IIUM Cabut Gelar Akademik Kontroversial: Larangan Total Penggunaan Titel Profesor
Baca dalam 60 detik
- Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) resmi memutus hubungan akademik dengan Dr. Solehah Yaacob sejak April lalu, termasuk larangan menggunakan gelar profesor di ruang publik.
- Langkah ini diambil setelah serangkaian pernyataan kontroversialnya yang mengklaim bangsa Romawi belajar teknik kapal dari pelaut Melayu dan teori meteorit untuk kekayaan bijih besi Kedah.
- Kebijakan ini menegaskan komitmen IIUM menjaga integritas akademik dan menjadi preseden bagi institusi pendidikan lain di Asia Tenggara dalam menangani akademisi yang melanggar etika keilmuan.

Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) secara resmi memutus hubungan akademik dengan Dr. Solehah Yaacob, mantan profesor linguistik yang belakangan menjadi sorotan publik akibat pernyataan-pernyataan kontroversialnya. Keputusan ini diumumkan pada Minggu (23/8) melalui Kantor Komunikasi, Advokasi, dan Promosi (OCAP) IIUM, yang menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja telah berlaku efektif sejak 27 April lalu. Selain itu, universitas melarang keras Solehah menggunakan gelar profesor atau atribut apa pun yang mengaitkannya dengan IIUM dalam kapasitas apa pun, baik di media sosial, materi promosi, publikasi, maupun iklan.
Langkah tegas ini bukan tanpa alasan. Selama setahun terakhir, Solehah beberapa kali memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi dan publik Malaysia. Pada November 2025, ia mengklaim bahwa bangsa Romawi kuno mungkin belajar teknik pembuatan kapal dari pelaut Melayu. Pernyataan ini sontak menjadi viral dan menuai kritik karena dianggap tidak berdasar secara historis. Tak berhenti di situ, awal bulan ini ia kembali melontarkan teori bahwa kekayaan bijih besi di Kedah berasal dari hujan meteor. Dua pernyataan tersebut dinilai tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat dan berpotensi merusak kredibilitas institusi yang menaunginya.
Dalam pernyataan resminya, IIUM menegaskan bahwa klarifikasi ini diperlukan untuk memastikan persepsi publik yang akurat tentang universitas serta menjaga integritas institusi dalam representasi akademik di seluruh lanskap pendidikan tinggi Malaysia. โDengan klarifikasi ini, kami berharap kebingungan dan kesalahpahaman di masa depan dapat dihindari,โ ujar juru bicara IIUM. Pihak universitas juga menggarisbawahi bahwa larangan ini berlaku untuk semua bentuk diseminasi, baik langsung maupun tidak langsung, yang melibatkan nama Solehah.
Keputusan IIUM ini menjadi sorotan tidak hanya di Malaysia, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di tengah maraknya fenomena akademisi yang memproduksi teori kontroversial demi popularitas, langkah IIUM dipandang sebagai preseden penting. Menurut pengamat pendidikan tinggi, keputusan ini mengirim sinyal kuat bahwa institusi akademik tidak akan mentoleransi klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, meski penanganannya seringkali tidak setegas ini. Hal ini memicu pertanyaan: apakah perguruan tinggi di Indonesia perlu mengadopsi sikap serupa untuk menjaga marwah keilmuan?
Langkah IIUM ini juga menyoroti pentingnya etika akademik di era digital, di mana pernyataan seorang akademisi dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi opini publik. Dengan mencabut gelar dan melarang penggunaan atribut, IIUM berharap dapat memutus rantai penyebaran klaim yang tidak bertanggung jawab. Namun, keputusan ini juga memicu perdebatan tentang kebebasan akademik. Sebagian pihak menilai bahwa pemecatan dan larangan ini terlalu keras, sementara yang lain mendukung sebagai langkah berani untuk menjaga kredibilitas.
Ke depan, kasus ini akan menjadi bahan kajian menarik bagi pengelola perguruan tinggi di Indonesia. Apakah akan ada regulasi yang lebih ketat terhadap akademisi yang melanggar etika keilmuan? Atau justru kebebasan berpendapat harus tetap dijunjung tinggi dengan mekanisme verifikasi yang lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan ini relevan untuk memastikan bahwa dunia akademik tetap menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, bukan panggung sensasi.



