Jepang-Oman Perkuat Kerja Sama Energi Bersih di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri Jepang dan Oman sepakat memperdalam kolaborasi energi ramah lingkungan, termasuk hidrogen dan amonia.
- Kesepakatan ini muncul saat ketegangan AS-Iran meningkat, dengan Oman berperan sebagai mediator dan penjaga jalur pelayaran vital.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi pasar energi global dan stabilitas pasokan, termasuk bagi Indonesia yang bergantung pada minyak dari kawasan Teluk.

MUSCAT โ Jepang dan Oman resmi menyepakati penguatan kerja sama di sektor energi bersih, mencakup pengembangan hidrogen dan amonia, dalam pertemuan para menteri luar negeri kedua negara di Muscat, Kamis (21/8). Kesepakatan ini tidak hanya menandai babak baru hubungan bilateral, tetapi juga menjadi sinyal strategis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengancam jalur pasokan energi dunia.
Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, dalam konferensi pers bersama menyatakan bahwa negaranya siap mendukung upaya Oman memperkuat ketahanan ekonomi dan sektor energinya, termasuk melalui proyek desalinasi air laut dan produksi baja ramah lingkungan. Dukungan ini merupakan bagian dari rencana komprehensif Jepang untuk membantu negara-negara Teluk, sejalan dengan kondisi kawasan yang kian rapuh akibat konflik.
Pembicaraan antara Motegi dan mitranya dari Oman, Sayyid Badr bin Hamad al Busaidi, juga menyentuh isu Iran dan pentingnya menjamin kebebasan serta keamanan navigasi di Selat Hormuz. Kedua menteri sepakat bahwa eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah mencapai titik kritis dan harus segera diredam. Oman, yang berbatasan langsung dengan selat tersebut, selama ini menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia dan telah berkomunikasi langsung dengan Teheran mengenai kerangka lalu lintas kapal di kawasan yang sempat diblokade.
Jepang, sebagai salah satu konsumen energi terbesar di Asia, menegaskan penolakannya terhadap pengenaan biaya transit atau pungutan tambahan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sikap ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga energi global. Oman sendiri telah lama berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran, posisi yang semakin relevan di tengah kebuntuan diplomasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara pengimpor minyak mentah yang cukup besar, Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz. Ketergantungan pada minyak dari kawasan Teluk membuat setiap ketegangan di sana berdampak langsung pada anggaran energi nasional dan harga bahan bakar domestik. Oleh karena itu, langkah Jepang-Oman untuk memperkuat ketahanan energi kawasan dapat menjadi preseden positif bagi stabilitas pasokan global.
Para analis menilai bahwa kerja sama ini juga mencerminkan pergeseran strategis Jepang dalam mengamankan sumber energi alternatif di luar minyak dan gas. Investasi pada hidrogen dan amonia, yang dianggap sebagai bahan bakar masa depan, menunjukkan komitmen Tokyo untuk diversifikasi energi. Oman, dengan potensi surya dan anginnya yang besar, menjadi mitra ideal dalam proyek-proyek semacam itu.
Namun, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana kesepakatan ini mampu bertahan di tengah dinamika politik Timur Tengah yang tidak menentu. Apakah Jepang akan benar-benar merealisasikan rencana komprehensifnya untuk kawasan Teluk, atau hanya sekadar wacana diplomatik? Ke depan, implementasi konkret dan komitmen finansial akan menjadi ujian nyata bagi kerja sama ini.



