Remaja Superman di Kalimantan: Melawan Kebakaran Hutan, Menginspirasi Negeri
Baca dalam 60 detik
- Seorang pelajar berusia 17 tahun di Palangkaraya memakai kostum Superman saat membantu memadamkan kebakaran lahan gambut, aksinya viral dan menuai pujian.
- Kebakaran hutan di Kalimantan sepanjang Januari–Juli 2026 telah menghanguskan lebih dari 200.000 hektare, tiga kali luas Jakarta, dan asapnya mencapai Malaysia.
- Aksi heroik Rudiyansyah menyoroti krisis lingkungan yang diperparah El Nino dan perubahan iklim, serta pentingnya peran warga dalam penanggulangan bencana.

Di tengah kepungan asap dan tanah gersang yang menghitam, seorang remaja di Kalimantan Tengah memilih tampil beda: mengenakan kostum Superman lengkap dengan jubah merah, ia menyusuri lahan gambut yang masih membara untuk membantu memadamkan api. Aksi Rudiyansyah, pelajar 17 tahun di Palangkaraya, bukan sekadar atraksi—ia menjadi simbol perjuangan warga melawan kebakaran hutan yang tahun ini mencapai tingkat terparah dalam beberapa musim terakhir.
Kebakaran yang melanda Pulau Borneo, wilayah yang berbagi dengan Malaysia dan Brunei, telah menghanguskan lebih dari 200.000 hektare lahan antara Januari dan Juli—luas yang tiga kali lipat ukuran Jakarta. Pemerintah Indonesia mengerahkan tambahan personel militer dan pesawat untuk menjinakkan api serta mengurangi kabut asap yang sudah menyebar hingga ke negara tetangga. Namun, di lapangan, keterbatasan air menjadi musuh utama: sumur-sumur kering dan sumber air menyusut akibat kemarau panjang.
Rudiyansyah, yang akrab disapa dengan satu nama, telah bergabung dengan kelompok pemadam kebakaran sukarela yang didirikan ayahnya sejak 2023. Tahun ini, ia memutuskan memakai kostum superhero kesayangannya saat bertugas—keputusan yang awalnya hanya untuk bersenang-senang, tetapi videonya saat menyemprotkan air ke dedaunan telah ditonton jutaan kali. Menteri Kehutanan pun memberinya julukan "pahlawan hutan". "Sejujurnya saya sangat bahagia bisa membantu warga, meski sangat melelahkan," ujarnya kepada AFP, Minggu (23/8), masih mengenakan jubahnya.
Ayahnya, Mulyadi, mengungkapkan bahwa kabut asap tahun ini adalah yang terburuk sejak kelompoknya berdiri pada 2020. "Di rumah, dia anak biasa. Tapi saat melihat saya pergi, dia bertanya, 'Ayah mau padamkan api? Aku ikut,'" cerita Mulyadi. Ia menambahkan, kurangnya air menjadi tantangan terbesar, dengan sumur dan sumber air mengering saat kekeringan.
Fenomena El Nino yang memicu kekeringan memang meningkatkan risiko kebakaran di Indonesia. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia memperparah dampaknya—lautan dan atmosfer yang lebih hangat menyediakan energi dan kelembapan ekstra bagi cuaca ekstrem. Data pemerintah menunjukkan luas kebakaran tahun ini sudah melampaui musim El Nino sebelumnya pada 2019 dan 2023.
Bagi Indonesia, kebakaran hutan bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat dan ekonomi. Kabut asap yang tebal mengganggu aktivitas warga, memicu gangguan pernapasan, dan merugikan sektor pertanian serta pariwisata. Aksi Rudiyansyah mengingatkan bahwa di tengah keterbatasan negara, peran warga sangat vital. Ia sendiri bercita-cita menjadi penjaga hutan suatu hari nanti.
"Kepada para relawan dan petugas pemadam di seluruh Indonesia, tetap semangat dalam melawan api," seru Rudiyansyah. Pertanyaannya, apakah semangat individual seperti ini cukup untuk mengatasi krisis yang berulang? Atau justru menjadi panggilan bagi pemerintah untuk memperkuat pencegahan dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan? Musim kemarau belum berakhir, dan langit Kalimantan masih menunggu jawaban.



