Serangan Drone Rusia di Kryvyi Rih Tewaskan 15 Orang, Zelenskyy Sebut Aksi Teror
Baca dalam 60 detik
- Rusia melancarkan serangan drone ganda ke pusat perbelanjaan di Kryvyi Rih, menewaskan sedikitnya 15 warga sipil dan melukai 130 lainnya.
- Serangan ini terjadi di tengah eskalasi serangan jarak jauh kedua negara, dengan Ukraina membalas menyerang kilang minyak dan pangkalan militer di wilayah Rusia.
- Kekurangan sistem pertahanan udara buatan AS menjadi celah yang dieksploitasi Rusia, memicu kekhawatiran akan meningkatnya korban sipil di Ukraina.

KYIV โ Rusia kembali melancarkan serangan drone mematikan ke Ukraina, kali ini menghantam pusat perbelanjaan di Kryvyi Rih, kota asal Presiden Volodymyr Zelenskyy, pada Jumat (22/8). Sedikitnya 15 orang tewas dan 130 lainnya luka-luka, termasuk 23 anak-anak, menurut otoritas setempat. Serangan ini menjadi bagian dari rentetan agresi Rusia yang menewaskan total 21 orang di Ukraina dalam sehari, menyusul serangan serupa di wilayah Kharkiv dan Mykolaiv.
Zelenskyy, yang lahir dan besar di Kryvyi Rih, mengecam serangan tersebut sebagai "aksi teroris" dan berjanji akan membalas. Dalam pidato video beberapa jam kemudian, ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan tinggal diam. Serangan ini menggunakan taktik "double-tap", di mana gelombang pertama drone menghantam area, lalu gelombang kedua menyusul saat tim penyelamat datang, sebuah pola yang menurut para analis dirancang untuk memaksimalkan korban.
Kryvyi Rih memang bukan target baru. Sejak perang meletus lebih dari empat tahun lalu, kota ini telah berulang kali menjadi sasaran. Pada April 2025, serangan serupa menewaskan 20 orang, termasuk sembilan anak-anak. Namun, frekuensi serangan Rusia ke kota-kota Ukraina meningkat tajam pada musim panas ini, dengan Kyiv menjadi salah satu yang paling terdampak. PBB mencatat sedikitnya 54 warga sipil tewas di ibu kota Ukraina sepanjang Juli, dan angka itu diprediksi terus bertambah.
Para pengamat militer menilai eskalasi ini terjadi karena Rusia mengeksploitasi kelangkaan sistem pertahanan udara Patriot buatan AS yang dimiliki Ukraina. Sistem inilah satu-satunya yang mampu menembak jatuh rudal balistik Rusia. Ukraina memang berhasil menembak jatuh 107 dari 135 drone yang diluncurkan Rusia dalam semalam, tetapi serangan tetap menembus pertahanan dan menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, Ukraina tidak tinggal diam. Pada hari yang sama, drone Ukraina menyerang kilang minyak Lukoil di Perm, Rusia, yang berjarak lebih dari 1.600 kilometer dari perbatasan, serta pangkalan udara Marinovka di wilayah Volgograd. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim berhasil mencegat 325 drone Ukraina di 15 wilayah, namun serangan ini menunjukkan kemampuan Ukraina untuk menjangkau target di dalam negeri Rusia.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi yang tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara yang mengimpor gandum dan energi dari kawasan Laut Hitam, Indonesia rentan terhadap gejolak harga pangan dan energi global yang dipicu oleh perang. Selain itu, serangan drone yang semakin masif ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi teknologi pertahanan, terutama sistem pertahanan udara, bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Para analis memperkirakan eskalasi ini akan terus berlanjut, karena kedua belah pihak gagal mencapai kemajuan signifikan di medan perang. Ukraina berharap serangan jarak jauh ke wilayah Rusia dapat menekan publik Rusia dan memaksa Putin bernegosiasi. Namun, hingga kini, Putin belum menunjukkan tanda-tanda untuk menghentikan invasi. Pertanyaannya, berapa lama lagi Ukraina mampu bertahan dengan sumber daya yang semakin menipis, dan akankah komunitas internasional, termasuk Indonesia, mengambil peran lebih nyata dalam mendorong perdamaian?



