Rekor 4,3 Juta Mobil di China Ditarik Kembali: Pintu yang Sulit Dibuka Saat Darurat Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- China mencatat rekor penarikan mobil terbesar dengan 4,3 juta unit dari sembilan produsen, dipicu risiko gagalnya membuka pintu saat kecelakaan.
- Langkah ini mengikuti keputusan Beijing melarang gagang pintu tersembunyi mulai 2027, desain yang dipopulerkan Tesla dan banyak diadopsi pabrikan EV lokal.
- Regulator AS ikut mempertimbangkan standar keselamatan baru, sementara produsen belum berencana melakukan recall serupa di pasar Amerika.

Sebanyak 4,3 juta kendaraan di China ditarik kembali oleh Tesla dan delapan produsen lainnya, menyusul kekhawatiran bahwa gagang pintu darurat sulit dioperasikan saat terjadi kecelakaan. Ini merupakan penarikan terbesar dalam sejarah industri otomotif negeri itu, sekaligus sinyal keras pengawasan keselamatan yang semakin ketat di tengah gempuran teknologi baru.
Langkah ini diumumkan Jumat lalu (21/8) dan mencakup berbagai model, mulai dari Tesla Model 3, Y, S, hingga X, serta kendaraan buatan Xiaomi, Leapmotor, Xpeng, dan Geely. Perbaikan yang ditawarkan bervariasi, dari pembaruan perangkat lunak jarak jauh hingga pemasangan label peringatan dan penandaan yang lebih jelas di sekitar gagang pintu. Tesla, yang menanggung porsi terbesar dengan 2,98 juta unit, akan mulai menarik kendaraannya mulai 25 September.
Fokus utama penarikan ini adalah gagang pintu darurat mekanis yang dinilai regulator sulit ditemukan atau dioperasikan dalam situasi kritis. Masalah ini mencuat setelah sejumlah kasus penumpang terjebak di dalam mobil yang terbakar. Media pemerintah China melaporkan pada Oktober lalu bahwa seorang pengemudi Xiaomi SU7 tewas setelah kecelakaan dan kebakaran karena orang di sekitar tidak mampu membuka pintu untuk menolongnya. Insiden semacam itu menjadi pemicu meningkatnya pengawasan terhadap desain yang mengutamakan estetika namun mengorbankan aspek keselamatan.
Keputusan Beijing untuk melarang gagang pintu tersembunyi mulai 2027 menegaskan arah regulasi yang lebih tegas. Desain yang dipopulerkan Tesla ini memang banyak diadopsi pabrikan EV domestik untuk mengejar kesan futuristik. Namun, ketika kendaraan semakin bergantung pada perangkat lunak, risiko kegagalan sistem kelistrikan menjadi perhatian serius. Penarikan massal ini juga mencerminkan betapa besarnya armada kendaraan di China dan bagaimana regulator kini lebih agresif dalam menindak cacat produksi.
Biaya penarikan ini diperkirakan tidak terlalu membebani produsen, menurut Sam Fiorani, wakil presiden riset AutoForecast Solutions. Ia menilai pembaruan perangkat lunak over-the-air mampu menekan biaya dan waktu henti yang biasanya menyertai recall besar. Sebagian besar produsen memang akan mengandalkan pembaruan jarak jauh, seperti yang dilakukan Tesla dengan menurunkan jendela mobil secara otomatis setelah tabrakan. Namun, Leapmotor menyebut perbaikannya hanya berupa label peringatan dan pembaruan perangkat lunak, meski tetap memprosesnya sesuai prosedur recall demi tanggung jawab kepada pengguna.
Di luar China, regulator Amerika Serikat mulai melirik isu serupa. National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) bulan lalu menyatakan akan mempertimbangkan standar keselamatan baru untuk mengatasi risiko penumpang terjebak saat listrik padam. Namun, hingga akhir pekan lalu, belum ada produsen yang memberi tahu NHTSA tentang rencana recall untuk pasar AS. Ini menunjukkan bahwa pengetatan regulasi di China bisa menjadi katalis bagi perubahan global, meski kecepatan adopsinya berbeda-beda.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat pasar otomotif nasional mulai diramaikan kendaraan listrik, termasuk model-model yang beredar di China. Jika standar keselamatan yang lebih ketat diterapkan di negara asal, bukan tidak mungkin produsen akan membawa peningkatan tersebut ke pasar lain, termasuk Indonesia. Namun, konsumen di dalam negeri perlu mencermati apakah fitur keselamatan yang sama juga tersedia pada unit yang dipasarkan secara lokal, mengingat seringkali terjadi perbedaan spesifikasi antar negara.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah langkah China ini akan mendorong harmonisasi standar global untuk gagang pintu darurat, atau justru memicu perbedaan regulasi yang semakin lebar. Yang jelas, insiden tragis yang melatarbelakangi recall ini menjadi pengingat bahwa inovasi desain tidak boleh mengorbankan aspek paling mendasar: keselamatan jiwa.



