Indonesia vs Thailand di Final ASEAN Cup 2026: Trofi Pertama Sejak 35 Tahun Menanti di GBK
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia akan menghadapi Thailand pada partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin malam WIB.
- Kemenangan akan mengakhiri penantian gelar internasional senior selama 35 tahun, terakhir kali diraih pada SEA Games 1991 Filipina.
- Pelatih John Herdman mewaspadai kondisi Ole Romeny yang masih menjalani pemeriksaan medis, sementara Thailand diuntungkan dengan rotasi besar-besaran di laga terakhir grup.

Timnas Indonesia akan melakoni partai final FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB. Laga ini menjadi penentu apakah Skuad Garuda mampu mengakhiri puasa gelar internasional senior yang telah berlangsung selama 35 tahun, sejak medali emas SEA Games 1991 Filipina.
Perjalanan Indonesia ke final tidak berjalan mulus. Bersaing ketat dengan Malaysia di Grup A, Indonesia hanya unggul selisih gol meski memiliki poin yang sama. Kini, tantangan terbesar datang dari Thailand yang datang dengan status juara bertahan dan pengalaman lebih matang di kompetisi regional.
Pelatih Indonesia, John Herdman, menyadari besarnya peluang sekaligus tekanan yang menyertai laga ini. Ia menegaskan bahwa timnya akan tampil habis-habisan demi meraih trofi perdana di edisi pertama turnamen yang diakui FIFA tersebut. "Kami sangat antusias. Peluang terbuka untuk menjadi tim pertama yang mengangkat trofi ini, dan para pemain telah bekerja keras untuk berada di titik ini," ujar Herdman.
Namun, Indonesia menghadapi masalah kebugaran. Penyerang Ole Romeny masih menjalani pemeriksaan intensif dan belum dipastikan bisa bermain. Herdman menyatakan keputusan akhir akan diserahkan kepada tim medis. "Statusnya kami pantau dari hari ke hari. Belum ada jaminan, kami harus menunggu," tambahnya.
Di kubu Thailand, pelatih Anthony Hudson mengaku telah menganalisis gaya permainan Indonesia. Ia memprediksi laga berjalan terbuka dan menghibur. "Kami tahu Indonesia sangat atletis, menyerang, dan bermain direct. Ini akan menjadi pertandingan fantastis," kata Hudson.
Thailand datang dengan kondisi lebih bugar setelah melakukan rotasi besar-besaran di laga terakhir grup. Hudson sengaja menurunkan pemain pelapis untuk menjaga kebugaran pilar utamanya. "Kami sudah memastikan tiket final lebih awal, jadi kami bisa memberi menit bermain kepada semua pemain. Risiko kekalahan melawan Filipina sudah kami perhitungkan," jelasnya.
"Kami harus hadir dan membuktikannya di lapangan, menaruh respek kepada lawan, serta memercayai proses. Bersama suporter, saya yakin mereka akan mendorong kami melewati garis akhir," tegas Herdman.
Secara taktik, Indonesia diprediksi tampil dengan formasi 3-4-3. Maarten Paes tetap di bawah mistar, dengan lini belakang dihuni Rizky Ridho, Elkan Baggott, dan Justin Hubner. Lini tengah mengandalkan Kevin Diks, Joey Pelupessy, Calvin Verdonk, dan Dean James. Sementara lini depan diisi Luke Vickery, Mitchell Baker, dan Ragnar Oratmangoen.
Thailand kemungkinan memakai skema 3-5-2. Saranon Anuin di posisi kiper, dikawal Manuel Bihr, Nattapong Sayriya, dan Kritsada Kaman. Di tengah, ada Peeradol Chamratsamee, Sarach Yooyen, Kakana Khamyok, serta Nicholas Mickelson. Duet Chanathip Songkrasin dan Supachai Chaided menjadi ujung tombak.
Partai ini bukan sekadar adu taktik, tetapi juga pertarungan mental dan tradisi. Indonesia belum pernah menjuarai turnamen ini, sementara Thailand adalah langganan juara Piala AFF. Dukungan penuh dari puluhan ribu suporter di SUGBK bisa menjadi faktor pembeda, tetapi tekanan ekspektasi juga bisa membebani pemain.
Jika Indonesia menang, ini akan menjadi tonggak sejarah baru sepak bola nasional. Namun, jika Thailand yang angkat trofi, dominasi regional mereka semakin sulit digoyang. Mampukah Skuad Garuda memanfaatkan momentum di hadapan publik sendiri, atau akankah Thailand kembali menunjukkan kelasnya sebagai raja ASEAN?



