QRIS Tembus 65,77 Juta Pengguna, BI: UMKM Kini Punya Pintu Masuk ke Ekosistem Digital
Baca dalam 60 detik
- Adopsi QRIS melonjak ke 65,77 juta pengguna hingga Juni 2026, dengan 44,86 juta merchant, mayoritas UMKM.
- Bank Indonesia menegaskan QRIS bukan sekadar alat bayar, melainkan gerbang UMKM menuju layanan keuangan digital yang lebih luas.
- Melalui PIDI dan strategi e-farming, e-commerce, e-financing, BI menargetkan UMKM naik kelas dan memperkuat inklusi ekonomi nasional.

Bank Indonesia mencatat adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus meroket, mencapai 65,77 juta pengguna hingga Juni 2026. Jumlah itu diiringi 44,86 juta merchant yang telah bergabung, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Angka ini menegaskan bahwa infrastruktur pembayaran digital nasional semakin matang dan menjadi tulang punggung transaksi ekonomi rakyat.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta dalam acara Innovation Talk di Jakarta, Jumat (21/8), menyatakan QRIS telah berevolusi dari sekadar alat pembayaran menjadi gerbang utama UMKM untuk masuk ke ekosistem keuangan digital. Menurutnya, perluasan ini bukan hanya soal kemudahan transaksi, melainkan juga konektivitas usaha kecil dengan layanan perbankan, pembiayaan, dan pasar yang lebih luas. Pandangan itu sekaligus menegaskan arah kebijakan BI yang menjadikan digitalisasi sebagai instrumen pemerataan ekonomi.
Di balik angka tersebut, BI menggarisbawahi tiga strategi utama untuk mendorong UMKM go digital. Pertama, e-farming melalui digital farming untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Kedua, e-commerce dengan fokus onboarding UMKM ke platform digital guna memperluas akses pasar. Ketiga, e-financing lewat Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) yang memperkuat pencatatan keuangan dan membuka akses pembiayaan. Ketiga pilar ini dirancang agar UMKM tidak sekadar bertransaksi digital, tetapi juga mengelola usahanya secara lebih profesional.
Untuk mempercepat transformasi, BI juga mengandalkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) yang dibangun bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan mitra strategis. PIDI dirancang sebagai jembatan antara talenta digital, inovator, industri, dan pemerintah. Bagi UMKM, wadah ini diharapkan melahirkan solusi terapan yang mudah diadopsi dan bisa direplikasi, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan segelintir pelaku usaha, tetapi juga komunitas yang lebih luas.
โDengan talenta yang berdaya, inovasi yang implementatif, dan ekosistem yang saling menguatkan, kami optimis UMKM Indonesia akan terus bertransformasi, bertumbuh, dan naik kelas,โ ujar Filianingsih, menegaskan komitmen BI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dalam kesempatan yang sama, BI menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk inovator muda finalis PIDI dan pelaku UMKM binaan BI di bidang hortikultura. Mereka berbagi pengalaman tentang pemanfaatan data digital untuk meningkatkan efisiensi dan akses pembiayaan. Diskusi itu menyoroti pentingnya kolaborasi antara perbankan dan UMKM dalam memanfaatkan data transaksi untuk penilaian kredit, sebuah langkah yang dinilai krusial untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan yang selama ini menjadi hambatan klasik.
Bagi Indonesia, percepatan digitalisasi UMKM memiliki implikasi strategis. Dengan lebih dari 60 juta pelaku UMKM yang berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto, keberhasilan transformasi digital sektor ini akan menentukan daya saing ekonomi nasional di tengah persaingan regional. QRIS, yang kini juga telah terhubung dengan sistem pembayaran antarnegara, menjadi bukti bahwa infrastruktur digital Indonesia semakin terintegrasi dengan ekosistem global.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi pada perluasan jumlah pengguna, melainkan pada kedalaman pemanfaatan teknologi oleh UMKM. Akankah data transaksi yang terkumpul mampu mendorong lahirnya skema pembiayaan baru yang lebih inklusif? Atau justru menciptakan ketimpangan digital antara daerah yang siap dan yang tertinggal? Jawabannya akan menentukan apakah transformasi digital benar-benar menjadi mesin pertumbuhan yang merata, atau sekadar angka statistik yang mengesankan.



