HUT ke-81 RI: Mapala UI Kibarkan Merah Putih di Puncak Gamalama hingga Ekspedisi Solo 1.634 Km
Baca dalam 60 detik
- Mapala UI merayakan HUT ke-81 RI dengan mengibarkan bendera di Gunung Gamalama, Maluku Utara, serta aksi solo bike-hiking Aqil dari Depok ke Lombok.
- Ekspedisi paralayang 'Fly The Spice Islands' dan program UIMN 2026 menegaskan peran Mapala UI dalam pengembangan wisata dirgantara dan pemberdayaan desa di Indonesia timur.
- Aqil, anggota Mapala UI, telah menempuh 1.087 km dari total 1.634 km, mendaki 13 gunung di atas 3.000 mdpl, dan diharapkan tiba di Lombok dalam waktu dekat.

Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) menggelar serangkaian aksi yang tidak sekadar seremonial: dari pengibaran Sang Saka Merah Putih di puncak Gunung Gamalama, Maluku Utara, hingga ekspedisi solo bersepeda dan mendaki yang membentang dari Jawa hingga Lombok. Inisiatif ini menegaskan bahwa semangat kemerdekaan bagi generasi muda tidak hanya dirayakan di lapangan upacara, tetapi juga di puncak-puncak tertinggi dan jalur-jalur terpencil Nusantara.
Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat, menyampaikan apresiasinya. Menurut dia, kegiatan semacam ini menambah semarak perayaan kemerdekaan di lingkungan kampus sekaligus menjadi sarana pengembangan kapasitas mahasiswa. "Semoga Mapala UI semakin maju dan merekrut anggota lebih banyak lagi dengan berbagai aktivitas dan skill tambahan yang bermanfaat bagi mahasiswa UI," ujarnya, menegaskan pentingnya kegiatan ekstrakurikuler yang berorientasi pada pengabdian dan prestasi.
Salah satu sorotan utama adalah ekspedisi paralayang bertajuk "Fly The Spice Islands" yang dilakukan Tim Paralayang Mapala UI. Mereka tidak hanya mengibarkan bendera di puncak Gunung Gamalama, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata dirgantara di kawasan tersebut. Langkah ini sejalan dengan upaya Mapala UI yang sebelumnya telah merintis wisata dirgantara dan pemberdayaan ekonomi desa di Maluku. Dengan adanya titik lepas landas yang kini teruji, diharapkan semakin banyak penggiat paralayang yang tertarik menjelajahi keindahan alam Maluku Utara dari ketinggian.
Sementara itu, di Maluku Tengah, tim Universitas Indonesia Membangun Nusa (UIMN) 2026 turut meramaikan perayaan HUT RI atas undangan Camat Seram Utara Barat. Mereka mengikuti upacara bersama perangkat negeri se-kecamatan di Negeri Pasanea, yang berbatasan langsung dengan Negeri Wailulu, lokasi program UIMN 2026. Partisipasi ini menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa UI tidak hanya sebatas program fisik, tetapi juga membangun jejaring sosial dan budaya dengan masyarakat setempat.
Di sisi lain, seorang anggota Mapala UI bernama Aqil memilih jalur yang berbeda: ekspedisi solo bertajuk "Menapak Bumi: Bike-Hiking Jawa-Bali-Lombok". Sejak dilepas dari Sekretariat Mapala UI di Depok pada 5 Juli 2026, Aqil bersepeda sendirian menempuh jarak 1.634 kilometer sambil mendaki 13 gunung yang tingginya di atas 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) di sepanjang Jawa, Bali, dan Lombok. Hingga HUT ke-81 RI, ia telah menempuh 1.087 kilometer dan berada di Gunung Argopuro, Jawa Timur. Ekspedisi ini bukan sekadar uji ketahanan fisik, tetapi juga simbol ketangguhan dan kemandirian anak muda Indonesia.
Di lingkungan kampus sendiri, Mapala UI juga mengibarkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 25 meter di Gedung Rektorat UI, Depok. Aksi ini menjadi simbol kebanggaan civitas akademika sekaligus pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan harus diisi dengan karya nyata. Menurut pengamat kegiatan kemahasiswaan, aksi-aksi Mapala UI ini memiliki dampak ganda: selain membangun karakter mahasiswa, juga mempromosikan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah-daerah terpencil.
Ke depan, rangkaian kegiatan Mapala UI ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk terlibat dalam ekspedisi dan pengabdian masyarakat. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah pemerintah daerah dan sektor swasta akan menangkap peluang ini untuk mengembangkan infrastruktur pendukung, seperti jalur pendakian, homestay, dan paket wisata petualangan? Jika tidak, semangat ekspedisi semacam ini mungkin hanya akan menjadi seremonial tahunan tanpa dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.



