Jalur Dagang Nepal-China Lumpuh Akibat Longsor: Biaya Logistik Melonjak 30%
Baca dalam 60 detik
- Longsor dan banjir tahunan kembali memutus jalur perdagangan utama Nepal ke China, memaksa pengalihan rute yang menaikkan biaya kirim hingga tiga kali lipat.
- Kegagalan infrastruktur dan minimnya investasi selama bertahun-tahun menjadi akar masalah, bukan sekadar kondisi geografis yang ekstrem.
- Ketimpangan neraca dagang Nepal-China yang sangat timpang semakin diperparah, dengan impor mencapai Rs93 miliar sementara ekspor kurang dari Rs2 miliar.

Setiap musim hujan, longsor dan banjir kembali melumpuhkan jalur perdagangan utara Nepal, mengubur harapan akan kelancaran arus barang dengan China. Tahun ini, gangguan itu datang tepat saat Nepal memasuki puncak musim festival, memaksa para pedagang dan konsumen menanggung biaya yang terus membengkak.
Dua jalur darat utama Nepal menuju China, Tatopani dan Rasuwagadhi, memang berada di medan yang terjal dan rawan longsor. Namun, para ahli menilai gangguan yang berulang hampir satu dekade ini bukan semata soal geografi. Kalpana Adhikari, Sekretaris Jenderal Nepal Geotechnical Society, menyoroti lemahnya perencanaan dan investasi. "Insinyur hanya mendesain jalan, mengabaikan geografi di sekitarnya," ujarnya. Investigasi kemiringan lereng dan langkah perlindungan kerap terlewat dalam konstruksi.
Dampaknya nyata. Pos pemeriksaan Tatopani yang beroperasi sejak 1967 kini ditutup total akibat longsor di ruas Tatopani-Bahrabise. Jalan sepanjang Araniko Highway yang membelah lereng curam dengan Sungai Bhotekoshi di bawahnya, menurut Krishna Prasad Sharma, pejabat distrik Sindhupalchok, memang sangat rentan. Kondisi ini diperparah gempa bumi 2015 yang belum pulih sepenuhnya; ekspor ke China melalui jalur ini bahkan belum pernah kembali normal karena China tidak membuka kembali lintasan untuk kargo keluar.
Penutupan ini memaksa para pedagang mengalihkan barang melalui Kerung di sisi China. Konsekuensinya, biaya angkut satu konsinyasi ke Kathmandu melonjak dari sekitar Rs90.000 menjadi Rs300.000. "Barang musim panas bisa tiba di musim dingin," keluh Rajendra Sangraula, presiden Nepal Freight Forwarders Association. Keterlambatan juga memicu biaya penahanan kontainer yang menumpuk.
Di Rasuwagadhi, situasi serupa terjadi. Jalan Syabrubesi-Rasuwagadhi yang dibuka tentara Nepal pada 2018, seharusnya ditingkatkan berdasarkan perjanjian implementasi Nepal-China 2019 dengan bantuan hibah China. Namun, pekerjaan itu mangkrak. Banjir bandang di Sungai Lhende tahun lalu menyapu Jembatan Miteri yang menghubungkan kedua negara dan merusak halaman pabean. Jembatan Bailey pengganti kini beroperasi, tetapi kapasitasnya hanya separuh. Arus kargo harian turun dari 60-70 kontainer menjadi 30-40. Pos Pemeriksaan Terpadu Rasuwagadhi pun baru 60% selesai, sehingga operasi bea cukai masih berlangsung di fasilitas darurat.
Gangguan ini tidak hanya soal infrastruktur fisik. Posh Raj Pandey, ketua emeritus South Asia Watch on Trade, Economics and Environment, menilai akar masalahnya juga diplomatik. "Negosiasi diplomatik perlu dilakukan untuk jalur perdagangan yang efisien," tegasnya. Selama ini, diplomasi dagang Nepal lebih fokus ke India, sementara jalur utara kurang diprioritaskan. Selain itu, hambatan non-tarif untuk ekspor ke India mendapat perhatian politik besar, tetapi untuk China nyaris diabaikan. Rabi Shankar Sainju, pakar perdagangan, menambahkan bahwa perjanjian perdagangan dan pembayaran yang ada sudah usang dan perlu ditinjau ulang. Perjanjian transit 2018 yang memberi akses ke pelabuhan China pun belum diimplementasikan penuh karena prosedur operasi standar belum disepakati.
Bagi Indonesia, kisah Nepal ini menjadi cermin pentingnya investasi infrastruktur dan diplomasi dagang yang seimbang. Ketergantungan pada satu mitra dagang dan lemahnya infrastruktur pendukung ekspor, seperti laboratorium pengujian dan karantina, bisa membuat negara rentan terhadap gangguan eksternal. Pertanyaan yang menggantung: akankah Nepal, atau negara lain dengan masalah serupa, belajar dari pengalaman ini untuk membangun ketahanan ekonomi yang lebih kokoh?



