Prabowo Terbang ke Kalimantan, Komando Penanganan Karhutla Langsung di Garis Depan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto terbang ke Kalimantan pada Sabtu pagi untuk memimpin langsung pemadaman kebakaran hutan dan lahan di empat provinsi.
- Panglima TNI, Kapolri, dan sejumlah pejabat tinggi militer-polri ditugaskan memimpin operasi di tiap provinsi, menandakan mobilisasi kekuatan penuh negara.
- Instruksi tegas penegakan hukum terhadap pelanggar karhutla menandakan perubahan pendekatan dari sekadar pemadaman ke penindakan.

Presiden Prabowo Subianto meninggalkan Jakarta menuju Kalimantan pada Sabtu pagi, 22 Agustus 2026, untuk mengambil alih komando penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda empat provinsi di pulau tersebut. Langkah ini bukan sekadar inspeksi biasa—kepala negara secara langsung memimpin operasi darat yang melibatkan jajaran tertinggi TNI dan Polri, sebuah sinyal bahwa pemerintah menempatkan karhutla sebagai prioritas nasional yang tidak bisa ditangani setengah hati.
Keputusan untuk menerbangkan presiden ke lokasi bencana muncul sehari setelah ia menginstruksikan para petinggi militer dan kepolisian untuk turun ke lapangan. Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, pembagian tugas dilakukan secara terperinci: Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memegang kendali di Kalimantan Barat; Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak bersama Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo bertanggung jawab di Kalimantan Tengah; Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali dan Asisten Operasi Polri Komjen Muhammad Fadil Imran di Kalimantan Selatan; serta Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita dan Komandan Korps Brimob Komjen Ramdani Hidayat di Kalimantan Timur.
Struktur komando yang melibatkan perwira tinggi bintang tiga dan empat ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak main-main. Setiap provinsi mendapat penanggung jawab ganda dari unsur militer dan polisi, memastikan koordinasi lintas sektor berjalan cepat. "Pembagian tugas dilakukan untuk memastikan penanganan di lapangan berjalan lebih cepat, terpadu, dan serentak," ujar Teddy. Ini adalah pengakuan implisit bahwa penanganan karhutla selama ini kerap terkendala tumpang tindih wewenang dan lambatnya respons di tingkat lokal.
Yang lebih menonjol adalah penekanan presiden pada penegakan hukum. Teddy menyampaikan bahwa Prabowo meminta setiap pelanggaran yang ditemukan dalam peristiwa kebakaran ditindak tegas sesuai ketentuan. Pernyataan ini penting karena karhutla di Kalimantan hampir selalu berulang setiap musim kemarau, sering kali dipicu aktivitas pembukaan lahan yang melanggar aturan. Dengan adanya instruksi dari level tertinggi, aparat di lapangan kini memiliki mandat jelas untuk tidak hanya memadamkan api, tetapi juga menjerat pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Kehadiran langsung presiden di Kalimantan Barat—yang disebut sebagai titik fokus—juga menjadi pesan politik. Di tengah kritik publik terhadap respons pemerintah terhadap bencana lingkungan, langkah ini menunjukkan keseriusan eksekutif. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah operasi ini akan berkelanjutan atau sekadar respons jangka pendek. Data dari laporan sebelumnya menyebutkan 12.880 personel gabungan telah dikerahkan, dan TNI AU menambah pesawat CASA untuk modifikasi cuaca. Artinya, operasi ini melibatkan sumber daya besar, tetapi efektivitasnya masih harus diuji di lapangan.
Bagi Indonesia, karhutla bukan sekadar bencana ekologis. Asap yang dihasilkan kerap menyebar hingga ke negara tetangga, memicu ketegangan diplomatik, serta mengganggu kesehatan jutaan warga. Di sisi ekonomi, kebakaran lahan merusak area gambut yang sulit dipulihkan dan mengancam sektor perkebunan yang menjadi tulang punggung daerah. Dengan komando langsung dari presiden, pemerintah tampaknya ingin memastikan bahwa operasi ini tidak gagal seperti tahun-tahun sebelumnya.
Namun, pengamat menilai keberhasilan jangka panjang bergantung pada langkah pencegahan, bukan hanya pemadaman. Apakah pemerintah akan memperkuat regulasi, meningkatkan pengawasan, atau memberikan insentif bagi petani untuk tidak membakar lahan? Instruksi penegakan hukum yang tegas adalah awal yang baik, tetapi tanpa perubahan struktural, siklus karhutla tahunan berisiko terulang. Saat Prabowo memantau titik api dari udara atau darat, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah ini menjadi titik balik, atau sekadar operasi besar yang mereda setelah musim hujan tiba?



