Pogacar Buka Vuelta 2024 dengan Kemenangan Tipis di Monaco
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar memenangi etape pembuka Vuelta a Espana 2024, menaklukkan time trial 9,4 km di Monaco dengan keunggulan 0,09 detik atas Ethan Hayter.
- Kemenangan ini menegaskan ambisi Pogacar untuk meraih satu-satunya Grand Tour yang belum pernah ia juarai, setelah sukses di Tour de France dan Giro d'Italia.
- Josh Tarling finis ketiga dengan penuh emosi, delapan hari setelah kematian saudaranya, menambah dimensi dramatis pada balapan tahun ini.

MONTE CARLO โ Tadej Pogacar memulai petualangannya di Vuelta a Espana 2024 dengan cara yang spektakuler. Pebalap Slovenia itu memenangi etape pertama berupa individual time trial sepanjang 9,4 kilometer di jalanan sempit dan berliku Monaco, Sabtu (22/8), dengan keunggulan tipis 0,09 detik atas pebalap Inggris, Ethan Hayter. Kemenangan ini langsung menempatkan Pogacar sebagai kandidat kuat untuk merebut satu-satunya Grand Tour yang belum pernah ia taklukkan.
Start dari depan kasino Monte Carlo yang glamor, Pogacar melesat memacu sepedanya melewati rute yang sama dengan sirkuit Formula 1. Ia sempat tertinggal di pertengahan lintasan, namun berkat akselerasi di bagian akhir, ia berhasil membalikkan keadaan dan mengunci kemenangan. Ini bukan sekadar kemenangan etape; ini pernyataan niat dari pebalap yang tahun ini sudah menguasai Tour de France dan Giro d'Italia.
Bagi Hayter, kekalahan dengan selisih kurang dari sepersepuluh detik tentu terasa pahit. Namun, penampilannya menunjukkan bahwa ia mampu bersaing dengan pebalap terbaik dunia. Sementara itu, Josh Tarling, rekan senegara Hayter, finis ketiga dengan catatan waktu yang impresif. Yang membuatnya lebih istimewa, Tarling memutuskan untuk tetap berlaga hanya delapan hari setelah kakaknya, Fin, meninggal dunia dalam kecelakaan di Volta a Portugal. Keputusan itu jelas sarat emosi dan menambah warna tersendiri pada balapan tahun ini.
Kemenangan Pogacar di Monaco bukan hanya soal catatan waktu. Ia menunjukkan superioritasnya di disiplin time trial, yang sering menjadi penentu dalam balapan tiga minggu. Dengan bekal ini, ia memasuki pekan-pekan awal Vuelta dengan percaya diri tinggi. Namun, tantangan sesungguhnya masih menanti: pegunungan tinggi di Spanyol yang akan menguji ketahanan dan strategi timnya, UAE Team Emirates.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, kemenangan Pogacar ini menegaskan dominasinya di panggung dunia. Meski Indonesia tidak memiliki tradisi kuat di olahraga ini, popularitas balap sepeda terus tumbuh, terutama dengan adanya event-event seperti Tour de Indonesia dan semakin banyaknya komunitas pesepeda. Kehadiran Pogacar sebagai ikon global bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk menekuni olahraga ini, baik sebagai atlet maupun sebagai gaya hidup sehat.
Dari sisi persaingan, Vuelta tahun ini diprediksi berlangsung sengit. Pebalap seperti Primoz Roglic, yang pernah tiga kali juara Vuelta, dan Jonas Vingegaard, rival utama Pogacar di Tour de France, dipastikan akan memberikan perlawanan. Namun, dengan performa Pogacar yang sedang on-fire, pertanyaannya adalah: adakah yang mampu menghentikannya? Atau akankah ia mencatatkan sejarah sebagai pebalap pertama dalam 14 tahun yang memenangi tiga Grand Tour dalam satu musim?



