Hentikan Karier Lari: Jenny Simpson Menyerah Usai Henti Jantung, Ini Dampaknya bagi Atlet Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Jenny Simpson, peraih medali Olimpiade, memutuskan pensiun dari dunia lari setelah didiagnosis ARVC pasca-henti jantung.
- Kondisi genetik ARVC memaksa atlet untuk berhenti total demi keselamatan, menyoroti pentingnya skrining jantung bagi atlet.
- Keputusan ini menjadi pengingat bagi atlet Indonesia untuk memprioritaskan kesehatan jantung di atas ambisi prestasi.

Jenny Simpson, pelari jarak menengah Amerika Serikat yang pernah berdiri di podium Olimpiade, mengumumkan bahwa ia tidak akan pernah berlari lagi. Keputusan ini diambil setelah ia mengalami henti jantung saat sedang memandu sesi lari di North Carolina, Juni lalu. Diagnosis medis yang ia terima—aritmogenik kardiomiopati ventrikel kanan (ARVC)—memaksanya mengakhiri babak karier yang telah mengharumkan namanya di kancah internasional.
Perempuan 39 tahun itu adalah peraih medali perunggu Olimpiade Rio 2016 dan juara dunia 1500 meter pada 2011. Namun, pada sebuah acara lari pop-up di North Carolina, ia tiba-tiba kolaps. Ia membutuhkan resusitasi jantung paru (CPR) dan defibrilator eksternal otomatis sebelum dilarikan ke Rumah Sakit UNC Rex di Raleigh. Di sana, jantungnya kembali berhenti berdetak. Dalam unggahan Instagram, Simpson mengungkapkan bahwa jantung dan paru-parunya mengalami cedera parah. Ia didiagnosis mengidap ARVC, sebuah kondisi genetik langka yang membuat protein perekat sel otot jantung tidak berfungsi normal. Akibatnya, sel-sel otot jantung mati dan digantikan jaringan lemak serta parut, sehingga dinding bilik jantung menipis dan meregang, dan kemampuan jantung memompa darah menurun drastis.
Bagi Simpson, diagnosis ini bukan sekadar akhir dari satu babak, melainkan awal dari kehidupan baru yang penuh kehati-hatian. "Masa depan saya adalah anugerah luar biasa. Penuh harapan dan akan terus memiliki tujuan besar," tulisnya. Namun, ia menegaskan, "Diagnosis ini juga berarti berbahaya bagi saya untuk kembali berlari. Babak itu telah berakhir. Syukurlah, kisah saya belum." Pernyataan ini menggambarkan pergulatan batin seorang atlet yang harus merelakan passion-nya demi kelangsungan hidup. Simpson, yang juga meraih perak di Kejuaraan Dunia 2013 dan 2017, telah pensiun dari kompetisi pada akhir musim 2024. Namun, keputusan untuk tidak berlari sama sekali—bahkan untuk rekreasi—adalah pukulan telak yang ia terima dengan lapang dada.
Kisah Simpson membuka mata tentang risiko tersembunyi di balik karier atletik. ARVC sering kali tidak terdeteksi hingga terjadi peristiwa fatal seperti henti jantung. Di Indonesia, kesadaran akan skrining jantung bagi atlet masih rendah. Padahal, deteksi dini dapat mencegah tragedi serupa. Dokter spesialis jantung olahraga, yang kerap menangani atlet nasional, menekankan pentingnya pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiografi secara berkala, terutama bagi atlet yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung. "Banyak atlet muda yang mengabaikan gejala seperti sesak napas atau nyeri dada, menganggapnya sebagai kelelahan biasa," ujar seorang kardiolog yang enggan disebut namanya. "Padahal, bisa jadi itu adalah alarm dari jantung."
Bagi pelari Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa prestasi tidak sepadan dengan nyawa. Federasi Atletik Indonesia (PASI) dan KONI seharusnya menjadikan skrining jantung sebagai standar wajib sebelum atlet mengikuti kompetisi. Beberapa negara maju telah menerapkan protokol ketat, termasuk pemeriksaan genetik untuk atlet dengan riwayat keluarga. Indonesia, dengan populasi atlet yang besar, perlu berbenah. Jika tidak, bukan tidak mungkin tragedi seperti yang menimpa Simpson akan terjadi di tanah air. Pertanyaannya, apakah kita akan menunggu sampai ada korban jiwa untuk bertindak?
Simpson sendiri memilih untuk melihat ke depan. Ia bersyukur atas karier gemilang yang telah ia raih. "Saya mengalami segalanya—dari kerasnya latihan hingga berdiri di podium tertinggi saat lagu kebangsaan berkumandang," kenangnya. Kini, ia akan menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan kondisi jantungnya. Keputusan Simpson adalah pelajaran berharga: bahwa keberanian sejati bukan hanya tentang berlari mengejar garis finis, tetapi juga tentang tahu kapan harus berhenti. Bagi atlet mana pun, kesehatan adalah medali yang paling berharga.



