Menlu China Tegaskan RI Pilar Utama Diplomasi, CSD Perdana Digelar di Jakarta
Baca dalam 60 detik
- China dan Indonesia meluncurkan Dialog Strategis Komprehensif (CSD) pertama di Jakarta, menandai babak baru kerja sama bilateral.
- Kedua negara sepakat menyusun rencana aksi 2027-2031, termasuk kolaborasi AI, energi, dan peringatan dini cuaca.
- CSD kedua dijadwalkan di China tahun depan, memperkuat posisi RI sebagai mitra kunci Beijing di kawasan.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan bahwa Indonesia selalu menempati posisi penting dalam peta diplomasi Beijing, terutama di antara negara-negara tetangga. Pernyataan ini disampaikan menyusul peluncuran Dialog Strategis Komprehensif (CSD) yang pertama kali digelar di Jakarta pada Jumat, 21 Agustus 2026. Bagi Indonesia, mekanisme ini bukan sekadar forum seremonial, melainkan instrumen konkret untuk mengimplementasikan konsensus yang telah disepakati oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Xi Jinping sejak November 2024.
CSD yang dihadiri langsung oleh Menlu Sugiono dan Wang Yi ini menjadi platform baru untuk memperkuat kerja sama bilateral dalam lima pilar utama. Selain itu, pertemuan tersebut juga menjadi titik awal penyusunan Rencana Aksi Indonesia-China 2027-2031, yang akan melanjutkan capaian periode sebelumnya. Wang Yi menyebut mekanisme ini sebagai langkah penting untuk membangun komunitas China-Indonesia dengan masa depan bersama yang berdampak regional dan global.
Di tengah dinamika geopolitik yang kian kompetitif, China tampak serius menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis. Hal ini terlihat dari kesepakatan untuk memperdalam kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI), termasuk rencana bersama menyelenggarakan World Artificial Intelligence Cooperation Organization. Tak hanya itu, sistem peringatan dini meteorologi berbasis AI buatan China juga telah mulai diuji coba di Indonesia, sebuah langkah yang diyakini akan membantu RI menghadapi fenomena iklim ekstrem.
Di sektor energi dan mineral, kedua negara sepakat membangun kemitraan yang menyeluruh, terbuka, dan hijau. Sementara itu, Menlu Sugiono memberikan apresiasi atas kontribusi perusahaan-perusahaan China di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kesuksesan perusahaan China adalah kesuksesan Indonesia, dan Jakarta berkomitmen menyediakan lingkungan usaha yang adil, transparan, serta ramah bagi investor China. Pernyataan ini menjadi sinyal positif bagi kelangsungan investasi China yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain CSD, digelar pula Pertemuan ke-2 Mekanisme Dialog 2+2 yang melibatkan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua negara. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menhan China Laksamana Dong Jun membahas penguatan kerja sama di bidang politik, pertahanan, dan keamanan. Dialog yang pertama kali digelar di Beijing pada April 2025 ini kini berlangsung di Jakarta, menandai semakin eratnya hubungan kedua negara di tataran strategis.
Dalam pernyataannya, Wang Yi berharap Indonesia dan China dapat menjadi teladan bagi negara-negara Global South untuk bersatu dan memperkuat diri. Ia juga menekankan pentingnya memberikan makna baru bagi hubungan bilateral sesuai perkembangan zaman. Di sisi lain, Sugiono menegaskan komitmen Indonesia terhadap prinsip Satu China dan dukungannya terhadap upaya reunifikasi China. Indonesia juga mendukung China dalam penyelenggaraan KTT APEC dan berencana lebih aktif dalam berbagai inisiatif global, termasuk melalui PBB dan BRICS.
Di kawasan, kedua negara berkomitmen untuk melaksanakan Deklarasi Perilaku Para Pihak (DOC) di Laut China Selatan secara efektif dan berupaya mencapai Kode Etik di Laut China Selatan sesegera mungkin. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas dan menciptakan narasi baru yang damai di kawasan. Bagi Indonesia, keterlibatan aktif dalam forum-forum ini menjadi bukti bahwa Jakarta tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain kunci dalam percaturan regional.
CSD kedua dijadwalkan berlangsung di China tahun depan. Seiring dengan itu, muncul pertanyaan: sejauh mana mekanisme ini akan mampu menjembatani kepentingan nasional Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat? Apakah kerja sama ini akan benar-benar membawa manfaat nyata bagi rakyat, atau hanya menjadi wacana diplomatik belaka? Waktu yang akan menjawab, namun yang jelas, Indonesia kini memiliki panggung baru untuk memperkuat posisinya di mata dunia.



