Kandidat Kongres Arizona Klaim Diperkosa saat Perbaiki Baliho Kampanye
Baca dalam 60 detik
- Bernadette Greene-Placentia, kandidat Partai Demokrat di Arizona, mengaku menjadi korban pemerkosaan pada Agustus lalu saat memperbaiki papan kampanyenya yang rusak.
- Insiden terjadi dini hari di sebuah tempat parkir; korban mengalami luka di kepala dan tubuh, serta kehilangan ingatan sebagian.
- Kasus ini mencuatkan persoalan kerentanan perempuan di ruang publik dan tekanan yang dihadapi korban kekerasan seksual untuk bersuara.

Seorang calon anggota Kongres dari Partai Demokrat di Arizona, Bernadette Greene-Placentia, mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban pemerkosaan pada pertengahan Agustus 2026. Peristiwa itu terjadi ketika ia berupaya memperbaiki baliho kampanyenya yang dirusak orang tak dikenal di sebuah tempat parkir di kawasan Phoenix. Pengakuan ini pertama kali dipublikasikan oleh Phoenix New Times dan dikonfirmasi oleh juru bicara kampanye kepada The Guardian.
Menurut kesaksian Greene-Placentia, serangan berlangsung sekitar pukul 02.00 dini hari. Saat melintasi area parkir, ia tiba-tiba dipukul dari belakang hingga kehilangan kesadaran. Ketika siuman, ia mendapati seorang pria berada di atas tubuhnya dan sedang melakukan tindakan pemerkosaan. Seorang pria lain kemudian muncul dan menendang kakinya; korban sempat melawan dengan mengayunkan kaki, namun pelaku berujar, "Tidak sepadan," lalu keduanya melarikan diri. Greene-Placentia ditemukan dalam posisi tertelungkup di aspal.
Kandidat yang juga berprofesi sebagai sopir truk dan pemilik usaha kecil ini mengaku hanya mengingat potongan-potongan kejadian. Ia tidak ingat bagaimana bisa bangkit dari jalan atau pulang ke rumah. "Hanya kilasan-kilasan kecil yang saya ingat. Meskipun saya tidak ingin mengingatnya, saya berusaha keras untuk mengingat lebih banyak. Tapi itulah kondisinya," ujarnya kepada Phoenix New Times. Ia menduga mengalami gegar otak ringan dan tubuhnya penuh memar.
Greene-Placentia mengaku sempat diliputi rasa malu dan berusaha melupakan peristiwa tersebut. Namun, sebagai calon legislator yang sering menyuarakan pembelaan terhadap warga Arizona, ia merasa tidak bisa terus berdiam diri. "Saya tidak bisa terus mengatakan itu jika saya sendiri tidak memperjuangkan perempuan korban kekerasan seksual," tuturnya. Ia pun memutuskan untuk berbicara terbuka agar para penyintas tahu bahwa mereka tidak sendiri.
"Berbicara di depan publik tentang apa yang terjadi sangat sulit bagi Bernadette. Ia memilih berbagi cerita karena tahu banyak penyintas berjuang dalam diam, dan berharap dengan berbicara, orang lain tahu mereka tidak sendirian," kata juru bicara kampanye.
Stephanie Simacek, anggota DPRD Arizona dan sahabat korban, mengaku terkejut dan terguncang saat pertama kali mendengar kabar itu pada awal September. "Saya merasa mual, sangat mengganggu. Ini menjadi peringatan keras. Kita sering berpikir sebagai kandidat dan pejabat, hal seperti ini tidak akan menimpa kita," ujarnya. Simacek menilai pengalaman pahit ini menyoroti pentingnya dukungan bagi para penyintas kekerasan seksual, terutama mereka yang berada di ruang publik.
Kasus ini mencuatkan kembali persoalan kerentanan perempuan, termasuk mereka yang aktif di dunia politik, terhadap kekerasan berbasis gender. Meski tidak ada kaitan langsung dengan Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin bagi negara mana pun tentang perlunya sistem perlindungan yang lebih baik bagi korban, serta penghapusan stigma yang membuat banyak penyintas enggan melapor. Di Indonesia sendiri, data Komnas Perempuan menunjukkan ribuan kasus kekerasan seksual terus terjadi setiap tahun, dengan tingkat pelaporan yang masih rendah karena tekanan sosial.
Kantor Sheriff Maricopa County menolak memberikan keterangan dengan alasan penyelidikan masih berjalan. Sementara itu, Greene-Placentia bertekad melanjutkan kampanyenya dan berharap fokus tetap pada dukungan bagi para penyintas. "Saya ingin perempuan tahu bahwa tidak apa-apa untuk membicarakannya," katanya. Publik kini menanti apakah kasus ini akan mendorong perubahan kebijakan perlindungan korban kekerasan seksual di Arizona, atau justru menjadi beban politik di tengah musim kampanye.



