Gempa 5,9 Guncang Tokyo: 37 Luka, Transportasi Terganggu, dan Risiko Longsor Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 5,9 SR melanda dekat Tokyo pada Minggu dini hari, melukai puluhan orang dan melumpuhkan sementara layanan kereta regional.
- Badan Meteorologi Jepang mencatat episentrum di selatan Prefektur Ibaraki dengan kedalaman 68 km, sementara USGS memperkirakan magnitudo 5,8; tidak ada ancaman tsunami.
- Otoritas setempat mewaspadai potensi longsor susulan mengingat tanah telah jenuh akibat hujan deras sehari sebelumnya, serta kemungkinan gempa susulan dalam beberapa hari ke depan.

Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang kawasan metropolitan Tokyo pada Minggu (23/8) dini hari, mencederai sedikitnya 37 orang dan menghentikan sementara layanan kereta regional di ibu kota Jepang. Guncangan keras yang terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat itu langsung memicu sistem peringatan dini nasional, menyalakan sirene di jalan-jalan dan mengirim notifikasi ke ponsel warga di wilayah terdampak.
Menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA), episentrum gempa terletak di bagian selatan Prefektur Ibaraki, tidak jauh dari Tokyo, dengan kedalaman 68 kilometer. Meski getarannya cukup kuat, JMA memastikan tidak ada potensi tsunami. Sementara itu, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat magnitudo sedikit lebih rendah, yakni 5,8.
Dari laporan Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang, sebagian besar korban mengalami luka ringan. Kasus paling serius menimpa seorang perempuan berusia 80-an di Yokohama, selatan Tokyo, yang terjatuh saat mencoba turun dari tempat tidur dan mengalami cedera pinggul. Insiden ini menggambarkan bagaimana gempa kerap memicu cedera tidak langsung, terutama pada kelompok lanjut usia.
Guncangan yang terjadi pada dini hari itu juga mengganggu operasional kereta regional di Tokyo pada Minggu pagi, seperti diungkapkan East Japan Railway Company. Selain itu, sebuah bangunan di Saitama, utara Tokyo, dilaporkan mengalami kerusakan ringan. Otoritas setempat masih menyelidiki kemungkinan hubungan antara gempa dan pecahnya pipa air di sebuah permukiman di ibu kota, sebagaimana diberitakan Kyodo News.
Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan akan meningkatnya risiko tanah longsor di wilayah sekitar episentrum. Sehari sebelumnya, kawasan tersebut diguyur hujan deras yang melonggarkan tanah, sehingga guncangan susulan berpotensi memicu pergerakan tanah. JMA juga mengingatkan kemungkinan terjadinya gempa susulan berkekuatan signifikan dalam beberapa hari ke depan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, terutama di daerah perkotaan padat penduduk. Meski Jepang memiliki infrastruktur dan sistem peringatan dini yang canggih, kejadian ini menunjukkan bahwa cedera dan gangguan layanan tetap mungkin terjadi. Indonesia, yang berada di Cincin Api Pasifik, menghadapi tantangan serupa dalam mitigasi bencana, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana negara-negara rawan gempa, termasuk Indonesia, dapat terus meningkatkan ketahanan infrastruktur dan kesadaran masyarakat. Apakah sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi yang ada sudah cukup efektif untuk melindungi kelompok rentan seperti lansia? Peristiwa di Tokyo ini menjadi studi kasus penting untuk mengevaluasi dan memperkuat strategi mitigasi bencana di kawasan yang sama-sama rentan.



