Krisis Williams Teratasi: Vowles Akui Cemas Kehilangan Sainz dan Albon
Baca dalam 60 detik
- Manajer Williams, James Vowles, mengaku sempat khawatir dua pembalap utamanya hengkang sebelum kontrak anyar mereka diumumkan pekan ini.
- Perpanjangan kontrak Sainz dan Albon menjadi sinyal kepercayaan publik terhadap proyek jangka panjang tim yang tengah berbenah setelah performa buruk di musim ini.
- Williams menegaskan transformasi tidak akan selesai dalam setahun, dengan investasi besar untuk memperbaiki infrastruktur dan merekrut talenta baru demi kembali ke papan atas.

ZANDVOORT, Belanda โ James Vowles, bos tim Williams, mengungkapkan kekhawatirannya akan kehilangan dua pembalap andalan, Alex Albon dan Carlos Sainz, sebelum keduanya menandatangani perpanjangan kontrak. Pengumuman pekan ini menjadi angin segar bagi tim yang tengah berjuang keluar dari keterpurukan di ajang Formula One (F1).
Williams, yang pernah berjaya pada era 1980-an dan 1990-an, kini terpuruk di peringkat kesembilan dari sebelas tim dengan koleksi 11 poin. Sainz menyumbang enam poin, sementara Albon lima poin. Vowles menyebut perpanjangan kontrak ini sebagai momen krusial yang meringankan beban para kru di pabrik.
โSaya khawatir kehilangan keduanya karena mereka adalah pembalap level juara dunia yang pantas bersaing untuk podium, dan kami belum mampu memberikannya,โ ujar Vowles di sela Grand Prix Belanda, Jumat (21/8). โYang saya syukuri, saat kami bermasalah, mereka tetap bertahan. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa mereka percaya pada masa depan tim.โ
Sainz, yang sebelumnya dikaitkan dengan Audi, menandatangani kontrak multi-tahun setelah melalui pertimbangan panjang. Pembalap asal Spanyol itu menegaskan bukan tipikal orang yang mudah meninggalkan kapal saat badai datang. โSaya selalu ingin bertahan, tetapi saya khawatir situasi ini tidak terulang. Saya ingin bersama tim ini dalam jangka panjang dan mencari jalan keluar bersama,โ katanya.
Sementara itu, Albon, yang telah membalap 100 kali untuk Williams, hanya mendapat perpanjangan satu tahun. Meski demikian, Vowles menilai keputusan ini sebagai bentuk komitmen kedua pembalap terhadap proyek yang sedang dibangun.
Vowles menjelaskan bahwa Williams telah meyakinkan Sainz bahwa tim telah menemukan arah yang benar, meski masih jauh dari target. Salah satu masalah utama adalah teknologi simulasi yang baru tersedia pada November tahun lalu, setelah mobil 2026 hampir selesai. โKami menggunakan perkiraan yang tidak akurat dan salah mengembangkan ketinggian ride belakang, seperti yang juga dialami Aston Martin. Ini membuat pengembangan aerodinamis berada di jalur yang salah,โ ungkap Vowles.
Kondisi ini berdampak pada mobil yang dibawa ke Miami pada Mei lalu, yang sebenarnya merupakan mobil yang direncanakan untuk Grand Prix Australia pada Maret. Vowles mengakui bahwa perbaikan tidak akan selesai dalam 12 bulan, mengingat batasan biaya (cost cap) dan 20 tahun kekurangan investasi yang harus dikejar. โSaya menghabiskan banyak dana cost cap untuk memperbaiki masalah yang tidak dimiliki tim lain,โ tambahnya.
Langkah nyata telah diambil dengan merekrut Piers Thynne, mantan chief operating officer McLaren, yang fokus pada efisiensi produksi dan modernisasi fasilitas. Vowles menilai Thynne sebagai aset besar yang memahami standar level juara.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kabar ini menegaskan bahwa persaingan di tengah grid tetap menarik. Williams, yang identik dengan sejarah balap, kini berusaha bangkit dengan fondasi baru. Pertanyaannya, akankah investasi jangka panjang ini mampu mengembalikan kejayaan Williams, atau justru menjadi akhir dari era keemasan yang pernah mereka miliki?



