Paskibra KBRI Beijing: 10 Mahasiswa Indonesia Kibarkan Merah Putih di Negeri Tirai Bambu dengan Formasi Khusus
Baca dalam 60 detik
- Sepuluh mahasiswa Indonesia di Beijing mengibarkan bendera pada HUT ke-81 RI di KBRI, dengan formasi yang disesuaikan dengan lapangan terbatas.
- Latihan intensif 12 kali sejak Juni hingga Agustus 2026 menjadi kunci kekompakan, di tengah teriknya musim panas Beijing.
- Keterbatasan ruang dan jumlah anggota mendorong kreativitas pelatih, sekaligus menjadi simbol diplomasi budaya Indonesia di China.

Di tengah terik matahari Beijing yang menyengat, sepuluh mahasiswa Indonesia berdiri tegap di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), menunggu aba-aba untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Mereka adalah Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang bertugas dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sebuah momen yang tahun ini terasa berbeda karena digelar di negeri yang jauh dari tanah air.
Berbeda dengan upacara di Istana Merdeka yang menggunakan formasi 17-8-45 dengan lapangan luas, Paskibra KBRI Beijing harus beradaptasi dengan keterbatasan. Lapangan upacara hanya berukuran sekitar 50 x 10 meter, jauh lebih sempit. Oleh karena itu, para pelatih yang juga staf KBRI, Kevin Sujana dan Dicky Nugraha Kurniawan, menciptakan formasi khusus untuk sepuluh anggota. "Kami mengkreasikan sendiri formasi sepuluh orang ini. Jumlah anggota sedikit dan lapangannya tidak terlalu besar, tetapi tetap harus memperlihatkan kemampuan baris-berbaris yang tegas," ujar Dicky.
Para anggota Paskibra berasal dari berbagai kampus ternama di Beijing, seperti Peking University, Beijing Institute of Technology, dan Beijing Foreign Studies University. Mereka lolos seleksi ketat dari sekitar 22 pendaftar. Nama-nama seperti Aurelia Pavitta, George Christopher Daniel, hingga Yohanes Raditya Pradjna Budi Nugroho (Dito) menunjukkan semangat generasi muda Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri tanpa melupakan rasa nasionalisme.
Latihan yang dijalani bukan perkara mudah. Sejak Juni hingga Agustus 2026, mereka berlatih sebanyak 12 kali untuk mematangkan formasi, menyamakan gerakan, dan melatih ketahanan fisik. Kevin Sujana menegaskan, "Tentu kami tidak melatih mereka sekeras militer. Namun, ketahanan fisik dan disiplin tetap harus dijaga. Karena itu, ada latihan lari maupun hukuman push-up bagi mereka yang melakukan kesalahan." Strategi lain yang diterapkan adalah memperlambat tempo langkah agar setiap gerakan terlihat jelas oleh para tamu undangan di lapangan yang sempit.
Kisah Dito, yang telah tiga kali menjadi anggota Paskibra, menjadi contoh dedikasi. "Ini sudah tiga kali saya menjadi anggota Paskibra. Jadi, selama di China, saya tidak pernah pulang ke Indonesia saat liburan musim panas. Meski tidak pulang, saya senang bisa menjadi anggota Paskibra dan mengenal banyak orang," katanya. Sementara itu, Mikhael Bradevon W (Mika) mengaku baru pertama kali mengikuti Paskibra dan ingin mencoba hal baru. "Pengalaman sebelumnya hanya ikut jambore," ujarnya.
Bagi Indonesia, keberadaan Paskibra di luar negeri bukan sekadar seremonial. Ini adalah bentuk diplomasi budaya yang memperlihatkan bahwa semangat kebangsaan tetap hidup di tengah perantauan. Di tengah hubungan bilateral Indonesia-China yang semakin erat, kehadiran generasi muda ini menjadi jembatan penghubung dua bangsa. Mereka tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga membawa nilai-nilai keindonesiaan ke negeri Tirai Bambu.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana KBRI dan pemerintah Indonesia dapat lebih mendukung kegiatan serupa di berbagai negara. Apakah akan ada lebih banyak mahasiswa Indonesia yang terlibat dalam misi diplomasi kebangsaan ini? Dengan semakin banyaknya pelajar Indonesia di luar negeri, potensi untuk memperkuat citra Indonesia di mata dunia melalui kegiatan seperti Paskibra ini tampaknya masih terbuka lebar.



