Veteran BNP Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih sebagai Presiden Bangladesh
Baca dalam 60 detik
- Alamgir, 78 tahun, memenangkan 255 suara di parlemen, mengalahkan kandidat oposisi Oli Ahmed.
- Kemenangan ini menandai pergeseran kekuasaan penuh setelah jatuhnya rezim Hasina dan kemenangan telak BNP pada Februari.
- Presiden baru menghadapi tugas memulihkan kepercayaan publik dan stabilitas politik pasca-gejolak.

Parlemen Bangladesh memilih Mirza Fakhrul Islam Alamgir, sekretaris jenderal Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), sebagai presiden ke-23 negara itu, Senin (21/8/2026). Pria berusia 78 tahun itu meraih 255 suara, mengungguli satu-satunya penantang, Oli Ahmed dari aliansi oposisi pimpinan Jamaat-e-Islami yang hanya memperoleh 88 suara. Kursi kepresidenan yang sebagian besar bersifat seremonial ini kosong setelah pengunduran diri Mohammed Shahabuddin pada Juli lalu.
Kemenangan Alamgir terjadi di tengah transisi politik besar-besaran di Bangladesh. BNP, pimpinan Perdana Menteri Tarique Rahman, memenangkan pemilu Februari lalu secara telakโpemilu pertama sejak gelombang protes 2024 yang menggulingkan Sheikh Hasina. Dengan terpilihnya Alamgir, BNP kini menguasai hampir seluruh panggung politik, dari eksekutif hingga kepala negara, menandai babak baru setelah 15 tahun kekuasaan otoriter Hasina.
Alamgir bukan nama asing di kancah politik Bangladesh. Ia adalah tokoh kunci dalam gerakan mahasiswa 1969 yang menentang kekuasaan militer Pakistan, yang menjadi batu loncatan menuju kemerdekaan Bangladesh pada 1971. Karier politiknya panjang, pernah menjabat menteri pertanian, penerbangan, dan pariwisata. Namun, namanya justru melambung saat menjadi pemimpin oposisi di bawah rezim Hasina yang represif. Ia berulang kali ditangkap dan menghadapi puluhan tuduhan yang ia sebut bermotif politik.
Pengunduran diri Shahabuddin, yang dikenal dekat dengan Hasina, mempercepat proses suksesi ini. Shahabuddin, yang dijuluki "Chuppu", mengundurkan diri dengan alasan kesehatan, meski masa jabatannya seharusnya berakhir pada 2028. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari pembersihan sisa-sisa rezim lama. Sementara itu, Hasina sendiri masih bersembunyi di India dan menolak hadir dalam persidangannya di Dhaka, di mana ia dijatuhi hukuman gantung atas kejahatan kemanusiaan pada November lalu.
Bagi Indonesia, pergantian kepemimpinan di Bangladesh memiliki relevansi tersendiri. Bangladesh adalah mitra dagang penting di kawasan Asia Selatan, terutama dalam industri tekstil dan produk garmen. Stabilitas politik di sana akan berdampak pada rantai pasok global, termasuk harga tekstil yang masuk ke pasar Indonesia. Selain itu, pengalaman Bangladesh dalam transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi dapat menjadi pelajaran bagi negara-negara di kawasan yang menghadapi dinamika serupa.
Alamgir, yang lahir pada 26 Januari 1948, adalah lulusan ekonomi Universitas Dhaka. Ia dikenal sebagai organisator ulung yang berhasil menjaga BNP tetap solid di masa sulit, ketika ketua partai Khaleda Zia dipenjara dan putranya, Tarique Rahman, hidup di pengasingan. "Saya tidak pernah berpikir akan menjadi presidenโini adalah anugerah tak terhingga dari partai dan Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya kepada wartawan, seperti dikutip kantor berita negara BSS.
Kritik terhadap rezim Hasina selama ini meliputi pembunuhan lawan politik, penindasan oposisi, dan pengadilan yang tidak adil. Dengan latar belakang Alamgir sebagai korban represi, banyak pihak berharap ia akan membawa angin segar bagi penegakan hak asasi manusia dan rekonsiliasi nasional. Namun, tantangan besar menanti: memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi negara dan memastikan pemilu berikutnya berlangsung adil.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana Alamgir akan menyeimbangkan peran seremonialnya dengan dinamika politik yang masih rapuh. Akankah ia menjadi simbol persatuan atau justru alat legitimasi bagi kekuasaan BNP? Jawabannya akan menentukan arah demokrasi Bangladesh dalam beberapa tahun ke depan.



