Cramer Pilih Raksasa Teknologi Blue-Chip sebagai Jalur Aman Investasi AI
Baca dalam 60 detik
- Jim Cramer menilai perusahaan teknologi mapan dengan bisnis inti kuat lebih prospektif untuk investasi AI dibandingkan saham spekulatif.
- Meta dan Microsoft menjadi contoh utama karena kemampuan manajemen mengubah belanja AI menjadi pendapatan nyata.
- Suku bunga tinggi membuat pertumbuhan di luar sektor AI sulit ditemukan, sehingga investor global cenderung memusatkan dana ke emiten teknologi besar.

Pembawa acara Mad Money CNBC, Jim Cramer, menegaskan bahwa perusahaan teknologi mapan dengan bisnis inti yang solid dan beragam cara memanfaatkan kecerdasan buatan menjadi pilihan terbaik untuk mencicipi momentum AI. Ia menyampaikan pandangan itu pada Selasa (6/10/2026) waktu setempat, di tengah kekhawatiran pasar terhadap valuasi saham AI yang dinilai sudah terlalu mahal dan mulai dibandingkan dengan gelembung dotcom era 2000-an.
Alih-alih menjauhi sektor yang masih menjadi motor penggerak indeks saham AS, Cramer justru memilih emiten blue-chip yang memiliki manajemen berpengalaman dan kemampuan menemukan sumber pendapatan baru dari teknologi AI. Menurutnya, perusahaan seperti Meta dan Microsoft berada di posisi yang lebih aman karena tidak bergantung pada satu lini bisnis saja.
"Saya ingin tetap bertahan pada saham pusat data AI karena banyak hal yang berpotensi berjalan baik," ujar Cramer, seperti dikutip dari CNBC. Ia menambahkan bahwa portofolio CNBC Investing Club yang ia kelola memang memiliki porsi berlebih di sektor AI, meski tetap terdiversifikasi.
Meta menjadi contoh paling mencolok. Saham emiten induk Facebook dan Instagram itu sempat melewati awal 2026 yang bergejolak, tetapi Cramer tetap percaya pada CEO Mark Zuckerberg dan timnya untuk mengubah belanja AI menjadi sumber pendapatan, salah satunya melalui produk bernama Muse. Ia mengaku tidak melihat manajemen Meta sebagai pihak yang gagal memahami AI, melainkan sebagai tim yang mampu mencari solusi monetisasi.
Pandangan serupa ia terapkan pada Microsoft. Ketika saham perusahaan itu jatuh ke level terendah 52 minggu di US$350 pada Juni, Cramer tidak menganggap masa kejayaannya sudah berakhir. Ia mempertahankan kepemilikan saham di portofolio klub investasinya karena yakin pada kepemimpinan CEO Satya Nadella dan CFO Amy Hood. Keyakinan itu terbukti ketika kinerja dan panduan bisnis Azure pada akhir Juli melampaui perkiraan Wall Street, memicu reli saham Microsoft.
"Saya pikir mereka akan menyelesaikan Copilot, dan dengan bisnis layanan web Azure, mereka akan meraup banyak uang," kata Cramer menggambarkan keyakinannya terhadap Microsoft.
Selain dua raksasa itu, Cramer menyoroti Intel di sektor semikonduktor, Marvell Technology di bidang chip dan fiber, serta CrowdStrike dan Palo Alto Networks di ranah keamanan siber. Menurutnya, strategi ini semakin menarik karena suku bunga tinggi membuat pertumbuhan ekonomi sulit ditemukan di banyak sektor lain. Perusahaan terkait AI, katanya, termasuk sedikit bisnis yang masih mampu mencetak pertumbuhan kuat dalam lingkungan seperti sekarang.
"Ketika saya bertanya kepada sekitar 80% perusahaan di S&P 500 tentang apa yang bisa berjalan baik, saya bahkan tidak bisa memikirkan apa pun untuk sebagian besar dari mereka," ujar Cramer. "Itu bisa berubah ketika perang berakhir. Namun sampai saat itu, saham terkait AI memberi peluang terbesar untuk sesuatu yang berjalan baik."
Meski optimistis, Cramer mengakui bahwa euforia terhadap AI bisa berlebihan. Ia menekankan pentingnya diversifikasi dan memastikan portofolio Investing Club tidak terkonsentrasi pada satu tema saja. Pengakuan ini menjadi pengingat bahwa strategi berbasis AI tetap memiliki risiko, terutama jika ekspektasi pasar tidak sejalan dengan realisasi pendapatan perusahaan.
Bagi investor Indonesia, pandangan Cramer ini relevan karena banyak dana investasi global dan reksa dana saham yang memiliki eksposur ke emiten teknologi AS. Pergerakan saham Meta, Microsoft, dan perusahaan AI lainnya dapat memengaruhi kinerja portofolio investor domestik, baik melalui produk reksa dana maupun langsung di pasar modal AS. Selain itu, perusahaan teknologi Indonesia yang sedang membangun layanan berbasis AI juga bisa belajar dari cara raksasa global memonetisasi teknologi tersebut.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan terus menjadi tema investasi utama, melainkan seberapa lama pasar dapat menoleransi valuasi tinggi sebelum menuntut bukti pendapatan yang lebih nyata. Jika suku bunga mulai turun dan pertumbuhan ekonomi global kembali bergairah, apakah dominasi saham AI akan tetap bertahan, atau justru bergeser ke sektor lain yang lebih murah?



