LIV Golf di Ujung Tanduk: Investor Baru Jadi Penentu Nasib Liga di Tengah Ketidakpastian
Baca dalam 60 detik
- Setelah pendanaan Saudi dicabut, LIV Golf menggelar final musim dengan atmosfer penuh ketidakpastian dan optimisme yang dipaksakan.
- Calon investor Ted Goldthorpe dari BC Partners disebut siap menyuntik dana untuk 'LIV 2.0', namun syarat utama adalah keberlanjutan finansial dan komitmen pemain.
- Keputusan pemain bintang seperti Jon Rahm dan Bryson DeChambeau dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan apakah LIV bertahan atau bubar.

Liga golf pemecah belah LIV Golf menghadapi momen paling krusial sejak didirikan empat tahun lalu: setelah pendanaan dari Arab Saudi dicabut, masa depannya kini bergantung pada kesepakatan dengan investor baru yang digadang-gadang akan melahirkan 'LIV 2.0'. Pekan final musim 2026 di Chatham Hills Golf Club, Indianapolis, menjadi saksi bisu ketegangan antara harapan dan kenyataan pahit yang melanda para pemain, staf, dan penggemar.
Keputusan Saudi Public Investment Fund (PIF) untuk menghentikan aliran danaโyang totalnya telah menembus US$5 miliarโmembuat LIV harus berhemat besar-besaran. Buktinya, hadiah uang di Indianapolis hanya separuh dari biasanya, dan untuk pertama kalinya tidak ada konser musik live di akhir pekan. Bahkan, konferensi pers rutin pemain dibatalkan karena dianggap hanya akan memunculkan pertanyaan tanpa jawaban. Di tengah kekacauan itu, kabar tentang vendor yang menggugat LIV atas tunggakan pembayaran menambah daftar masalah yang harus segera dibereskan.
Calon penyelamat yang dimaksud adalah Ted Goldthorpe, kepala divisi kredit di perusahaan investasi global BC Partners. Pria yang akrab disapa 'TG' ini hadir di Indianapolis, meski sengaja menghindari sorotan media dengan keluar lewat pintu samping clubhouse. Dalam pertemuan tertutup dengan para pemain, Goldthorpe memaparkan visinya: membuat LIV berkelanjutan dan pada akhirnya menguntungkan. Rencananya termasuk menjual franchise tim dan memangkas jadwal menjadi 10 turnamen per tahun di lima benua, dengan fokus pada kesiapan pemain menghadapi turnamen mayor.
CEO LIV Scott O'Neil tetap optimistis, menyebut "fakta-faktanya bagus" dan "saya tidak akan bertaruh melawan kami". Optimisme itu didasari data pertumbuhan: acara di Adelaide menarik 115.000 penonton, rekor untuk golf Australia, dengan 5,5 juta pemirsa global. Afrika Selatan dan Inggris masing-masing menyumbang 100.000 dan 50.000 penonton. Pendapatan LIV disebut tumbuh lebih dari 100% dari 2024 ke 2025. Namun, di balik angka itu, banyak pihak internal menggambarkan suasana dengan metafora suram: "kita di hospice, bukan pemakaman", atau "ini akan memburuk sebelum membaik".
Para pemain terbelah. Graeme McDowell, juara US Open 2010, mengakui suasana "subdued" dan akan mengambil jeda untuk memikirkan masa depannya. Cameron Smith, yang bergabung setelah memenangkan The Open 2022, masih mencintai LIV tetapi mengaku butuh waktu. Sementara itu, Jon Rahm dan Bryson DeChambeau memilih bungkam atau hanya memberi pernyataan singkat. DeChambeau, yang dikabarkan menolak wawancara, berujar, "Kami punya banyak hal melawan kami. Jika berhasil, bagus; jika tidak, kami akan cari jalan. Waktu akan menyembuhkan." Satu-satunya yang tegas adalah Brendan Steele: "Saya berkomitmen di sini."
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati. Meski tidak ada pemain Indonesia di LIV, liga ini telah mengubah lanskap golf global, termasuk mendorong PGA Tour meningkatkan hadiah uang. Jika LIV bubar, para pemain top seperti Rahm dan DeChambeau bisa kembali ke PGA Tour, memicu persaingan yang lebih ketat di turnamen mayor yang juga diikuti pegolf Asia Tenggara. Sebaliknya, jika LIV 2.0 terwujud, jadwal yang lebih ramping bisa membuka peluang bagi penyelenggara di kawasan Asia untuk menjadi tuan rumah, mengingat minat golf di Indonesia yang terus tumbuh.
Langkah berikutnya adalah krusial: dalam beberapa pekan, LIV harus mengamankan transaksi dengan investor, menyelesaikan utang, dan meyakinkan pemain untuk menandatangani kontrak baru. O'Neil menyebut ada tenggat waktu, namun enggan merinci. Skenario yang mungkin terjadi adalah kebangkrutan, restrukturisasi utang, atau akuisisi oleh pihak ketiga. Jika semua kewajiban dibayar, pemain seperti Rahm yang dikabarkan memiliki piutang jutaan dolar tidak bisa memutus kontrak lebih awal. Keputusan PGA Tour dan DP World Tour juga akan berpengaruh, terutama jika mereka menerapkan sistem dua tingkat yang mempengaruhi posisi LIV di hierarki golf dunia.
Pertanyaan besarnya: akankah LIV 2.0 benar-benar lahir, atau ini hanya perpanjangan napas terakhir? Jawabannya akan ditentukan oleh kesepakatan yang terjadi di ruang tertutup, bukan di lapangan hijau. Satu hal yang pasti: golf profesional sedang berada di persimpangan, dan nasib LIV akan menjadi preseden bagi liga-liga olahraga lain yang bergantung pada dana investor tunggal.



