Winduction Uji Bus Listrik Ngecas Nirkabel Lewat Ban, Pilot 2028 Jadi Taruhan
Baca dalam 60 detik
- Winduction, spin-off ETH Zurich, mengembangkan sistem pengisian daya nirkabel untuk bus listrik yang menempatkan kumparan penerima di dalam ban, bukan di bawah sasis.
- Pendekatan ini diklaim menekan kehilangan energi, tetapi masih bergantung pada ban tanpa baja dan belum diuji independen.
- Pilot penumpang pertama ditargetkan pada 2028 di rute Bandara Zurich–Oerlikon, dengan dua dari 24 halte dilengkapi pelat pengisi daya.

Perusahaan rintisan asal Swiss, Winduction, sedang mengembangkan teknologi pengisian daya nirkabel untuk bus listrik yang memindahkan kumparan penerima dari bawah sasis ke dalam ban. Spin-off dari ETH Zurich ini menargetkan uji coba penumpang pertama pada 2028, sebuah langkah yang berpotensi mengubah cara armada bus listrik beroperasi sehari-hari.
Ide dasarnya sederhana: bagian kendaraan yang selalu bersentuhan dengan aspal adalah roda. Dengan menanam kumparan di dalam ban, jarak antara pemancar di jalan dan penerima di kendaraan bisa ditekan seminimal mungkin. Teknologi ini berbeda dari pengisian nirkabel konvensional yang menempatkan kumparan penerima di bawah bodi, sehingga celah udara bervariasi tergantung desain dan ketinggian kendaraan. "Satu-satunya bagian yang selalu menyentuh tanah pada kendaraan apa pun adalah roda," ujar Sylvain Fricker, technology lead Winduction, seperti dikutip Interesting Engineering.
Winduction mengklaim efisiensi transfer di atas 90% dari pelat jalan ke kendaraan. Namun, angka itu hanya menggambarkan satu segmen perjalanan energi, bukan keseluruhan rantai dari jaringan listrik hingga baterai terisi. Perbedaan ini penting ketika membandingkan sistem dengan pengisian kabel atau pendekatan nirkabel lain. Belum ada hasil uji standar independen yang ditemukan dalam sumber yang ditinjau.
Tantangan terbesar terletak pada ban. Konstruksi ban bus konvensional menggunakan sabuk baja yang berinteraksi dengan medan magnet dan mengubah sebagian energi menjadi panas. Winduction pun harus mengembangkan ban tanpa baja bersama mitra manufaktur. "Untuk memastikan sistem kami bekerja, kami berkolaborasi dengan mitra untuk mengembangkan ban yang sepenuhnya baru dan bebas baja," kata CEO Laurin Schwitter. Namun, belum ada laporan apakah ban tersebut mampu bertahan menghadapi beban berat bus dan siklus pengisian berulang dalam layanan komersial penuh.
Jika berhasil, pengisian daya oportunistik di halte-halte yang dilengkapi pelat bisa memungkinkan operator memasang baterai yang lebih kecil dan ringan. Ini berdampak pada pengurangan berat kendaraan dan biaya pembelian. Pada rute Bandara Zurich–Oerlikon, Winduction memproyeksikan pengisian daya terakumulasi sekitar tiga jam sepanjang hari operasi 16 jam, dibandingkan dengan pengisian semalam sekitar lima jam di depo. Namun, proyeksi ini berbasis rute spesifik dan belum diverifikasi secara independen. Jumlah pelat, daya yang dibutuhkan, dan pengurangan ukuran baterai akan bervariasi tergantung panjang rute, iklim, beban penumpang, dan jadwal.
Winduction saat ini sedang membangun laboratorium dan halte uji khusus di Winterthur, Swiss, dengan dukungan dari Kantor Transportasi Federal Swiss dan Yayasan Iklim Swiss. Fase berikutnya akan mengarah pada konfigurasi mendekati industri dan pengujian di luar fasilitas perusahaan. Operator transportasi di kawasan Bandara Zurich dikabarkan sedang berdiskusi mengenai pilot 2028 tersebut.
Pilot itu akan menjadi ujian sesungguhnya. Apakah ban tanpa baja mampu bertahan dalam layanan bus harian, apakah bus dapat memposisikan diri secara akurat di atas pelat pengisian daya di seluruh armada, dan apakah ekonomi operasional secara keseluruhan lebih unggul dibandingkan pengisian semalam di depo. Jika terbukti, teknologi ini bisa menjadi standar baru bagi transportasi umum listrik, tetapi jika gagal, investasi besar pada infrastruktur jalan dan ban khusus bisa menjadi beban. Pertanyaannya kini: apakah operator bus di kota-kota besar siap bertaruh pada teknologi yang belum teruji ini?



