Gurihnya Bisnis Es Serut: Nara, Kota Bersejarah Jepang, Jadi Medan Pertempuran Kuliner Dingin
Baca dalam 60 detik
- Jumlah kedai es serut di Nara melonjak lebih dari sembilan kali lipat dalam satu dekade, mencapai 42 gerai pada 2026.
- Fenomena ini didorong oleh sejarah panjang produksi es untuk kaisar sejak 1.600 tahun lalu, yang kini dihidupkan kembali melalui festival dan panduan kuliner.
- Di balik popularitas, pelaku usaha mengeluhkan margin tipis akibat kenaikan harga listrik, memaksa mereka mencari pasar di luar prefektur.

Nara, kota tua di Jepang yang menyimpan jejak peradaban selama lebih dari satu milenium, kini menjelma menjadi panggung baru bagi industri es serut. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah kedai es serut di wilayah tersebut meningkat lebih dari sembilan kali lipat, menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Fenomena ini bukan sekadar tren kuliner musiman, melainkan cerminan bagaimana warisan sejarah dapat diubah menjadi daya tarik ekonomi yang hidup.
Keunikan Nara tidak hanya terletak pada kuil-kuil bersejarah dan rusa-rusa jinaknya, tetapi juga pada tradisi penyimpanan es yang konon telah berlangsung sejak 1.600 tahun lalu. Menurut catatan Nihon Shoki, istana kekaisaran pada masa itu memanfaatkan fasilitas penyimpanan es bernama 'himuro' untuk menjaga kesegaran es yang diproduksi pada musim dingin. Ritual pengambilan es dari himuro yang direkonstruksi tiga dekade lalu masih dilakukan hingga kini, menjadi simbol kontinuitas budaya yang langka.
Kebangkitan es serut di Nara tidak lepas dari peran Keiko Okada, salah satu pemilik kedai populer Housekibaco. Pada 2014, ia bersama sejumlah pihak menginisiasi festival es serut yang bekerja sama dengan kuil-kuil setempat. Setahun kemudian, Okada membuka kedainya dan menerbitkan panduan es serut Nara yang memuat daftar kedai rekomendasi. Inisiatif ini memicu kreativitas pelaku usaha lain, hingga muncul varian es serut dengan topping kaviar di sebuah restoran Prancis.
Pertumbuhan jumlah kedai yang pesat, dengan 19 di antaranya terkonsentrasi dalam radius satu kilometer dari Stasiun Kintetsu Nara, menunjukkan tingginya minat pasar. Namun, di balik keramaian tersebut, terdapat tantangan yang menggerogoti keuntungan. Takahito Naka, presiden produsen es Hinode Seihyo, mengungkapkan bahwa lonjakan harga listrik telah memangkas margin keuntungan. "Kota ini ramai oleh pengunjung, tetapi kami belum merasakan dampaknya secara finansial," ujarnya, seraya menambahkan bahwa perusahaannya berencana memperluas jangkauan bisnis ke luar prefektur.
Fenomena es serut di Nara memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan kuliner tradisional serupa seperti es campur, es teler, atau es doger. Potensi untuk mengangkat hidangan lokal menjadi ikon pariwisata sangat terbuka, terutama dengan dukungan festival dan promosi yang konsisten. Namun, pelaku usaha perlu mewaspadai fluktuasi biaya operasional, seperti energi dan bahan baku, yang dapat menggerus keuntungan di tengah lonjakan permintaan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Nara mampu mempertahankan momentum ini tanpa mengorbankan keaslian budaya. Dengan semakin banyaknya kedai yang bermunculan, risiko homogenisasi produk menjadi nyata. Di sisi lain, kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan komunitas lokal akan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan pelestarian warisan. Bagi Indonesia, kisah Nara adalah pengingat bahwa tradisi kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang narasi sejarah yang mampu menarik wisatawan dan menopang ekonomi kreatif.



