Muktamar NU ke-35: Sidang Ahwa Digelar di Ndhalem Kasepuhan, Menghidupkan Kembali Spirit K.H. Wahab Chasbullah
Baca dalam 60 detik
- Sidang Ahlul Halli Wal Aqli pada Muktamar ke-35 NU akan berlangsung di Ndhalem Kasepuhan, kediaman historis K.H. Wahab Chasbullah di Jombang.
- Pemilihan lokasi ini bukan sekadar teknis, melainkan upaya meneladani semangat perjuangan sang pahlawan nasional bagi para kiai penentu arah organisasi.
- Panitia memastikan ruang sidang yang steril dan nyaman bagi sembilan anggota Ahwa, dengan harapan musyawarah berjalan khidmat dan menghasilkan kepemimpinan yang amanah.

Jombang โ Panitia lokal Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan Ndhalem Kasepuhan, kediaman bersejarah K.H. Wahab Chasbullah di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, sebagai lokasi sidang Ahlul Halli Wal Aqli (Ahwa). Keputusan ini diumumkan oleh Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum sekaligus Ketua Panitia Lokal, K.H. Abdurrozaq, di Jombang, Ahad (24/8). Langkah ini bukan sekadar pilihan tempat, melainkan simbol untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan salah satu pendiri NU yang juga pahlawan nasional.
Ahwa, yang beranggotakan sembilan kiai senior, memiliki peran strategis dalam menentukan arah kepemimpinan jam'iyah NU. Dengan menggelar sidang di Ndhalem Kasepuhan, panitia berharap para peserta dapat menyerap nilai-nilai keteladanan K.H. Wahab Chasbullah yang dikenal pantang menyerah dalam membela agama dan bangsa. "Kami ingin memunculkan kembali semangat dan keteladanan Mbah Wahab," ujar Gus Rozaq, sapaan akrab K.H. Abdurrozaq, di sela-sela persiapan muktamar.
Pemilihan Ndhalem Kasepuhan juga mempertimbangkan aspek historis dan spiritual. Bangunan yang berdampingan dengan Masjid Jami' Bahrul Ulum ini dinilai mampu menghadirkan suasana musyawarah yang teduh dan khidmat. "Nilai kesakralannya jauh lebih terasa, membawa aura keteladanan dari sang pahlawan penggerak NU," tambah Gus Rozaq. Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa muktamar tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang organisasi yang lahir dari perjuangan para ulama.
Di tengah dinamika politik dan sosial yang kian kompleks, muktamar kali ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa. Forum ulama sebelumnya telah menyatukan komitmen untuk menolak politik uang, sebuah sinyal bahwa integritas menjadi isu sentral dalam musyawarah kali ini. Penempatan Ahwa di Ndhalem Kasepuhan, yang merupakan "jantung" pesantren, diharapkan menjadi pengingat bagi para kiai untuk senantiasa mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Gus Rozaq menegaskan bahwa persiapan ruang sidang telah dilakukan dengan matang. "Faktor kenyamanan menjadi prioritas kami. Tempatnya sangat steril dan berada tepat di tengah-tengah, di jantung Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas," jelasnya. Penataan interior dan fasilitas pendukung, termasuk pendingin udara, telah disiapkan untuk memastikan para kiai sepuh dapat bermusyawarah secara optimal. Hal ini menunjukkan keseriusan panitia dalam menyukseskan muktamar, yang juga menjadi ajang konsolidasi organisasi terbesar di Indonesia ini.
Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 27-31 Agustus mendatang diprediksi menjadi salah satu perhelatan keagamaan terbesar di tanah air. Selain membahas kepemimpinan, muktamar juga akan merumuskan langkah-langkah strategis organisasi dalam merespons berbagai tantangan kebangsaan. Dengan mengusung nilai-nilai keteladanan K.H. Wahab Chasbullah, diharapkan para kiai yang duduk di Ahwa dapat menghasilkan rekomendasi yang membawa NU semakin relevan bagi umat dan Indonesia.
Ke depan, publik akan mencermati bagaimana NU, melalui muktamar ini, meneguhkan perannya sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa. Apakah semangat perjuangan Mbah Wahab akan benar-benar meresap dalam setiap keputusan yang diambil? Pertanyaan ini menjadi ujian bagi para pemimpin NU untuk tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi juga mewujudkan nilai-nilai perjuangan dalam aksi nyata.



