Menhut Kerahkan Armada Water Bombing Tambahan ke Kalsel: Titik Panas Kembali Meningkat Jadi 44
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menambah satu armada water bombing dan satu helikopter dari Riau untuk memperkuat pemadaman karhutla di Kalimantan Selatan.
- Jumlah hotspot di Kalsel sempat turun drastis dari 157 menjadi 11 pada Sabtu malam, namun kembali naik menjadi 44 pada Minggu pagi, menunjukkan dinamika yang fluktuatif.
- Operasi terpadu melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, dan BPBD, dengan fokus di Kabupaten Banjar, Banjarbaru, HSS, dan Tapin.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memastikan penguatan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan dengan menambah satu armada water bombing yang tiba Minggu (23/8) siang, di tengah meningkatnya kembali jumlah titik panas dari 11 menjadi 44 dalam kurun waktu kurang dari sehari. Langkah ini diambil setelah pemerintah mengerahkan pasukan darat dan dukungan udara, menyusul fluktuasi hotspot yang tajam di wilayah tersebut.
Dalam peninjauan langsung di lahan terbakar Penggalaman, Kabupaten Banjar, Raja Juli menegaskan bahwa penanganan karhutla diarahkan berdasarkan pemantauan titik panas terkini. "Penanganan karhutla diarahkan sesuai dengan titik lokasi berdasarkan pemantauan perkembangan titik panas di sejumlah wilayah Kalsel," ujarnya di Martapura, Minggu. Operasi dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, serta dukungan water bombing dari BNPB.
Keputusan menambah armada udara ini tidak lepas dari evaluasi data yang menunjukkan penurunan signifikan hotspot pada Sabtu (22/8) malam, dari 157 titik pada 21 Agustus menjadi hanya 11 titik pada pukul 22.00 Wita. Namun, pemantauan Minggu pagi pukul 06.00 Wita mencatat lonjakan kembali menjadi 44 titik yang tersebar di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin. Fluktuasi ini, menurut pengamat lingkungan, mengindikasikan bahwa upaya pemadaman yang ada belum sepenuhnya mampu menekan potensi kebakaran baru, terutama di lahan gambut yang sulit dipadamkan.
Untuk mempercepat penanganan, BNPB akan mengirimkan satu helikopter tambahan dari Riau. Pengalihan ini dimungkinkan karena kondisi karhutla di Riau dinilai lebih terkendali. "Riau alhamdulillah angkanya lebih rendah lagi, jadi kita pinjam dulu sementara dari teman-teman untuk penambahan water bombing di Kalsel," kata Raja Juli. Kolaborasi antarprovinsi ini menjadi contoh nyata solidaritas dalam menghadapi bencana asap yang kerap melanda Indonesia, sekaligus menyoroti pentingnya manajemen sumber daya yang tangkas.
Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, penguatan operasi ini adalah kabar yang dinantikan. Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya ancaman ekologis, tetapi juga ekonomi dan kesehatan. Kabut asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas penerbangan, memicu penyakit pernapasan, dan merugikan sektor perkebunan serta pariwisata. Kehadiran tambahan armada water bombing dan helikopter diharapkan mampu memadamkan api lebih cepat sebelum meluas, melindungi pemukiman dan lahan produktif.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan tidak hanya pemadaman, tetapi juga pencegahan jangka panjang. Penguatan operasi ini harus dibarengi dengan penegakan hukum terhadap pembakar lahan, serta edukasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla. Pertanyaannya, akankah langkah responsif ini diikuti dengan strategi permanen yang mampu memutus siklus kebakaran tahunan? Atau akankah Kalsel kembali menjadi langganan bencana asap di musim kemarau mendatang?



