Matthew Lillard: Bertahan di Hollywood yang Tak Pernah 'Memahami' Saya
Baca dalam 60 detik
- Matthew Lillard mengaku tetap harus bersaing keras untuk mendapatkan peran meski telah membintangi waralaba besar seperti Scream dan Five Nights at Freddy's.
- Aktor 56 tahun itu menilai industri film lebih mengutamakan penampilan idaman ketimbang bakat dan daya tarik unik yang ia miliki.
- Kendati demikian, Lillard kini menerima kenyataan dan bersyukur atas karier yang telah ia bangun selama tiga dekade.

Aktor Matthew Lillard mengungkapkan bahwa dirinya masih harus berjuang ekstra untuk mendapatkan peran di Hollywood, bahkan setelah lebih dari 30 tahun berkarier dan terlibat dalam sejumlah waralaba sukses. Dalam wawancara di podcast I've Never Said This Before bersama Tommy DiDario, Lillard menyatakan bahwa industri film tidak pernah benar-benar memahami posisinya sebagai aktor.
Lillard, yang dikenal luas sebagai Stu Macher dalam Scream (1996), Shaggy di Scooby-Doo (2002) dan sekuelnya, serta William Afton dalam Five Nights at Freddy's (2023), menilai bahwa Hollywood lebih mencari sosok "bintang film" dengan penampilan menawan dan mudah dikategorikan. "Mereka ingin memasukkan Anda ke dalam gelembung atau kotak tertentu. Saya tidak pernah cocok dengan kotak itu," ujarnya.
Menurut Lillard, karakteristiknya yang unik—sedikit eksentrik, bertubuh tinggi kurus, penuh energi, bisa komedi sekaligus drama—membuat studio bingung menempatkannya. "Mereka merasa bisa menggantikan saya. Saya masih berjuang untuk pekerjaan sekarang," tambahnya. Ia juga menyoroti bahwa daya tariknya terhadap penonton muda dan tua sering diabaikan. "Di konvensi, antrean saya sangat panjang, dan orang-orang menyukai saya. Tapi tidak ada yang menyamakan saya dengan kebesaran. Mereka menyamakan orang lain dengan kebesaran," katanya.
Lillard juga mengungkapkan rasa frustrasinya karena tidak pernah mendapatkan kesempatan menjadi pemeran utama dalam film berbudget besar. "Mengapa saya tidak pernah mendapat kesempatan menjadi orang di puncak film senilai $20 juta? Bukan karena saya tidak populer atau tidak punya kemampuan. Tapi karena mereka tidak memahami saya," tuturnya. Ia mengakui bahwa sifat kompetitifnya dulu membuatnya sulit menerima kenyataan tersebut, terutama saat tinggal bersama Paul Rudd. "Saya selalu berada dalam bayang-bayang Paul Rudd, tidak peduli seberapa terkenal saya. Dia 10 kali lebih terkenal dari saya," kenangnya.
Meski demikian, Lillard kini telah berdamai dengan situasi itu. Ia mengaku tidak lagi mengeluh dan bersyukur atas pencapaiannya. "Saya tidak sedang mengeluh. Saya hanya bersyukur bisa bekerja sebanyak ini," pungkasnya. Pernyataan ini menyoroti realitas pahit industri hiburan yang sering kali mengabaikan aktor-aktor berbakat karena tidak sesuai dengan cetakan bintang konvensional.
Bagi industri film Indonesia, kisah Lillard menjadi cermin bahwa tantangan serupa juga dihadapi aktor lokal yang tidak masuk dalam standar komersial. Namun, dengan semakin beragamnya platform streaming dan selera penonton, peluang bagi talenta non-konvensional untuk bersinar semakin terbuka. Akankah Hollywood—dan industri film global—mulai menghargai keunikan daripada sekadar penampilan? Waktu yang akan menjawab, tetapi Lillard telah membuktikan bahwa bertahan dengan keaslian diri adalah kemenangan tersendiri.



