Tiga Kartu Pokémon Langka dari Set 2001 Tembus Rp19 Miliar di Lelang
Baca dalam 60 detik
- Tiga kartu promosi Southern Islands edisi bahasa Inggris tahun 2001 terjual total hampir 1,2 juta dolar AS dalam lelang kartu koleksi.
- Kartu Mew holo menjadi yang termahal dengan harga 840.000 dolar AS, disusul Togepi dan Marill masing-masing 168.000 dolar AS.
- Kelangkaan ekstrem dan karya seni panorama yang unik membuat set ini diburu kolektor, sekaligus menandai pasar kartu Pokémon yang kian panas.

Lelang kartu koleksi Pokémon kembali mencatatkan angka fantastis. Tiga kartu dari set promosi Southern Islands edisi bahasa Inggris yang dirilis tahun 2001 berhasil terjual dengan total hampir 1,2 juta dolar AS (sekitar Rp19,2 miliar) dalam sebuah lelang yang digelar belum lama ini. Kartu Mew holo menjadi primadona dengan harga 840.000 dolar AS, sementara Togepi dan Marill masing-masing menyentuh 168.000 dolar AS.
Angka tersebut menegaskan bahwa pasar kartu Pokémon tidak lagi sekadar nostalgia masa kecil, melainkan telah menjelma menjadi aset alternatif yang serius. Southern Islands sendiri bukan set biasa. Pertama kali muncul di Jepang pada 1999 bersamaan dengan perilisan film Pokémon kedua, set ini terdiri dari 18 kartu yang terbagi dalam dua portofolio bertema Tropical Island dan Rainbow Island. Yang membuatnya istimewa, setiap kartu dirancang sebagai bagian dari panorama besar yang saling terhubung ketika disusun berdampingan.
Ketika Wizards of the Coast merilisnya dalam bahasa Inggris pada 2001, seluruh 18 kartu dikemas dalam folder dekoratif bersama kartu pos dan tiga booster pack. Sentuhan holonya pun berbeda dari kartu kebanyakan: kilau berpola dan efek berputar memenuhi hampir seluruh permukaan kartu, bukan hanya terbatas di kotak ilustrasi. Kombinasi seni dan presentasi inilah yang membuat Southern Islands tetap diburu lebih dari dua dekade setelah kemunculannya.
Mew holo menjadi kartu paling bernilai dari set ini. Harganya yang mencapai 840.000 dolar AS tidak lepas dari kelangkaannya: hanya ada 20 kopi Mew Southern Islands yang mendapat predikat PSA 10, nilai tertinggi untuk kondisi kartu. Kartu ini juga menampilkan Charizard di sudut kiri bawah ilustrasi, karakter yang selalu punya tempat khusus di hati kolektor. Ilustrasinya digarap Keiko Fukuyama, yang dikenal dengan gaya warna jenuh dan sentuhan chibi yang khas.
Sementara itu, Togepi holo yang terjual 168.000 dolar AS juga merupakan karya Fukuyama. Ia hanya mengilustrasikan sekitar 20 kartu sepanjang kariernya di Pokémon TCG, sebagian besar untuk Rainbow Island serta beberapa set e-Reader era seperti Expedition, Aquapolis, dan Skyridge. Marill holo, yang juga laku 168.000 dolar AS, menjadi satu-satunya kartu dalam trio ini yang diilustrasikan Naoyo Kimura. Kartu tersebut mempertahankan efek Reverse Cosmos Holo yang menjadi ciri khas Southern Islands.
"Ketika seni yang indah, latar belakang menarik, dan kolektor berdompet tebal bertemu, di situlah tiga kartu Pokémon berusia 25 tahun yang tampak biasa bisa menembus hampir 1,2 juta dolar AS."
Fenomena ini bukan hal baru di pasar sekunder. Sepanjang 2026, kartu-kartu vintage maupun edisi spesial seperti Pokémon TCG: 30th Celebration terus menarik perhatian serius. Namun, lonjakan harga Southern Islands menunjukkan pergeseran selera: kolektor tidak lagi hanya mengejar set ikonik seperti Base Set atau ekspansi era Neo, tetapi juga set-set kecil dengan identitas artistik kuat dan narasi unik.
Di Indonesia, gelombang ini turut terasa. Komunitas penggemar Pokémon TCG Tanah Air semakin aktif, baik di kota besar maupun lewat forum daring. Meski pasar lokal belum sebesar Amerika Serikat atau Jepang, minat terhadap kartu graded—terutama yang memiliki nilai sejarah dan seni—terus tumbuh. Beberapa kolektor muda mulai memburu kartu-kartu langka sebagai instrumen investasi jangka panjang, meski risiko likuiditas dan fluktuasi harga tetap membayangi.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah harga kartu Pokémon akan terus naik, melainkan set mana yang akan menjadi target berikutnya. Jika Southern Islands yang dulu dianggap pinggiran bisa menembus angka miliaran rupiah, bukan tidak mungkin set-set lain yang selama ini terabaikan akan menyusul. Bagi kolektor, momen ini adalah pengingat bahwa nilai sebuah kartu tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh cerita dan keindahan yang melekat padanya.



