Pascakebakaran Sade: Dinas Kebudayaan NTB Bergerak Inventarisasi Artefak dan Tradisi Lisan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah NTB memulai pendataan menyeluruh terhadap benda budaya dan tradisi lisan di Kampung Adat Sade pascakebakaran, sebagai fondasi rekonstruksi.
- Insiden ini memicu rencana pemasangan sistem peringatan dini dan pelatihan mitigasi bencana bagi seluruh desa adat di NTB.
- Langkah dokumentasi dan pembuatan replika, terutama peralatan tenun, menjadi kunci agar warisan budaya Sade tidak punah jika bencana serupa terulang.

Langkah penyelamatan warisan budaya di Nusa Tenggara Barat memasuki babak baru. Dinas Kebudayaan provinsi mulai menginventarisasi artefak dan elemen budaya yang selamat dari amukan api di Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, sebuah kawasan yang selama ini menjadi ikon pariwisata dan permadani budaya Sasak di mata wisatawan mancanegara.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, menegaskan bahwa proses pendataan ini bukan sekadar menghitung kerugian material. Lebih dari itu, timnya tengah mendokumentasikan pengetahuan, cerita rakyat, dan tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat adat. "Yang terpenting adalah menyelamatkan artefak kebudayaan, termasuk cerita-cerita warga setempat," ujarnya saat meninjau lokasi kebakaran, Minggu (26/1).
Inventarisasi ini menjadi pijakan awal untuk mengukur tingkat kerusakan, baik pada benda budaya berwujud maupun komponen tak benda yang selama ini menjadi denyut identitas Sade. Hasil pendataan akan menjadi bahan bagi penyusunan rencana rekonstruksi dan penataan ulang kawasan, yang melibatkan Balai Pelestarian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta para tetua adat setempat.
Ihwan mengajak masyarakat selaku pemilik kebudayaan untuk bersama-sama merancang masa depan Sade. "Kami mengajak masyarakat sebagai pemilik kebudayaan untuk berpikir bersama bagaimana langkah supaya Kampung Adat Sade tidak hilang mengingat kawasan ini terkenal secara internasional," kata dia. Seruan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa jika tidak ditangani serius, Sade bisa kehilangan daya tarik budayanya yang selama ini menjadi magnet wisatawan.
Peristiwa ini merupakan alarm kedua bagi NTB setelah kebakaran serupa melanda Kampung Adat Bayan beberapa bulan sebelumnya. Dua kejadian beruntun ini mendorong pemerintah untuk memperketat kesiapsiagaan di seluruh desa adat. Ihwan menekankan perlunya pemasangan sistem pemadam kebakaran dan early warning system di setiap kampung adat, serta pembentukan aparatur desa yang terlatih khusus dalam mitigasi bencana. "Semua desa adat di Nusa Tenggara Barat perlu dilengkapi sistem pemadam kebakaran atau early warning system. Desa adat juga harus memiliki aparatur yang dilatih khusus untuk mitigasi bencana," tegasnya.
Selain inventarisasi, Dinas Kebudayaan NTB mendorong dokumentasi menyeluruh terhadap koleksi dan peralatan tenun yang menjadi ciri khas Sade. Ihwan menilai pembuatan replika artefak sangat penting agar warisan budaya tetap dapat dipulihkan meski terjadi bencana serupa di masa depan. "Dusun ini terkenal dengan tenun, maka barang-barang yang berkaitan dengan tenun perlu dilakukan dokumentasi. Kemudian ditiru (buat replika) supaya kalau ada kebakaran seperti ini warga masih memiliki alat lain," jelasnya.
Langkah ini sejalan dengan praktik pelestarian budaya di berbagai daerah, di mana dokumentasi digital dan replika fisik menjadi jaring pengaman ketika benda asli rusak. Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada pemulihan fisik, melainkan menjaga keberlanjutan tradisi menenun yang diwariskan secara turun-temurun. Jika generasi muda tidak lagi tertarik, replika secanggih apa pun tidak akan mampu menghidupkan kembali denyut budaya Sade.
Bagi Indonesia, kebakaran Sade menjadi pelajaran berharga tentang kerentanan warisan budaya di tengah ancaman bencana. Dengan semakin seringnya kejadian serupa, pertanyaan mendasar muncul: akankah pemerintah daerah di seluruh Indonesia segera mengadopsi standar mitigasi kebencanaan untuk kawasan cagar budaya? Atau justru baru bertindak setelah satu lagi situs berharga hangus dilalap api?



