Rusia Uji Rudal di Dekat Kepulauan Sengketa, Jepang Meningkatkan Protes
Baca dalam 60 detik
- Rusia mengumumkan uji coba rudal Bastion di dekat Kepulauan Kuril Selatan, memicu kecaman Jepang.
- Langkah ini mempertegas ketegangan bilateral yang sudah memburuk sejak invasi Ukraina.
- Eskalasi militer di kawasan Asia Timur berpotensi mempengaruhi stabilitas dan rantai pasok global.

Moskow, 21 Agustus 2026 โ Armada Pasifik Rusia mengumumkan telah melakukan uji coba rudal di perairan sekitar gugusan pulau yang diklaim Jepang sebagai Wilayah Utara, sementara Jepang menyebut kepulauan itu sebagai bagian dari wilayahnya yang diduduki secara ilegal. Uji coba ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Presiden Vladimir Putin melakukan kunjungan pertamanya ke pulau terbesar di gugusan tersebut, Etorofu, pada 13 Agustus lalu.
Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik, setelah Kementerian Luar Negeri Rusia memanggil Duta Besar Jepang untuk Moskow, Akira Muto, sebagai respons atas protes resmi Tokyo terhadap kunjungan Putin. Jepang menilai langkah Rusia tersebut sebagai provokasi yang tidak dapat diterima, dan Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi, dalam kunjungannya ke Oman, menegaskan bahwa Jepang tidak akan mentoleransi penguatan militer Rusia di empat pulau yang dipersengketakan.
Armada Pasifik Rusia menyatakan bahwa uji coba tersebut melibatkan sistem rudal pantai Bastion yang ditempatkan di Etorofu, bersama dengan kapal penjelajah rudal Varyag dan kapal selam bertenaga nuklir Omsk. Latihan ini mensimulasikan serangan terhadap kapal musuh dan berhasil mengenai semua target pada jarak minimal 300 kilometer. Meskipun waktu pasti pelaksanaan uji coba tidak diungkapkan, pengumuman ini jelas dimaksudkan sebagai sinyal kekuatan di tengah sengketa wilayah yang telah berlangsung puluhan tahun.
Sengketa Kepulauan Kuril Selatan, yang oleh Jepang disebut Wilayah Utara, telah menjadi duri dalam hubungan bilateral sejak akhir Perang Dunia II. Jepang mengklaim bahwa empat pulau tersebut โ Etorofu, Kunashiri, Shikotan, dan gugusan Habomai โ diambil secara ilegal oleh Uni Soviet setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945. Rusia, di sisi lain, menegaskan bahwa pengambilalihan tersebut sah sebagai bagian dari hasil perang. Ketegangan ini semakin memuncak sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022, yang mendorong Jepang dan negara-negara G7 lainnya untuk menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Moskow.
Bagi Indonesia, eskalasi ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif dan memiliki kepentingan di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia tentu mengamati dengan cermat dinamika keamanan di Asia Timur. Ketegangan antara dua kekuatan besar ini dapat mempengaruhi stabilitas regional, yang pada gilirannya berdampak pada arus perdagangan dan investasi. Indonesia juga memiliki kepentingan untuk menjaga netralitas dan mendorong penyelesaian damai sengketa teritorial, sejalan dengan prinsip-prinsip hukum internasional.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Rusia ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menunjukkan kekuatan di kawasan Asia-Pasifik, terutama di tengah meningkatnya kerja sama keamanan antara Jepang, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutu lainnya. Uji coba rudal ini juga dapat dibaca sebagai respons terhadap latihan militer gabungan yang dilakukan oleh Jepang dan negara-negara Barat di dekat perairan sengketa. Sementara itu, Jepang diperkirakan akan terus menempuh jalur diplomatik dan hukum, namun tidak menutup kemungkinan untuk meningkatkan tekanan melalui sanksi tambahan atau penguatan aliansi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah eskalasi ini akan berlanjut menjadi konfrontasi yang lebih terbuka, atau justru membuka ruang dialog baru. Bagi Indonesia, penting untuk terus memantau perkembangan ini dan memperkuat kerja sama regional dalam kerangka ASEAN untuk menjaga stabilitas dan mencegah terjadinya konflik terbuka yang dapat mengganggu perdamaian dan kemakmuran bersama.



