Thailand–Selandia Baru Targetkan Perdagangan Tiga Kali Lipat, Penerbangan Langsung Bangkok–Auckland Kembali Bergulir
Baca dalam 60 detik
- Thailand dan Selandia Baru resmi meningkatkan hubungan menjadi kemitraan strategis, dengan target perdagangan bilateral mencapai US$7,5 miliar pada 2045.
- Thai Airways berencana memulihkan rute langsung Bangkok–Auckland pada Maret 2027, yang diharapkan mendorong sektor pariwisata dan konektivitas antarwarga.
- Kesepakatan ini mencakup empat pilar kerja sama, termasuk keamanan siber, ekonomi hijau, pendidikan, dan kolaborasi regional melalui ASEAN dan APEC.

Thailand dan Selandia Baru resmi mengikat hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi melalui penandatanganan deklarasi kemitraan strategis, Jumat (21/8), di Wellington. Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara menargetkan peningkatan perdagangan tiga kali lipat menjadi US$7,5 miliar pada 2045, sekaligus menghidupkan kembali rute penerbangan langsung Bangkok–Auckland yang sempat terhenti.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan PM Selandia Baru Christopher Luxon menandatangani dokumen tersebut di Government House, menandai 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Momen ini dinilai menjadi babak baru bagi kerja sama yang selama ini berjalan, dengan empat dokumen kerja sama tambahan turut disaksikan, termasuk perjanjian budaya, pendidikan, dan pertukaran informasi kepolisian.
Kemitraan ini dijabarkan dalam Thailand–New Zealand Joint Plan of Action 2026–2030 yang mencakup empat pilar utama. Pilar pertama berfokus pada kerja sama politik dan keamanan, terutama penanganan kejahatan lintas negara, penipuan daring, dan perdagangan manusia. Kedua negara sepakat memperkuat koordinasi antaraparat penegak hukum dan berbagi intelijen untuk menekan aktivitas kriminal yang makin kompleks.
Pilar kedua menyentuh sektor ekonomi, perdagangan, dan inovasi. Selain target perdagangan yang ambisius, Thailand dan Selandia Baru akan mengembangkan Thailand–New Zealand Closer Economic Partnership (TNZCEP) untuk membuka peluang bisnis baru. Perhatian khusus diberikan pada ketahanan pangan dan energi, ekonomi hijau, serta pertanian berkelanjutan—sektor yang relevan dengan tren global menuju pembangunan rendah karbon.
Pilar ketiga dan keempat masing-masing menyoroti pendidikan, budaya, dan konektivitas antarmasyarakat, serta kerja sama regional dan multilateral. Kedua negara berkomitmen memperkuat kolaborasi melalui kerangka Mekong, ASEAN, APEC, dan forum internasional lain. Mereka juga menegaskan pentingnya tatanan dunia berbasis aturan dan sistem multilateral dalam menjaga stabilitas kawasan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberi sinyal penting tentang arah integrasi ekonomi kawasan. Thailand dan Selandia Baru sama-sama mitra dagang utama Indonesia di ASEAN dan Pasifik. Ketika kedua negara memperdalam kerja sama, Indonesia berpeluang memanfaatkan rantai pasok baru, terutama di sektor pertanian dan energi terbarukan. Namun, persaingan produk pertanian Indonesia di pasar Selandia Baru juga berpotensi meningkat seiring dengan liberalisasi perdagangan yang lebih luas.
Kepulangan Thai Airways ke Auckland juga menjadi indikator pemulihan sektor penerbangan pascapandemi. Rute langsung ini tidak hanya menguntungkan Thailand dan Selandia Baru, tetapi juga membuka konektivitas lebih mudah bagi wisatawan Indonesia yang kerap transit di Bangkok menuju Pasifik. Dengan semakin banyaknya rute langsung di kawasan, harga tiket dan waktu tempuh diharapkan menjadi lebih efisien.
Anutin menyebut kunjungannya sebagai awal dari hubungan yang lebih erat, dinamis, dan mendalam. Ia juga mengungkapkan harapan agar rute penerbangan dapat diaktifkan lebih cepat dari jadwal. Sementara itu, Luxon menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Thailand bergabung dengan OECD, yang akan memperkuat posisi Thailand di panggung ekonomi global.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana target perdagangan yang ambisius itu dapat direalisasikan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Apakah kemitraan ini akan menjadi model bagi negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, dalam menjalin kerja sama strategis dengan mitra di Pasifik? Jawabannya bergantung pada implementasi nyata dari rencana aksi yang telah diteken, serta kemampuan kedua negara untuk menerjemahkan komitmen politik menjadi manfaat ekonomi yang terukur bagi warganya.



