Chao Tom: Warisan Kuliner Istana Hue yang Hidup Kembali di Meja Makan
Baca dalam 60 detik
- Hidangan udang tebu khas Hue, Vietnam, menyimpan resep istana yang telah berusia ratusan tahun dan kini kembali populer setelah restorasi kota bersejarah itu selesai pada 2024.
- Di balik penyajiannya yang halus, chao tom menawarkan cita rasa otentik yang mudah ditiru di rumah, dengan bahan-bahan yang relatif sederhana dan teknik memasak cepat.
- Fenomena kuliner ini menginspirasi pelaku industri kuliner Indonesia untuk mengeksplorasi kekayaan resep tradisional Nusantara yang serupa, sebagai daya tarik wisata dan identitas budaya.

Udang segar yang dihaluskan, dibalutkan pada batang tebu, lalu digoreng hingga keemasan—itulah chao tom, hidangan pembuka warisan istana Nguyen di Hue, Vietnam, yang kini kembali menjadi sorotan setelah kawasan pusat kota bersejarah itu selesai direstorasi pada 2024. Lebih dari sekadar camilan, chao tom adalah simbol ketahanan budaya kuliner yang bertahan melewati perang dan modernisasi.
Hue, yang pernah menjadi ibu kota kekaisaran Vietnam selama lebih dari 2.800 tahun, terakhir kali berperan sebagai pusat pemerintahan di bawah dinasti Nguyen (1802–1945). Dari dapur istana itulah lahir tradisi kuliner dengan porsi kecil dan presentasi yang sangat diperhatikan. Chao tom, yang konon disajikan untuk para kaisar dan keluarga kerajaan, adalah salah satu warisan yang paling menonjol. Kini, setelah restorasi besar-besaran selesai, kuliner ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga pengingat akan kejayaan masa lalu.
Menariknya, meskipun Hue terkenal dengan masakan yang pedas dan kuat, chao tom justru hadir dengan rasa yang lebih lembut. Paduan udang, bawang putih, dan sedikit gula menciptakan profil rasa yang gurih-manis, sementara saus nuoc cham yang disajikan terpisah memberikan sentuhan asam, pedas, dan asin yang bisa disesuaikan selera. Cara penyajiannya pun fleksibel: bisa dinikmati langsung sebagai camilan, atau menjadi topping untuk mi dan nasi, selalu ditemani selada segar dan rempah-rempah.
Bagi Indonesia, fenomena chao tom membuka pelajaran berharga tentang bagaimana kuliner tradisional dapat menjadi duta budaya. Banyak hidangan Nusantara yang memiliki filosofi dan sejarah serupa, seperti sate lilit dari Bali atau otak-otak dari Palembang, yang juga menggunakan tusuk alami dan bumbu kompleks. Namun, promosi dan pengemasan cerita di balik hidangan tersebut seringkali belum sekuat yang dilakukan Vietnam terhadap chao tom. Padahal, dengan meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik, cerita di balik makanan menjadi nilai jual yang signifikan.
Dari perspektif kuliner, chao tom juga menawarkan teknik yang mudah ditiru. Kuncinya ada pada pemilihan udang segar, perbandingan tepung beras yang tepat, dan proses pendinginan adonan sebelum digoreng. Dengan waktu memasak hanya sekitar dua menit per sisi, hidangan ini menjadi pilihan praktis untuk hidangan rumahan yang tetap terasa istimewa. Para koki rumahan di Indonesia dapat bereksperimen dengan bahan lokal, misalnya mengganti tebu dengan batang serai untuk memberikan aroma khas Nusantara.
Lebih jauh, kebangkitan chao tom juga mencerminkan tren global untuk kembali ke akar budaya. Di tengah maraknya makanan cepat saji dan globalisasi rasa, hidangan seperti ini menjadi penyeimbang yang menawarkan koneksi emosional dengan sejarah. Bagi generasi muda Vietnam, chao tom bukan sekadar makanan, melainkan identitas yang diwariskan. Hal serupa mulai terjadi di Indonesia dengan bangkitnya minat pada kuliner tradisional di kalangan milenial dan Gen Z, baik melalui media sosial maupun acara-acara kuliner.
Ke depannya, pertanyaannya adalah: dapatkah Indonesia melakukan hal yang sama untuk hidangan-hidangan seperti gudeg, rendang, atau pempek? Dengan strategi penceritaan yang tepat, dukungan pemerintah, dan kreativitas pelaku usaha, bukan tidak mungkin kuliner Nusantara akan mendunia seperti chao tom. Yang jelas, chao tom membuktikan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, ketahanan, dan kebanggaan budaya.



