Tragedi Miras Oplosan Bhavnagar: Polisi Tangkap Otak Pelaku di Ujjain, Kongres Serang Balik CM Madhya Pradesh
Baca dalam 60 detik
- Polisi Gujarat menangkap Raees, tersangka utama kematian 11 orang akibat miras oplosan di Bhavnagar, dari persembunyiannya di Ujjain, Madhya Pradesh.
- Kongres Madhya Pradesh menuduh CM Mohan Yadav terkait pasokan miras ilegal dari Ujjain, daerah asalnya, meski ada larangan total alkohol di kedua wilayah.
- Korban tewas termasuk pembuat racun, Narendra Yadav, yang turut meminum hasil racikannya; laporan forensik menunjukkan kandungan metanol 38,59 persen.

Penegak hukum Gujarat akhirnya meringkus Raees, otak di balik tewasnya sebelas warga akibat miras oplosan di Bhavnagar, dari kota kelahirannya, Ujjain, Madhya Pradesh, Kamis (20/8). Penangkapan ini menjadi babak baru dalam penyelidikan yang menyoroti jaringan peredaran minuman keras ilegal lintas negara bagian, sekaligus memicu perang politik antara Kongres dan pemerintahan BJP di Madhya Pradesh.
Raees yang selama ini menjadi buronan sejak insiden tragis itu terjadi, dilacak pergerakannya oleh aparat Gujarat sebelum akhirnya ditangkap tanpa perlawanan. Ia diduga menjadi pemasok utama minuman beralkohol palsu yang merenggut nyawa para korban di Bhavnagar. Penangkapan ini diharapkan mampu mengungkap rantai distribusi yang lebih luas, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain yang masih buron.
Dalam perkembangan yang mengejutkan, salah satu korban tewas yang bernama Narendra Yadav alias 'Doctor' justru diduga sebagai peracik utama minuman mematikan tersebut. Pria asal Desa Dungarpur Kirar, Morena, Madhya Pradesh ini ikut mengonsumsi racikan buatannya sendiri dan tewas bersama sepuluh orang lainnya. Julukan 'Doctor' disematkan karena keahliannya dalam meracik minuman keras oplosan, sebuah ironi yang menggambarkan betapa berbahayanya praktik ilegal ini.
Kabar ini langsung memicu reaksi politik. Ketua Kongres Madhya Pradesh, Jitu Patwari, melancarkan serangan tajam kepada Ketua Menteri Mohan Yadav. Patwari menuding miras beracun yang memakan korban di Bhavnagar diselundupkan dari Ujjain, daerah pemilihan CM Yadav sendiri. Tuduhan ini menjadi sensitif karena baik Gujarat maupun Ujjain menerapkan larangan total peredaran alkohol, sebuah kebijakan yang kontras dengan kenyataan di lapangan.
"Insiden ini adalah contoh ironis dari India baru ala Narendra Modi: tempat kematian terjadi dan tempat asal pasokan alkohol ilegal sama-sama memiliki larangan total alkohol!" ujar Patwari, menyoroti kegagalan penegakan hukum. Ia menambahkan bahwa penyelidikan polisi Gujarat mengindikasikan minuman beracun tersebut memang berasal dari Ujjain, dan menuntut klarifikasi dari CM Yadav. "Alam telah membongkar kebohongan CM Yadav melalui tragedi ini, di mana satu orang dari Morena, MP juga turut menjadi korban," tegasnya.
Laporan laboratorium forensik mengonfirmasi bahwa minuman yang dikonsumsi para korban mengandung 38,59 persen metanol, bahan kimia industri beracun yang tidak pernah digunakan dalam minuman beralkohol resmi. Angka ini sangat tinggi dan mematikan, bahkan dalam dosis kecil. Kasus ini kembali menyoroti bahaya miras oplosan yang kerap memakan korban jiwa di India, terutama di daerah dengan larangan alkohol, di mana pasar ilegal justru tumbuh subur.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap peredaran minuman keras ilegal. Meski regulasi berbeda, kasus serupa pernah terjadi di berbagai daerah, seperti oplosan yang memakan korban di Jawa Barat dan Sulawesi. Kasus Bhavnagar menunjukkan bahwa penegakan hukum yang tegas dan koordinasi antarwilayah menjadi kunci untuk membongkar jaringan kriminal ini. Pertanyaannya, apakah aparat di Indonesia mampu belajar dari kasus ini untuk mencegah tragedi serupa?



