Ducati Akui Mandalika Bukan Lahan Ideal, Tardozzi: Kehilangan 10-12 Poin Masih Wajar
Baca dalam 60 detik
- Manajer tim Ducati Davide Tardozzi menilai kehilangan 10-12 poin di MotoGP Indonesia adalah hasil yang bisa diterima.
- Sirkuit Mandalika secara historis tidak cocok dengan karakter motor Ducati, sementara Marc Marquez belum pernah finis di sana.
- Ducati tetap membidik kemenangan meski bersaing ketat dengan Aprilia milik Jorge Martin yang unggul dua poin.

Ducati menghadapi MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika akhir pekan ini dengan ekspektasi yang tidak biasa. Manajer tim Davide Tardozzi secara terbuka menyatakan bahwa kehilangan 10 hingga 12 poin dari balapan di Lombok masih tergolong hasil yang dapat diterima, mengingat karakter trek yang dianggap kurang bersahabat dengan motor GP26.
Pernyataan itu muncul setelah kemenangan Marc Marquez di Jepang pekan lalu, yang memberinya poin maksimal. Namun Tardozzi menyadari bahwa performa di Motegi tidak serta-merta berlanjut di Mandalika. Dalam wawancara dengan TNT Sports, ia menyebut bahwa sirkuit Mandalika "tidak cocok dengan motor kami", dan memperkirakan motor lain—terutama Aprilia—akan lebih cepat.
Meski demikian, Tardozzi menegaskan bahwa Ducati tetap pergi ke Indonesia dengan target kemenangan. "Kami bisa menganggap kehilangan 10, 12 poin sebagai hal normal di Mandalika, tetapi kami pergi ke sana untuk menang," ujarnya, menghindari kesan menyerah sebelum bertanding.
Rekam jejak Marquez di Mandalika memang menjadi perhatian. Pembalap Spanyol itu belum sekalipun menyentuh garis finis di sirkuit pinggir pantai tersebut. Pada 2025, ia bahkan mengalami cedera serius akibat insiden dengan Marco Bezzecchi yang mengakhiri musimnya lebih awal. Kualifikasi tahun lalu pun berjalan buruk; Marquez hanya start dari posisi kesembilan.
Di sisi lain, Ducati punya catatan manis di Mandalika melalui pembalap lain. Fermin Aldeguer, yang saat itu membela Gresini dengan motor Ducati generasi lama, keluar sebagai pemenang pada 2025. Sebelumnya, Francesco Bagnaia menang pada 2023 dan Jorge Martin—kini membela Aprilia—menang untuk Pramac pada 2024. Namun, kemenangan-kemenangan itu tidak serta-merta menjamin Marquez akan nyaman dengan trek yang sama.
Yang menarik, Martin kini menjadi rival utama Marquez dalam perburuan gelar. Keduanya hanya terpaut dua poin di puncak klasemen. Jika Marquez kehilangan 10-12 poin di Indonesia, posisinya bisa tergeser. Tardozzi menyadari tekanan ini, tetapi ia menaruh kepercayaan pada kemampuan Marquez untuk memaksimalkan situasi sulit.
"Pada akhirnya, dia adalah seorang pemimpin. Dia tahu bagaimana mendorong orang-orang dan tahu bagaimana dibantu oleh mereka. Terkadang lebih baik fokus pada hal-hal baik daripada terus memikirkan masalah." — Davide Tardozzi
Pernyataan Tardozzi menyoroti dinamika psikologis dan strategi tim pabrikan Italia tersebut. Alih-alih menargetkan kemenangan mutlak, Ducati tampaknya siap mengelola ekspektasi dan meminimalkan kerugian. Pendekatan ini masuk akal mengingat ketatnya persaingan di musim yang menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan.
Bagi Indonesia, MotoGP Mandalika bukan sekadar ajang balap. Event ini menjadi magnet pariwisata dan ekonomi bagi Nusa Tenggara Barat. Kehadiran Ducati dengan strategi pragmatisnya justru menambah daya tarik: akankah Marquez mampu mematahkan kutukan Mandalika, atau justru Martin yang semakin menjauh? Jawabannya akan terlihat di lintasan akhir pekan nanti.



