China Recall 2,98 Juta Tesla hingga Xiaomi: Gagang Pintu Tersembunyi Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 11 produsen mobil, termasuk Tesla dan Xiaomi, melakukan recall terbesar dalam sejarah China terkait gagang pintu darurat yang sulit diakses saat kecelakaan.
- Beijing akan melarang desain gagang pintu tersembunyi mulai 2027, langkah pertama di dunia yang berdampak pada standar keselamatan kendaraan listrik global.
- Recall ini menandai pengawasan ketat regulator China terhadap industri EV di tengah perang harga, dengan implikasi bagi produsen yang beroperasi di pasar tersebut.

Jakarta, LyndHub — Sebanyak 11 produsen kendaraan, termasuk raksasa Amerika Tesla dan pendatang baru Xiaomi, secara serentak meluncurkan pembaruan perangkat lunak dan penarikan produk pada Jumat (21/8). Langkah ini menjadi kampanye recall otomotif terbesar dalam sejarah China, menyusul meningkatnya pengawasan regulator terhadap sistem pelepasan pintu darurat pada kendaraan listrik (EV).
Mayoritas aksi yang diklasifikasikan sebagai penarikan produk berdasarkan regulasi China ini menyoroti kekhawatiran bahwa gagang pintu mekanis darurat mungkin sulit ditemukan atau dioperasikan dalam situasi genting. Dari 11 pabrikan, sembilan di antaranya—termasuk Tesla dan Xiaomi—akan memasang label peringatan secara gratis untuk menandai lokasi gagang tersebut. Sebagian besar juga akan menggelar pembaruan perangkat lunak melalui teknologi over-the-air (OTA).
Langkah besar ini datang di tengah upaya Beijing memperketat pengawasan industri EV dan memberlakukan persyaratan keselamatan yang lebih ketat. Para produsen tengah berinovasi di tengah perang harga sengit di pasar kendaraan terbesar dunia, yang kerap memicu kompromi pada aspek keselamatan demi menekan biaya.
Tesla, misalnya, akan menarik 2,98 juta unit Model 3, Model Y, Model S, dan Model X—baik yang diimpor maupun diproduksi lokal—mulai 25 September. Dalam pernyataannya kepada Administrasi Regulasi Pasar Negara (SAMR), pabrikan asal AS itu mengakui bahwa gagang pintu darurat mekanis bisa sulit diidentifikasi setelah tabrakan parah atau kegagalan sistem kelistrikan. Kondisi ini berpotensi menghambat evakuasi penumpang atau akses tim penyelamat. Sebagai solusi, Tesla akan memasang label peringatan dan mengirim pembaruan OTA yang otomatis menurunkan kaca jendela setelah kecelakaan.
Langkah ini tidak berdiri sendiri. Setidaknya enam merek—Tesla, Xiaomi, Leapmotor, Xpeng, Zeekr, dan Lynk & Co—mengumumkan penarikan terbesar yang pernah mereka catat pada hari yang sama, berdasarkan dokumen yang diajukan ke SAMR. Fenomena ini mencerminkan pergeseran regulasi yang lebih agresif di China, yang berencana melarang desain gagang pintu tersembunyi mulai 2027. Dengan demikian, China menjadi negara pertama di dunia yang memensiunkan gaya desain yang dipopulerkan Tesla dan diadopsi luas oleh produsen EV domestik.
Desain gagang tersembunyi, yang memungkinkan pintu dibuka melalui key fob, smartphone, atau mekanisme tekan, memang telah menarik perhatian regulator di China dan AS. Kekhawatiran utamanya adalah aksesibilitas saat darurat, terutama ketika sistem kelistrikan gagal. Bagi konsumen Indonesia, isu ini relevan mengingat banyak merek China seperti Wuling, DFSK, dan Chery yang beredar di pasar domestik turut mengadopsi desain serupa. Meski belum ada regulasi serupa di Indonesia, langkah China dapat menjadi acuan bagi otoritas di kawasan untuk meninjau ulang standar keselamatan kendaraan listrik.
Para analis menilai bahwa kampanye recall ini adalah sinyal kuat bahwa Beijing tidak akan mentoleransi celah keselamatan, bahkan demi inovasi. Produsen yang ingin bertahan di pasar China harus berinvestasi lebih besar pada fitur keselamatan, yang pada akhirnya dapat menaikkan biaya produksi dan harga jual. Di sisi lain, konsumen diuntungkan dengan standar keamanan yang lebih ketat.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah produsen global akan menyeragamkan desain gagang pintu sesuai regulasi China, atau justru mencari solusi yang lebih cerdas—misalnya gagang yang tetap tersembunyi namun dapat diakses otomatis saat darurat. Sementara itu, pasar Indonesia perlu mencermati apakah tren regulasi ini akan diadopsi oleh Kementerian Perhubungan atau Kementerian Perindustrian, mengingat semakin banyaknya EV China yang masuk ke dalam negeri.



