IKEA Luncurkan Marketplace Barang Bekas di Inggris, Gratis Sampai 2027
Baca dalam 60 detik
- IKEA resmi mengoperasikan platform jual-beli furnitur bekas di Inggris setelah sebelumnya sukses di tujuh negara Eropa.
- Selama periode uji coba, tidak ada biaya komisi bagi pembeli maupun penjual, tetapi mulai 2027 pembeli akan dikenai biaya perlindungan 5 persen.
- Langkah ini berpotensi menggerus pangsa pasar Facebook Marketplace, eBay, dan Vinted yang sudah lebih dulu menerapkan berbagai skema biaya.

IKEA memperluas bisnis ritel sirkularnya dengan meluncurkan platform khusus jual-beli produk bekas di Inggris. Langkah ini menandai babak baru persaingan di pasar barang preloved yang selama ini dikuasai pemain seperti Facebook Marketplace, eBay, dan Vinted. Bagi konsumen Inggris, kehadiran layanan ini menawarkan alternatif tanpa biaya tambahanโsetidaknya untuk sementara.
Platform yang menyandang nama IKEA Second-hand Marketplace ini memungkinkan pengguna untuk mengunggah barang-barang IKEA yang masih layak pakai, mulai dari furnitur, lampu, perangkat smart home, hingga elektronik rumah tangga. Namun, ada pengecualian untuk kasur, peralatan besar, dan produk makanan. Prosesnya terbilang sederhana: penjual dapat mengunggah foto, mencari riwayat pembelian IKEA mereka, atau memasukkan data secara manual. Sistem akan otomatis menarik informasi seperti dimensi produk, sehingga meminimalkan kesalahan input.
Yang menarik, IKEA menawarkan insentif bagi penjual yang memilih pembayaran dalam bentuk kartu refund digital. Mereka akan mendapatkan tambahan nilai 15 persen dari harga jual. Opsi pembayaran tunai juga tersedia, tetapi tanpa bonus tersebut. Skema ini dinilai efektif untuk mendorong partisipasi penjual sekaligus memperkuat ekosistem loyalitas IKEA Family.
Kebijakan bebas komisi di Inggris hingga akhir 2026 menjadi daya tarik utama. Namun, mulai 1 Januari 2027, pembeli akan dikenai buyer protection fee sebesar 5 persen untuk menutupi biaya transaksi dan dukungan pelanggan. Meski demikian, periode gratis ini menjadi kesempatan emas bagi pengguna untuk mencoba platform tanpa risiko finansial.
"Ini adalah langkah strategis IKEA untuk masuk ke pasar ekonomi sirkular yang selama ini dikuasai platform pihak ketiga," ujar seorang analis ritel yang enggan disebutkan namanya. "Dengan basis pelanggan loyal dan data pembelian yang dimiliki, IKEA punya posisi unik untuk menyaingi pemain lama."
Dibandingkan kompetitor, struktur biaya IKEA terbilang kompetitif. Vinted dan eBay sudah lebih dulu membebankan biaya perlindungan pembeli, sementara Facebook Marketplace memungut biaya penjualan untuk pengiriman. Keputusan IKEA untuk menggratiskan transaksi di awal dapat mempercepat adopsi pengguna, terutama di kalangan anggota IKEA Family yang sudah terbiasa dengan program loyalitas perusahaan.
Meski demikian, ada syarat ketat: barang yang dijual harus dalam kondisi layak pakai dan merupakan produk asli IKEA. Furnitur yang dimodifikasi atau tidak resmi tidak akan diterima. Pembayaran kepada penjual baru akan dilepas 48 jam setelah pembeli mengonfirmasi penerimaan barang, sebuah mekanisme yang mirip dengan sistem escrow untuk mengurangi risiko sengketa.
Bagi Indonesia, kehadiran platform semacam ini bisa menjadi sinyal bagi pemain lokal seperti Tokopedia, Shopee, atau bahkan IKEA Indonesia untuk menggarap ceruk pasar barang bekas yang selama ini belum tergarap serius. Dengan populasi kelas menengah yang besar dan kesadaran lingkungan yang meningkat, potensi ekonomi sirkular di Tanah Air terbuka lebar. Namun, tantangan utama tetap pada logistik dan kepercayaan transaksi antarindividu.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah model bebas komisi ini akan bertahan atau justru menjadi celah bagi IKEA untuk mengerek pendapatan dari biaya layanan. Jika platform ini sukses di Inggris, bukan tidak mungkin IKEA akan memperluasnya ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Akankah raksasa furnitur asal Swedia ini mampu mengubah kebiasaan konsumen dalam membeli barang bekas?



