P.T. Kojima Kembali Dimainkan di PC, 12 Tahun Setelah Ditarik dari PlayStation Store
Baca dalam 60 detik
- Port PC buatan pengembang independen LoreanXavier menghidupkan kembali P.T., demo horor legendaris Kojima yang hilang dari toko digital sejak 2015.
- Langkah ini membuka akses bagi gamer yang tak sanggup membeli konsol bekas berisi P.T. dengan harga selangit di pasar sekunder.
- Meski menawarkan resolusi lebih tinggi dan kontrol mouse-keyboard, versi PC tetap menuntut kepemilikan salinan asli atau PS4 yang dimodifikasi.

Setelah lebih dari satu dekade menghilang dari peredaran resmi, P.T.—demo horor ikonis garapan Hideo Kojima yang sempat mengguncang industri gim pada 2014—kini dapat dimainkan kembali di PC. Port tidak resmi itu dikembangkan seorang penggemar, LoreanXavier, dan dipublikasikan melalui GitHub, menghidupkan kembali karya yang selama ini hanya bisa diakses lewat konsol PlayStation 4 bekas berisi salinan terinstal.
P.T. awalnya dirilis sebagai playable teaser misterius yang menyembunyikan identitasnya sebagai prolog bagi Silent Hills, proyek yang akhirnya batal setelah Kojima hengkang dari Konami. Demo tersebut ditarik dari PlayStation Store pada 2015, tak lama setelah konflik internal antara Kojima dan publisher Jepang itu memuncak. Sejak itu, satu-satunya cara merasakan P.T. secara otentik adalah membeli PS4 bekas yang masih menyimpan gim di hard drive-nya, dengan harga yang kerap membubung hingga ratusan dolar di eBay.
Kehadiran port PC ini bukan sekadar nostalgia. LoreanXavier menggarapnya secara mandiri di waktu luang, dengan alasan bahwa P.T. layak tetap eksis di luar konsol-konsol yang masih menyimpannya. "Saya membuat ini sendiri, di waktu luang, karena P.T. pantas untuk terus ada di suatu tempat selain di konsol yang masih menginstalnya," tulisnya di GitHub. Namun, ia menekankan bahwa pengguna tetap harus memiliki salinan resmi gim tersebut, atau memanfaatkan PS4 yang telah di-jailbreak untuk menjalankan versi yang dihosting komunitas pelestari.
Dari sisi teknis, versi PC ini mempertahankan seluruh tekstur, model, dan suara seperti aslinya. Peningkatan yang ditawarkan—resolusi lebih tajam, kontrol lebih presisi, dan performa lebih mulus—memang menggoda. Akan tetapi, bagi banyak penggemar, daya tarik P.T. terletak pada pengalaman aslinya: suasana klaustrofobik, misteri yang harus dipecahkan dengan mengulang lorong yang sama, serta kejutan yang mengungkap kaitannya dengan Silent Hills. Sentuhan modern itu bisa jadi justru mengikis sebagian dari pesona yang membuat P.T. begitu dibicarakan.
Kisah P.T. juga menandai titik balik dalam karier Kojima. Setelah kepergiannya dari Konami, ia mendirikan Kojima Productions dan terus mengeksplorasi mekanika berjalan sebagai inti permainan lewat Death Stranding. Kini, ia tengah menggarap OD untuk Xbox, sebuah proyek horor yang dikembangkan bersama sutradara Jordan Peele. Meski detail OD masih dirahasiakan, para penggemar sudah ramai membandingkannya dengan P.T. karena nuansa hiperrealistis dan ambisi Kojima yang disebut akan menghadirkan pengalaman tak biasa.
"Saya membuat ini sendiri, di waktu luang, karena P.T. pantas untuk terus ada di suatu tempat selain di konsol yang masih menginstalnya." — LoreanXavier, pembuat port PC
Bagi industri gim global, langkah preservasi seperti ini menyoroti celah besar dalam ekosistem digital: ketika sebuah judul ditarik dari toko resmi, akses legal menjadi nyaris mustahil, dan pelestarian jatuh ke tangan komunitas. Di Indonesia, di mana gim horor memiliki basis penggemar setia dan komunitas homebrew mulai tumbuh, port PC ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang penasaran tanpa harus merogoh kocek dalam untuk PS4 bekas. Namun, aspek legalitasnya tetap abu-abu—mengandalkan salinan yang dimiliki sendiri atau konsol modifikasi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah P.T. akan terus hidup di PC, tetapi sejauh mana industri akan belajar dari kasus ini. Ketika Kojima merilis OD nanti, akankah ia dan Xbox mengambil pelajaran dari nasib P.T. dengan menjaga akses yang lebih terbuka? Atau justru sebaliknya, eksklusivitas dan penarikan konten akan tetap menjadi norma yang merugikan pelestarian budaya gim?



