Lukisan Gua Sulawesi Berusia 67.800 Tahun: Jejak Seni Tertua Homo Sapiens yang Mengubah Peta Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Penanggalan uranium membuktikan cap tangan di Liang Metanduno, Sulawesi Tenggara, berumur 67.800 tahun, menggeser rekor seni tertua dari Spanyol.
- Temuan ini menegaskan rute migrasi utara nenek moyang Aborigin Australia melalui Sulawesi, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai episentrum kreativitas prasejarah.
- Penelitian lanjutan di gua-gua Indonesia berpotensi mengungkap tradisi seni naratif yang lebih tua dari Eropa, membuka babak baru arkeologi Asia Tenggara.

Sebuah cap tangan pudar di dinding gua karst Sulawesi Tenggara ternyata menyimpan jejak kreativitas manusia tertua yang pernah tercatat: setidaknya 67.800 tahun. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature edisi 21 Januari 2026 ini tidak hanya menggeser rekor seni cadas dunia dari Spanyol, tetapi juga menguatkan teori bahwa gelombang migrasi manusia purba ke Australia melewati kepulauan Indonesia bagian timur.
Tim peneliti gabungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Griffith, Australia, menghabiskan waktu sejak 2019 untuk menyisir 44 situs gua di Sulawesi Tenggara. Mereka menemukan 14 lokasi yang belum terdokumentasi, termasuk Liang Metanduno. Di situlah, pigmen merah berukuran 14 x 10 sentimeter yang nyaris memudar—hanya menyisakan sebagian jari dan telapak tangan—menjadi kunci pertanyaan besar tentang asal-usul seni manusia.
Dengan metode penanggalan seri uranium ablasi laser beresolusi tinggi, para ilmuwan mengukur lapisan kalsium karbonat yang menutupi lukisan. Hasilnya mengejutkan: usia cap tangan itu melampaui 67.800 tahun, lebih tua sekitar 1.100 tahun dibanding seni cadas Neanderthal di Spanyol. Yang lebih menarik, bentuk jari-jari yang meruncing menyerupai cakar hewan mengindikasikan adanya pemikiran simbolik yang kompleks, bukan sekadar coretan acak.
Maxime Aubert, profesor arkeologi dari Universitas Griffith, menilai modifikasi bentuk tangan ini mungkin berkaitan dengan kepercayaan spiritual dan hubungan manusia-hewan pada masa itu. “Sulawesi adalah rumah budaya seni terkaya dan paling tua di dunia,” ujarnya, dikutip dari ScienceDaily. Sementara Adam Brumm, peneliti ARCHE, menambahkan bahwa gambar semacam ini bisa melambangkan gagasan keterkaitan erat antara manusia dan hewan, bahkan mungkin representasi makhluk setengah manusia setengah hewan.
Temuan ini juga menjawab perdebatan panjang tentang rute migrasi manusia menuju Sahul—daratan purba yang menghubungkan Papua, Australia, dan Tasmania. Selama ini ada dua jalur yang diperdebatkan: utara melalui Kalimantan-Sulawesi-Maluku-Papua, dan selatan melalui Jawa-Timor-Australia barat laut. Adhi Agus Oktaviana, peneliti BRIN yang menjadi penulis utama laporan, menyatakan bahwa lukisan di Sulawesi sangat mungkin dibuat oleh populasi yang kemudian menyebar hingga Australia. “Penemuan ini sangat mendukung gagasan bahwa leluhur orang Australia pertama sudah berada di Sahul sekitar 65 ribu tahun lalu,” katanya.
Bagi Indonesia, temuan ini bukan sekadar kebanggaan arkeologis. Ia menegaskan bahwa Nusantara adalah pusat peradaban seni dunia, jauh sebelum Eropa mengenal Lascaux atau Chauvet. Sebelumnya, pada 2024, tim yang sama telah mengungkap lukisan naratif tertua di dunia—tiga figur mirip manusia berinteraksi dengan babi—berusia 51.200 tahun di gua Sulawesi Selatan. Temuan tersebut menggugurkan asumsi bahwa seni bercerita lahir di Eropa 30-40 ribu tahun lalu.
Namun, masih banyak teka-teki yang belum terjawab. Mengapa cap tangan dengan modifikasi cakar hanya ditemukan di Sulawesi? Apa makna di balik penggambaran therianthrope (makhluk setengah manusia setengah hewan) yang muncul jauh lebih awal di Asia Tenggara dibanding Eropa? Para peneliti menduga praktik ini adalah bagian dari tradisi budaya yang mapan, tetapi belum ada konsensus tentang fungsi sosialnya.
Ke depan, riset di gua-gua Indonesia bagian timur menjadi semakin krusial. Aubert menggarisbawahi pentingnya mengeksplorasi pulau-pulau antara Sulawesi dan Papua barat untuk melacak jejak migrasi dan evolusi seni manusia. Pertanyaannya, apakah masih ada lukisan yang lebih tua tersembunyi di balik stalaktit yang belum terjamah? Atau justru temuan ini akan memicu perlombaan penanggalan ulang situs-situs lain di kawasan Wallacea? Satu hal yang pasti: Sulawesi telah mengubah cara kita memandang sejarah kreativitas manusia—dan Indonesia memegang kuncinya.



