Gus Ipul Gerakkan Dapur Umum di Tiga Titik Manggarai Timur: 6.000 Porsi Makanan per Hari untuk Korban Gempa NTT
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Sosial mengoperasikan tiga dapur umum di Manggarai Timur dengan kapasitas produksi 6.000 bungkus makanan siap saji setiap hari untuk dua kali makan.
- Bantuan logistik tahap awal mencakup 5 ton beras, 1.000 paket sembako, serta puluhan tenda dan selimut untuk menunjang kebutuhan dasar pengungsi.
- Data resmi mencatat 24.846 kepala keluarga terdampak dan 19.803 jiwa mengungsi, dengan proses verifikasi data korban yang masih terus berjalan.

Kementerian Sosial (Kemensos) langsung mengaktifkan layanan dapur umum di tiga kecamatan terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, untuk menjamin pasokan makanan bagi ribuan pengungsi yang masih bertahan di lokasi pengungsian. Operasional dapur yang dimulai sejak 19 Agustus ini menargetkan produksi 6.000 bungkus makanan siap saji per hari, dibagi dalam dua kali waktu makan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana kali ini. Menurutnya, tim gabungan terus bergerak memastikan logistik dan makanan sampai ke tangan warga, seiring masih banyaknya keluarga yang belum bisa kembali ke rumah mereka yang rusak.
Dapur umum didirikan di Desa Mano (Kecamatan Lamba Leda Selatan), Pota (Kecamatan Sambi Rampas), dan Dampek (Kecamatan Lamba Leda Utara). Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan akses dan konsentrasi pengungsi, sehingga distribusi makanan bisa menjangkau lebih banyak warga secara efisien.
Selain makanan, Kemensos melalui gudang Dinas Sosial setempat juga menyalurkan bantuan logistik tahap awal berupa 5 ton beras, 1.000 paket sembako, serta berbagai perlengkapan pengungsian seperti tenda keluarga, selimut, dan kasur. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban warga yang kehilangan tempat tinggal akibat guncangan gempa.
Data sementara yang dihimpun hingga 19 Agustus menunjukkan dampak yang luas: 24.846 kepala keluarga terdampak, 19.803 jiwa mengungsi, dan 25 orang meninggal dunia. Kerusakan fisik juga tercatat signifikan, meliputi 12.423 rumah, 309 gedung sekolah, 24 puskesmas, serta puluhan titik jalan dan jembatan yang putus.
Kemensos juga menerjunkan tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan petugas dari Direktorat PSKB untuk melakukan asesmen serta verifikasi data korban. Proses pendataan ini menjadi krusial untuk memastikan bantuan berikutnya tepat sasaran, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
โPada penanganan bencana di NTT, pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban terdampak menjadi salah satu hal yang penting. Tim terus bergerak memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dengan menyalurkan bantuan logistik dan membangun dapur umum,โ ujar Gus Ipul di Jakarta, Kamis.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih terus memantau kondisi di lapangan. Warga diimbau untuk menjauhi bangunan yang retak atau rusak, serta memantau informasi resmi dari BMKG terkait potensi gempa susulan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi risiko keselamatan yang lebih besar.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan pasokan makanan, tetapi juga memulihkan infrastruktur dasar seperti sekolah dan fasilitas kesehatan yang rusak. Pertanyaannya, seberapa cepat pemerintah dapat bergerak dari fase darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi agar warga Manggarai Timur bisa segera memulai kehidupan normal kembali?



