Israel Kembali Serang Suriah dan Bantah Kritik Utusan AS: Ketegangan Ankara-Tel Aviv Memanas
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara terbaru Israel di Suriah memicu perseteruan diplomatik dengan utusan khusus AS, Tom Barrack, yang menuding aksi tersebut sebagai eskalasi tak perlu.
- Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa pihaknya telah berbagi intelijen dengan Washington sebelum operasi militer, seraya menyebut pernyataan Barrack keliru.
- Ketegangan Israel-Turki kian meruncing setelah Ankara meminta Interpol menerbitkan red notice untuk Netanyahu, memperumit peta geopolitik Timur Tengah pasca-Assad.

Israel kembali melancarkan serangan udara di wilayah Suriah pada Sabtu (22/8), di tengah memanasnya perseteruan diplomatik dengan utusan khusus Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack. Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah Washington mengkritik aksi militer Israel di sebuah pangkalan udara di barat laut Suriah, yang dituding Tel Aviv akan digunakan oleh Turki. Langkah ini menegaskan bahwa Israel tetap menjalankan agenda militernya di Suriah tanpa bergeming terhadap tekanan sekutu terdekatnya.
Kritik Barrack yang disampaikan pada Selasa lalu menilai serangan Israel ke pangkalan udara yang sudah tidak aktif itu sebagai "eskalasi yang tidak perlu dan tidak mendukung stabilitas regional". Pernyataan itu kemudian dipertegas dalam wawancara dengan influencer Mario Nawfal pada Jumat, di mana Barrack menduga operasi tersebut mungkin dimaksudkan untuk memancing konflik dengan Turki. Tuduhan ini langsung memicu reaksi keras Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang pada Sabtu menyebut komentar Barrack "penuh ketidakakuratan" dan bertentangan dengan sikap Presiden AS Donald Trump terkait Dataran Tinggi Golan.
Sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel telah melancarkan ratusan serangan di Suriah dan mengirim pasukan ke zona penyangga yang dijaga PBB, yang selama puluhan tahun memisahkan pasukan Israel dan Suriah di Golan. Katz menegaskan bahwa Israel telah memberikan "informasi intelijen kepada pihak-pihak yang berwenang di Amerika Serikat" sebelum serangan Selasa lalu. Namun, Barrack sebelumnya menyebut Golan sebagai wilayah "pendudukan", sebuah istilah yang ditolak keras Israel. Wilayah tersebut direbut Israel dari Suriah dalam Perang Enam Hari 1967 dan kemudian dianeksasi, sebuah langkah yang hanya diakui oleh AS dan baru-baru ini juga oleh Kolombia.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam komentarnya mengenai serangan Selasa, menuduh Turkiโsekutu pemerintah baru di Damaskusโberusaha membangun kehadiran militer di pangkalan udara tersebut. Ankara membantah tuduhan itu. Ketegangan antara Netanyahu dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan semakin memuncak setelah Ankara mengumumkan akan meminta red notice Interpol untuk Netanyahu, dengan tuduhan "genosida" terkait penyergapan konvoi bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza. Kantor Netanyahu membalas dengan menyebut Erdogan sebagai "diktator antisemit", sementara pihak Erdogan mengecam pernyataan itu sebagai "omongan tidak masuk akal" dan menuduh pemerintah Israel "berusaha menghindari pertanggungjawaban".
Pada Sabtu, televisi negara Suriah melaporkan seorang pria terluka ketika sebuah "drone pendudukan Israel" menargetkan kendaraan di desa Beit Jinn, barat daya Damaskus, dekat Golan yang dianeksasi Israel. Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut serangan itu sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap kedaulatannya. Militer Israel mengakui serangan tersebut, dengan menyatakan bahwa pasukannya "menembak ke arah seorang teroris di Suriah selatan yang sedang mempersiapkan serangan teror", tanpa menyebut identitas target. Israel juga berulang kali melakukan serangan ke wilayah Suriah dan bertekad mempertahankan pasukannya di apa yang disebut "zona keamanan" di Suriah selatan, di mana mereka menginginkan kawasan demiliterisasi yang lebih luas. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, pekan ini mengatakan kepada pasukannya di Suriah selatan, "Kami memantau perubahan di front Suriah. Kami tidak akan membiarkan kekuatan musuh bercokol di perbatasan kami."
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi pengingat akan rapuhnya stabilitas kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada harga minyak dan arus perdagangan global. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia juga memiliki kepentingan moral terhadap penyelesaian konflik Palestina-Israel yang adil. Sikap Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam pendudukan Israel di Golan sejalan dengan pandangan banyak negara berkembang, namun tetap perlu diimbangi dengan diplomasi yang cermat agar tidak memicu ketegangan bilateral dengan mitra dagang utama seperti AS dan Turki.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana Washington akan menahan laju militer Israel di Suriah. Dengan kritik terbuka dari utusan khususnya, apakah AS akan mengubah kebijakannya atau justru semakin memperkuat dukungan terhadap Tel Aviv? Sementara itu, konflik Israel-Turki yang kian memanas berpotensi membuka front baru di kawasan, yang tentu akan semakin memperumit upaya rekonsiliasi dan rekonstruksi Suriah pasca-perang.



