat diminta memulai konsolidasi internal lebih awal, dengan target perencanaan matang pada 2026 dan pematangan pada 2028.
- Langkah ini dianggap strategis untuk menghindari keterlambatan yang kerap menjadi kelemahan partai dalam kontestasi sebelumnya.
- Ajakan ini muncul di tengah upaya Demokrat memperkuat basis akar rumput melalui kegiatan seperti Lomba Rakyat yang digelar serentak di 430 titik.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Nachrowi Ramli, meminta seluruh kader partai untuk tidak menunda persiapan menghadapi Pemilu 2029. Dalam pernyataannya di sela perayaan HUT ke-25 partai, ia menegaskan bahwa perencanaan yang matang harus dimulai sejak tahun 2026, jauh sebelum tahap konsolidasi yang dijadwalkan pada 2028.
Nachrowi, yang juga mantan Kepala Lembaga Sandi Negara, mengingatkan bahwa waktu adalah musuh terbesar dalam politik. “Jangan sampai kita tertinggal oleh waktu, nanti kita kaget-kaget,” ujarnya di hadapan kader yang berkumpul di Jakarta, Minggu. Ia menekankan bahwa tahun 2027 akan menjadi masa persiapan, dilanjutkan pematangan konsolidasi pada 2028, sebelum memasuki pertarungan Pileg dan Pilpres 2029.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Partai Demokrat, yang kini berusia seperempat abad, tengah berupaya keluar dari bayang-bayang kekalahan di dua pemilu terakhir. Dengan elektabilitas yang masih berkutat di kisaran 5-7 persen, partai berlambang mercy ini menghadapi tantangan besar untuk sekadar lolos ambang batas parlemen 4 persen. Seruan Nachrowi mengindikasikan adanya kesadaran internal bahwa mesin partai harus bergerak lebih awal, tidak hanya mengandalkan momentum menjelang pemilu.
Kegiatan Lomba Rakyat yang digelar serentak di 430 titik di seluruh Indonesia menjadi salah satu instrumen untuk mendekatkan partai dengan masyarakat. Selain memeriahkan HUT ke-25 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, acara ini juga menjadi ajang menjaring aspirasi dari 240 Dewan Pimpinan Cabang (DPC). “Kami mengundang masyarakat dan menanyakan apa harapan-harapan ke depannya,” kata Nachrowi, menegaskan filosofi “Bersatu Memajukan Indonesia” yang diusung dalam kegiatan tersebut.
Langkah ini menarik untuk dicermati. Di tengah dinamika politik nasional yang didominasi oleh partai-partai besar, Demokrat mencoba membangun diferensiasi melalui pendekatan akar rumput. Namun, pertanyaannya adalah apakah kegiatan seremonial seperti ini cukup untuk mengubah persepsi publik terhadap partai yang pernah menjadi pemenang pemilu 2009 itu. Pengamat politik menilai bahwa tanpa kaderisasi yang serius dan kader yang berkualitas, kegiatan seperti ini hanya akan menjadi seremonial belaka.
Nachrowi sendiri mengakui bahwa perjalanan partai selama 25 tahun penuh dengan hambatan dan tantangan, tetapi juga keberhasilan. Pengalaman tersebut, menurutnya, harus dijadikan cermin untuk kembali menjadi juara dalam kontestasi mendatang. “Partai Demokrat di usia 25 cukup matang. Oleh karena itu, dari lahirnya banyak hambatan, banyak tantangan, banyak keberhasilan juga. Oleh karena itu akan kita jadikan cermin agar supaya kita kembali menjadi juara nantinya di dalam kontestasi,” tuturnya.
Bagi publik Indonesia, persiapan dini ini bisa menjadi sinyal bahwa Demokrat serius untuk bangkit. Namun, publik juga akan menilai dari konsistensi partai dalam memperjuangkan isu-isu konkret, seperti kesejahteraan rakyat dan keadilan, bukan sekadar retorika. Dengan waktu yang masih panjang menuju 2029, Demokrat memiliki peluang untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar partai “panggung”, tetapi partai yang siap bekerja untuk Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Ke depan, tantangan terbesar Demokrat bukan hanya memenangkan pemilu, tetapi juga meyakinkan pemilih bahwa mereka memiliki visi yang jelas dan kader yang mampu merealisasikannya. Akankah langkah awal ini diikuti dengan kebijakan-kebijakan yang lebih substantif, atau hanya akan menjadi wacana tanpa aksi? Waktu yang akan menjawab.



