Modi Ganti Gaya di Instagram demi Gen Z: Antara Strategi Politik dan Risiko Jadi Bahan Troll
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri India Narendra Modi mengubah gaya komunikasi di Instagram menjadi lebih kasual untuk mendekati pemilih muda, menyusul protes mahasiswa yang dipicu gerakan satir Cockroach Janta Party.
- Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap kegagalan BJP mengendalikan narasi di media sosial, dengan mengganti kepala humas digital dan menginstruksikan para menteri meningkatkan aktivitas daring.
- Para pengamat menilai upaya ini belum tentu efektif karena algoritma Instagram yang berbasis emosi dan budaya ironi, namun BJP dinilai mampu beradaptasi seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Perdana Menteri India Narendra Modi, yang selama ini dikenal dengan citra kuat dan pidato terstruktur, kini mencoba pendekatan berbeda di Instagram: berbicara kepada Generasi Z dengan gaya santai, menyebut mereka "teman", dan bahkan membuat konten get-ready-with-me. Perubahan ini bukan sekadar tren, melainkan respons terhadap gelombang protes pemuda yang mengguncang partainya, BJP, dan memaksa mesin politik terbesar di India itu belajar bermain di platform yang penuh ironi dan sindiran.
Modi, yang memiliki lebih dari 106 juta pengikut di Instagram, selama ini jarang menggunakan platform tersebut untuk komunikasi politik. Namun, setelah protes yang dipicu oleh gerakan satir Cockroach Janta Party (CJP) berhasil memaksa seorang menteri federal mengundurkan diri, timnya mulai mengubah strategi. CJP, yang berawal dari lelucon, mampu mengubah perhatian daring menjadi mobilisasi jalanan, sesuatu yang tidak diduga BJP. Menurut komentator Anurag Minus Verma, BJP selama ini membangun kekuatan politiknya melalui WhatsApp, Facebook, dan X, tetapi anak muda India kini mengonsumsi konten secara berbeda.
Lebih dari 60% populasi India berusia di bawah 35 tahun, dan Gen Z diprediksi menjadi blok pemilih terbesar pada pemilu 2029. Untuk memenangkan mereka, Modi harus hadir di platform yang personal dan tidak tersaring, seperti Instagram. Namun, upaya pertamanya justru menuai ejekan. Video selfie-nya yang membahas protes, dengan jeda lama setelah kata "friends", menjadi bahan troll dan diedit ulang oleh pengguna muda. Tim Modi kemudian bereksperimen dengan sudut kamera dan pencahayaan, tetapi banyak yang meragukan ketulusan di balik perubahan ini. Ginni Malia, 22 tahun, menilai waktu yang tiba-tiba ini patut dipertanyakan, dan konten tersebut gagal menjawab kekhawatiran yang memicu protes.
BJP juga mulai menggunakan meme dan referensi budaya pop, tetapi hasilnya sering dianggap "cringe". Sebuah video berlatar gym yang menasihati pemuda agar menjauhi protes mendapat kritik, dan video lain yang menggunakan lagu sitkom Friends dianggap tidak relevan bagi Gen Z. Menurut laporan, Modi bahkan meminta para menterinya meningkatkan aktivitas media sosial dan memberikan "rapor" kinerja. Partai juga mengganti kepala media sosial Amit Malviya yang menjabat sejak 2015, yang oleh analis dikaitkan dengan kegagalan mengendalikan narasi selama protes.
Upaya ini tidak hanya dilakukan BJP; pemimpin Kongres Rahul Gandhi juga aktif di Instagram dengan gaya serupa. Namun, tantangan terbesar BJP adalah sifat algoritma Instagram yang berbasis keterlibatan, bukan jaringan. Joyojeet Pal dari University of Michigan menjelaskan bahwa strategi BJP yang mengandalkan jaringan pendukung di X dan WhatsApp tidak efektif di Instagram, karena platform ini lebih mementingkan emosi dan konten yang memicu interaksi. Akibatnya, video Modi yang ditonton 400 juta kali justru diubah menjadi sindiran oleh pengguna muda. "Instagram pada dasarnya adalah platform yang dibangun di sekitar ironi," kata Verma. "Pesan politik serius yang dikemas sebagai reel tetap bisa ditroll."
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kemampuan BJP memenangkan pemilu tidak bergantung pada popularitas di media sosial. Pal menegaskan, "BJP mampu memenangkan pemilu bahkan jika setiap anggota Gen Z membencinya di media sosial." Partai ini memiliki sejarah adaptasi, mulai dari menjadi pengadopsi awal media sosial hingga menggunakan podcast dan wawancara dengan influencer. Namun, belajar menguasai Instagram membutuhkan waktu dan aturan baru. Pertanyaannya, akankah BJP mampu mengubah ejekan menjadi dukungan nyata, atau justru semakin terasing dari generasi yang menjadi kunci masa depan politik India?



