Tiga Tahun Serangan 7 Oktober: Para Pemimpin Dunia Serukan Perdamaian dan Perangi Antisemitisme
Baca dalam 60 detik
- Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan komitmen negaranya melindungi Israel dan memerangi antisemitisme yang kian meluas.
- Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenang para korban dengan menyebut nama-nama seperti Maya, Ohad, dan Valentin, serta menyerukan kerja sama melawan terorisme.
- Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan Uni Eropa siap mendukung terwujudnya perdamaian abadi berdasarkan solusi dua negara.

Pada peringatan tiga tahun serangan Hamas 7 Oktober, para pemimpin dunia menyampaikan penghormatan kepada para korban sekaligus menyerukan langkah konkret melawan antisemitisme dan memperjuangkan perdamaian Timur Tengah. Serangan yang menewaskan sekitar 1.200 orang itu masih meninggalkan luka mendalam, dan peringatan tahun ini menjadi momen refleksi global di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa negaranya akan berbuat segala daya untuk memberantas antisemitisme yang belakangan meningkat. "Kami menyaksikan kebangkitan antisemitisme yang terlalu sering dibiarkan tanpa tantangan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Jerman berdiri teguh di sisi Israel. Merz juga menegaskan dukungannya terhadap solusi dua negara sebagai jalan keluar konflik Israel-Palestina.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Israel dan keluarga korban. Ia menyebut nama-nama seperti Maya, Ohad, dan Valentin sebagai simbol nyawa yang hilang. "Melawan antisemitisme dan terorisme di mana pun, serta bekerja untuk perdamaian dan keamanan semua pihak, adalah komitmen Prancis," tegasnya.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan solidaritasnya dengan komunitas Yahudi di dalam dan luar negeri. Ia mengenang serangan Bondi Beach pada Desember lalu yang menewaskan 10 orang. "Bagi banyak orang, tidak ada hari yang mudah sejak itu, dan peringatan selalu membawa beban berat tersendiri," ucapnya. Albanese menyoroti bahwa rasa duka diperparah oleh mendekatnya peringatan pertama serangan teror antisemit di Bondi Beach.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa Uni Eropa berdiri bersama semua pihak yang hidupnya berubah selamanya akibat peristiwa itu. Ia menambahkan bahwa blok tersebut siap membantu mengubah gencatan senjata yang rapuh menjadi perdamaian abadi berdasarkan solusi dua negara.
Seruan para pemimpin dunia ini mencerminkan kekhawatiran global atas meningkatnya insiden antisemitisme dan ketegangan di Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan telah menimbulkan krisis kemanusiaan di Gaza dan memicu gelombang solidaritas serta protes di berbagai negara. Peringatan tiga tahun ini juga menjadi pengingat bahwa perdamaian yang berkelanjutan masih membutuhkan diplomasi intensif dan komitmen internasional.
Bagi Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan pendukung setia solusi dua negara, perkembangan ini menjadi perhatian penting. Jakarta secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan dan mendukung kemerdekaan Palestina. Ketegangan di Timur Tengah juga berdampak pada stabilitas harga minyak dan ekonomi global, yang secara tidak langsung memengaruhi perekonomian Indonesia. Pemerintah Indonesia diharapkan terus memainkan peran aktif dalam mendorong dialog damai dan bantuan kemanusiaan.
Ke depan, apakah gencatan senjata yang rapuh dapat bertahan dan berubah menjadi perdamaian permanen? Dunia menanti langkah nyata para pemimpin untuk mewujudkan solusi dua negara yang selama ini dijanjikan. Tanpa tekanan internasional yang solid, perdamaian di Timur Tengah akan tetap menjadi mimpi yang sulit diraih.



