Marko Klaim F1 Kembali ke Mesin Turbo V8 pada 2030, Regulasi 2026 Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Mantan penasihat Red Bull, Helmut Marko, menyebut keputusan F1 untuk beralih ke mesin turbo V8 pada 2030 sudah final.
- Kegagalan perangkat lunak pada GP Bahrain 2026 di Sepang memicu kritik keras terhadap regulasi hybrid yang terlalu rumit.
- Jika benar, era mesin hybrid 50/50 hanya tersisa beberapa musim sebelum F1 kembali ke spesifikasi yang lebih sederhana dan ringan.

Keputusan Formula 1 untuk meninggalkan mesin hybrid dan kembali ke turbo V8 pada 2030 disebut sudah final oleh Helmut Marko, mantan penasihat tim Red Bull. Pernyataan itu muncul setelah Grand Prix Bahrain 2026 yang digelar di Sepang, Malaysia, berubah menjadi kekacauan teknis meski mencatat rekor kehadiran 261.000 penonton.
Marko, yang kini menonton balapan sebagai pensiunan, mengaku menyaksikan langsung dari televisi saat insiden perangkat lunak menghentikan jalannya balapan. Menurutnya, kejadian itu memalukan bagi sebuah produk kelas atas seperti F1. "Sangat memalukan bahwa Formula 1 dihentikan oleh masalah perangkat lunak," ujarnya kepada media Austria, oe24.
Regulasi 2026 mewajibkan pembagian tenaga 50:50 antara mesin pembakaran internal dan baterai listrik. Kompleksitas ini membuat mobil F1 nyaris seperti komputer berjalan. Ketika masalah perangkat lunak meluas di Sepang, banyak pihak di paddock mulai mempertanyakan arah pengembangan teknis olahraga ini.
Marko menilai insiden di Sepang justru membawa berkah bagi para puritan balapan. "Di sisi lain, rasa malu ini membantu mengubah pikiran," katanya. "Kembalinya mesin V8 turbo pada 2030, sejauh yang saya tahu, sudah final." Pernyataan ini sejalan dengan rumor yang beredar di paddock dan permintaan pembalap.
"Kembalinya mesin V8 turbo pada 2030, sejauh yang saya tahu, sudah final." โ Helmut Marko
Sehari sebelumnya, pembalap Red Bull Max Verstappen dalam sebuah podcast mengungkapkan impiannya: meninggalkan hybrid yang berat, menghapus DRS, dan kembali ke mesin V8 ringan. Keinginan itu mencerminkan frustrasi growing di kalangan pembalap terhadap regulasi saat ini yang dianggap mengurangi sensasi balapan murni.
Jika informasi Marko akurat, grid F1 saat ini hanya perlu bertahan beberapa musim lagi sebelum kembali ke mesin turbo V8 yang legendaris. Era hybrid yang kontroversial mungkin akan berakhir lebih cepat dari perkiraan, membawa F1 kembali ke akar balapan yang lebih sederhana dan berfokus pada kecepatan serta suara mesin.
Bagi penggemar di Indonesia, perubahan ini bisa memengaruhi jam tayang dan daya tarik balapan. Mesin V8 turbo dikenal menghasilkan suara khas dan performa yang lebih ringan, yang mungkin meningkatkan antusiasme penonton lokal. Namun, transisi juga berisiko mengganggu keseimbangan kompetitif antar tim, terutama yang telah berinvestasi besar pada teknologi hybrid.
Pertanyaannya kini: apakah F1 benar-benar akan meninggalkan hybrid sepenuhnya, atau ini hanya sinyal awal negosiasi menjelang penetapan regulasi resmi? Yang jelas, tekanan dari paddock dan pembalap seperti Verstappen semakin sulit diabaikan.



