Serangan Udara Israel di Gaza Kembali Memakan Korban, Gencatan Senjata Makin Rapuh
Baca dalam 60 detik
- Dua gelombang serangan udara Israel di Gaza pada Rabu menewaskan sedikitnya 10 orang, hanya dua hari setelah negosiator AS meminta pengurangan serangan.
- Pasukan Israel juga menyeberangi garis gencatan senjata di Gaza selatan dan menahan seorang kolonel polisi Hamas, memicu kecaman dari kelompok tersebut.
- Perundingan gencatan senjata menemui jalan buntu karena perbedaan pendapat soal pelucutan senjata Hamas dan penarikan Israel, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan.

Dua hari setelah negosiator Amerika Serikat dilaporkan meminta Israel meredakan serangan di Jalur Gaza, gempuran udara kembali menewaskan sedikitnya sepuluh orang pada Rabu (23/8). Rumah sakit setempat dan Bulan Sabit Merah Palestina mengonfirmasi korban jiwa, sementara pasukan Israel juga dilaporkan menyeberangi garis gencatan senjata di Gaza selatan dan menahan seorang kolonel polisi Hamas. Insiden ini langsung mengguncang optimisme atas upaya perdamaian yang baru dirintis.
Militer Israel membenarkan dua serangan pada Rabu. Serangan pertama di kamp pengungsi Nuseirat menargetkan seorang komandan Hamas yang diduga terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang di Israel selatan dan menyandera 251 lainnya. Serangan kedua di kawasan Tuffah, Gaza City, menghantam empat militan Hamas yang berkumpul di sebuah kantor polisi, menurut pernyataan resmi militer. Sehari sebelumnya, Israel juga mengklaim telah menyerang pertemuan empat komandan Hamas, termasuk Muhammad Hamdi Ahmad Al-Masri, Muhammad Attar, Muhammad Fathi Hussein Nasser, dan Samed Samir Harb Abu Habal.
Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas menyebut serangan di Gaza City menewaskan delapan polisi, dua di antaranya perempuan, serta seorang gadis berusia 13 tahun. Sementara itu, satu orang tewas di Nuseirat. Pada Selasa malam, serangan Israel di sebuah kafe tepi pantai yang ramai juga menewaskan tujuh warga Palestina, termasuk seorang anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Total korban tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata Oktober lalu kini mencapai 1.273 orang, menurut otoritas kesehatan setempat.
Di tengah eskalasi ini, kunjungan Jared Kushner, negosiator AS sekaligus menantu Presiden Trump, ke Israel pada Senin lalu menjadi sorotan. Kushner mengadakan pertemuan maraton dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan meminta pengurangan serangan, menurut sumber yang enggan disebut namanya. Namun, permintaan itu tampaknya tidak membuahkan hasil. Hamas, melalui juru bicaranya Hazem Qassem, mengecam Dewan Perdamaian yang dibentuk Trump untuk mengawasi gencatan senjata, menuduhnya memberikan "tutup" bagi Israel untuk meningkatkan serangan, bukan menekan agar mematuhi kesepakatan.
Perundingan gencatan senjata sendiri tampak buntu. Rencana perdamaian Trump awalnya menawarkan visi luas untuk mengakhiri kekuasaan Hamas dan membangun kembali Gaza. Namun, sejak musim gugur lalu, muncul kebuntuan soal syarat pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel. Trump mengklaim Hamas setuju melucuti senjata, tetapi Hamas mensyaratkan Israel menghentikan serangan dan menarik diri, serta pembentukan negara Palestina yang ditolak Israel. Netanyahu, sebaliknya, menegaskan tidak akan menarik pasukan sebelum Hamas benar-benar melucuti senjatanya.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi kuat. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Setiap eskalasi di Gaza biasanya memicu reaksi publik yang signifikan, termasuk tekanan pada pemerintah untuk mengambil sikap lebih tegas di forum internasional. Selain itu, Indonesia juga aktif dalam misi kemanusiaan untuk Palestina, dan ketidakstabilan yang berkepanjangan dapat menghambat upaya bantuan yang telah direncanakan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah tekanan internasional, termasuk dari AS, mampu mendorong kedua belah pihak kembali ke meja perundingan. Dengan korban jiwa yang terus berjatuhan dan kepercayaan yang semakin terkikis, gencatan senjata yang rapuh ini berada di ambang kehancuran. Apakah dunia, termasuk Indonesia, akan mampu memainkan peran yang lebih efektif untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar?



