Medali Sydney Marathon Diduga Salah Gambar Stadion Munich, Panitia Kena Sorot
Baca dalam 60 detik
- Desain medali Sydney Marathon 2026 memicu kontroversi karena diduga menampilkan Allianz Arena Munich, bukan Allianz Stadium Sydney.
- Kesalahan ini terungkap setelah unggahan resmi panitia mengajak pelari mencermati detail medali yang seharusnya merepresentasikan ikon Sydney.
- Insiden serupa pernah terjadi di Great North Run Inggris, menimbulkan pertanyaan tentang kontrol kualitas produksi medali lari bergengsi.

Kurang dari sepekan sebelum Sydney Marathon digelar, panitia penyelenggara dihadapkan pada pertanyaan serius: apakah desainer medali peserta salah mengukir stadion dari kota lain? Medali yang akan diterima ribuan pelari itu diduga menampilkan Allianz Arena yang berada di Munich, Jerman, bukan Allianz Stadium yang menjadi ikon Sydney dan dilalui rute lari sejauh 42,2 kilometer.
Kekeliruan ini pertama kali mencuat setelah akun media sosial resmi Sydney Marathon memamerkan desain medali untuk edisi 2026. Unggahan tersebut mengajak warganet untuk "melihat lebih dekat dan menemukan cerita di balik detail medali". Panitia bahkan menyebut desain itu menampilkan cakrawala Sydney yang indah, mulai dari Sydney Harbour Bridge hingga Opera House yang mendunia. Namun, publik justru menangkap keanehan pada gambar stadion yang terukir di salah satu sisi medali.
Perbedaan arsitektur antara kedua stadion sebenarnya cukup mencolok. Allianz Arena di Munich terkenal dengan fasadnya yang terdiri dari ribuan bantal berbentuk berlian yang dapat berubah warna, sementara Allianz Stadium di Sydney memiliki fasad yang lebih datar dengan sirip perunggu panjang. Dugaan kuat pun muncul bahwa desainer keliru menggambar stadion yang salah, mengingat nama keduanya sama-sama diawali kata 'Allianz'.
Menanggapi polemik ini, BBC telah menghubungi panitia Sydney Marathon untuk meminta klarifikasi, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan resmi. Sementara itu, Ambrose Killian, seniman First Nations yang menciptakan desain sisi lain medali dengan pola emas dan nila, menegaskan bahwa ia tidak bertanggung jawab atas gambar stadion tersebut. Medali dua sisi itu juga dihiasi 42 tanda setengah lingkaran di tepiannya, yang menurut panitia mewakili setiap kilometer lintasan.
Insiden ini bukan yang pertama di dunia lari. Tahun lalu, Great North Run di Newcastle, Inggris, juga menuai kritik karena medali peserta menampilkan gambar Sungai Wear dan Sunderland yang tidak ada dalam rute. Hal serupa kini kembali terjadi, memunculkan pertanyaan tentang proses produksi dan kontrol kualitas medali pada ajang lari bergengsi.
Bagi pelari Indonesia yang berencana mengikuti Sydney Marathon, kejadian ini tentu menjadi perhatian. Medali bukan sekadar tanda finis, melainkan simbol prestasi dan kenang-kenangan yang akan disimpan seumur hidup. Kesalahan desain seperti ini dapat mengurangi nilai sentimental medali, bahkan berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap penyelenggara. Apalagi, Sydney Marathon merupakan bagian dari Abbott World Marathon Majors, seri paling prestisius di dunia lari, sehingga standar kualitasnya pun seharusnya tinggi.
Menilik sejarah, kesalahan serupa di Great North Run sempat menjadi bahan perbincangan hangat dan memaksa panitia melakukan evaluasi. Kini, Sydney Marathon menghadapi ujian serupa. Pertanyaannya, akankah panitia segera menarik medali yang sudah diproduksi atau justru membiarkannya beredar sebagai barang koleksi yang keliru? Yang jelas, publik menunggu respons resmi dan langkah konkret untuk memperbaiki kesalahan ini sebelum hari perlombaan tiba.



