Juara FIFA ASEAN Cup, Timnas Indonesia Tetap Simpan PR: Dominan tapi Kehilangan Akal saat Lawan 10 Pemain
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia menutup FIFA ASEAN Cup 2026 dengan trofi setelah menang adu penalti 4-2 atas Thailand, menyusul skor 2-2 hingga 120 menit.
- Penguasaan bola 64 persen dan sembilan tembakan tepat sasaran tidak berbanding lurus dengan produktivitas gol, sementara Thailand lebih efisien.
- Kemenangan ini menegaskan kualitas mental skuad, tetapi menyisakan evaluasi pada penyelesaian akhir, koordinasi antarlini, dan disiplin pertahanan.

Timnas Indonesia memastikan diri sebagai juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menaklukkan Thailand lewat adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026) malam. Laga berjalan ketat hingga 120 menit dengan kedudukan 2-2, sebelum eksekusi dari titik putih memutuskan siapa yang berhak mengangkat trofi.
Namun, di balik selebrasi, muncul catatan serius tentang kualitas permainan Skuad Garuda. Pengamat sepak bola nasional, Aris Budi Sulistyo, menilai gelar ini pantas dirayakan, tetapi bukan berarti persoalan teknis tim selesai. Menurutnya, Indonesia terlalu mendominasi tanpa mampu mengonversi penguasaan bola menjadi kemenangan di waktu normal.
Statistik menunjukkan ketimpangan penguasaan bola yang mencolok. Indonesia melepaskan sembilan tembakan tepat ke gawang, sedangkan Thailand hanya empat. Akan tetapi, efektivitas kedua tim berbanding terbalik. Dari empat peluang, Thailand mampu mencetak dua gol, sementara Indonesia butuh sembilan percobaan untuk menghasilkan jumlah gol yang sama.
Situasi makin pelik ketika Thailand harus bermain dengan sepuluh orang setelah Nicholas Mickelson diganjar kartu merah. Alih-alih memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, Indonesia justru tampak kehilangan arah untuk membongkar pertahanan lawan. Thailand bahkan sempat berbalik unggul sebelum Elkan Baggott menyamakan kedudukan pada penghujung babak tambahan.
"Setelah unggul jumlah pemain, kita justru malah kehilangan akal untuk bagaimana menjebol gawang lawan," ujar Aris Budi Sulistyo, seperti dikutip dari Bola.com.
Kritik Aris menyoroti dua area utama: penyelesaian akhir dan koordinasi antarlini. Menurutnya, banyak peluang tercipta, tetapi kerja sama di lini depan belum solid. Ia juga menyebut agresivitas pemain belakang dalam membantu serangan perlu diimbangi dengan disiplin bertahan, mengingat dua gol Thailand lahir dari celah di lini pertahanan.
Di tengah catatan itu, ada apresiasi untuk peran pemain pengganti. Rizky Ridho yang masuk pada menit ke-60 dan Egy Maulana Vikri yang baru dimainkan pada menit ke-101 dinilai memberi variasi serangan. Proses gol penyama kedudukan berawal dari umpan terobosan Egy kepada Ridho di sisi kanan, yang kemudian mengirim umpan silang dan diselesaikan Baggott.
"Masuknya Rizky Ridho dan Egy Maulana Vikri saya rasa jadi kunci, lebih bisa menusuk serangan ke jantung pertahanan Thailand yang sedikit terbuka, dan membuahkan hasil," kata Aris.
Bagi Indonesia, gelar ini tetap menjadi modal berharga. Namun, evaluasi menyeluruh tetap diperlukan jika ingin bersaing di level yang lebih tinggi. Dominasi penguasaan bola tanpa penyelesaian klinis dan keseimbangan bertahan bisa menjadi bumerang saat menghadapi lawan yang lebih efisien.
Pertanyaannya, apakah tim pelatih John Herdman mampu menjadikan catatan ini sebagai pijakan perbaikan, atau justru terlena oleh trofi yang baru saja diraih?



