Anna Faris Ungkap Perdebatan Soal Agama dan Aborsi dengan Putranya, Jack
Baca dalam 60 detik
- Aktris Anna Faris mengaku putranya yang berusia 14 tahun, Jack, memintanya untuk menerima Yesus, memicu diskusi panjang tentang agama dan kemunafikan.
- Faris, yang tidak dibesarkan secara religius, kerap menantang pandangan anaknya, termasuk soal aborsi dan pendeta kaya raya.
- Percakapan ini muncul di tengah kembalinya Faris ke layar lebar dan sorotan pada perbedaan keyakinan dengan mantan suaminya, Chris Pratt.

Anna Faris, aktris yang dikenal lewat film komedi Scary Movie, baru-baru ini membuka perbincangan hangat tentang dinamika keluarga dan perbedaan keyakinan. Dalam sebuah podcast, ia mengungkapkan bahwa putra remajanya, Jack, yang kini berusia 14 tahun, secara terbuka memintanya untuk menerima Yesus Kristus. Permintaan itu, menurut Faris, menjadi pintu masuk bagi serangkaian diskusi panjang yang melibatkan isu-isu pelik seperti aborsi, kemunafikan institusi gereja, dan makna iman di tengah keluarga yang terpecah secara spiritual.
Faris, yang berbagi hak asuh Jack dengan mantan suaminya, Chris Pratt, mengaku dirinya tidak tumbuh dalam lingkungan religius. Namun, sang anak justru menunjukkan ketertarikan mendalam pada Kekristenan, sebuah perkembangan yang ia akui kerap ia tantang. “Saya tidak tumbuh dengan agama,” ujarnya dalam wawancara dengan Chelsea Handler di podcast Dear Chelsea. Meski demikian, ia mengaku butuh “banyak percakapan panjang” sebelum ia sendiri bersedia memeluk keyakinan tertentu.
Diskusi antara ibu dan anak itu tidak hanya berhenti pada ajakan menerima Yesus. Faris juga mengaku kerap menguji logika anaknya soal isu-isu sosial yang terkait agama. Salah satu contohnya, ia pernah bertanya kepada Jack apakah menjadi “pro-life” adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berada dalam posisi nyaman. Menariknya, Jack menjawab dengan ragu, “Mungkin.” Faris juga mengungkapkan kekagumannya karena Jack mampu mengkritisi para pendeta bermegah yang ia sebut sebagai “penipu”. “Dia bilang, ‘Oh, pendeta megah itu yang terburuk’,” kenang Faris, seraya menambahkan bahwa ia senang anaknya mampu mengenali kemunafikan dalam beragama.
Konteks ini menjadi menarik karena Chris Pratt, ayah Jack, dikenal sebagai salah satu aktor Hollywood yang paling vokal tentang iman Kristennya. Pratt, yang membintangi Guardians of the Galaxy dan Parks and Recreation, kerap berbicara tentang bagaimana kelahiran prematur Jack pada 2012 menjadi titik balik spiritualnya. Dalam wawancara dengan Christian Post pada Maret 2025, Pratt menuturkan, “Dia punya banyak masalah saat itu. Saya berdoa keras kepada Tuhan. Saya membuat kesepakatan dengan Tuhan lagi, ‘Maafkan saya, Tuhan, saya di sini lagi memohon rahmat-Mu’.” Pratt menambahkan, “Dia benar-benar menyelamatkan anak saya, dan itulah momen iman saya terkunci.”
Perbedaan pendekatan antara Faris dan Pratt dalam hal spiritualitas ini menjadi sorotan, terutama karena Jack berada di tengah-tengah. Faris, yang kini menikah dengan sinematografer Michael Barrett, tampak memilih pendekatan dialogis dan kritis, sementara Pratt lebih pada pengalaman personal dan kepasrahan. Para pengamat budaya pop menilai dinamika ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam cara keluarga modern menavigasi perbedaan keyakinan, terutama di tengah meningkatnya polarisasi isu agama di ruang publik.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini relevan dengan diskusi tentang toleransi beragama dalam keluarga. Di negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, perbedaan keyakinan antaranggota keluarga sering kali menjadi ujian tersendiri. Namun, pendekatan Faris yang memilih berdialog dan mengajak anaknya berpikir kritis, alih-alih memaksakan keyakinan, bisa menjadi contoh bagaimana perbedaan justru bisa menjadi ruang belajar bersama. Pertanyaannya, mampukah kita meniru keberanian Faris untuk membuka ruang diskusi yang nyaman bagi anak-anak kita, tanpa merasa terancam oleh perbedaan itu sendiri?
Di tengah hiruk-pikuk kembalinya Faris ke layar lebar, percakapan pribadinya dengan Jack justru menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap Hollywood, ada perjuangan manusiawi yang universal: bagaimana merawat hubungan dengan orang yang kita cintai ketika keyakinan kita berbeda. Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Faris, jawabannya bukanlah menghindar, melainkan terus bertanya, mendengar, dan sesekali membiarkan diri kita diguncang oleh pertanyaan-pertanyaan sulit dari anak-anak kita.



