Zelenskyy Buka Pintu Perundingan Trilateral di UEA, Rusia Masih Bungkam
Baca dalam 60 detik
- Kyiv menyatakan kesediaan menghadiri pertemuan tingkat teknis bersama Washington dan Moskow yang dijadwalkan sebelum akhir Oktober di UEA.
- Zelenskyy menegaskan Ukraina tidak akan menghentikan respons militer terhadap serangan Rusia yang terus menyasar infrastruktur sipil dan jembatan di ibu kota.
- Sikap Moskow belum diketahui, sementara AS masih menunggu jawaban resmi dari Kremlin atas usulan dialog trilateral tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Kyiv siap duduk dalam perundingan trilateral tingkat teknis yang diusulkan Amerika Serikat, dengan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai salah satu lokasi yang dipertimbangkan. Pertemuan tersebut diperkirakan berlangsung sebelum akhir Oktober, meskipun Washington masih menunggu tanggapan resmi dari Moskow.
Kesediaan Ukraina itu disampaikan Zelenskyy dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz, Minggu (4/10). Ia mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah memberi konfirmasi kepada pihak AS mengenai keterbukaan Kyiv untuk hadir di UEA atau negara lain yang diajukan Washington. "Pihak Amerika Serikat saat ini berkomunikasi dengan Ukraina dan Rusia, mengusulkan pertemuan trilateral pada tingkat teknis sebelum akhir Oktober. Kemarin, saya mengonfirmasi bahwa kami terbuka untuk berpartisipasi," ujar Zelenskyy, seperti dikutip Anadolu Agency.
Langkah ini menandai babak baru diplomasi yang melibatkan ketiga negara sejak konflik berkepanjangan meletus. Namun, posisi Rusia belum jelas. Kremlin belum memberikan sinyal apakah akan mengirim delegasi atau menolak mentah-mentah usulan tersebut. Bagi AS, pertemuan teknis ini bisa menjadi uji coba untuk mengukur sejauh mana Moskow bersedia membuka saluran komunikasi tanpa harus berkomitmen pada gencatan senjata.
Dalam kesempatan yang sama, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tidak akan tinggal diam menghadapi eskalasi serangan Rusia. Ia menyebut serangan terhadap jembatan di ibu kota yang berlangsung empat hari berturut-turut sebagai bukti "keinginan brutal Rusia untuk terus meningkatkan eskalasi." Menurutnya, Rusia sebelumnya menargetkan pusat logistik, termasuk fasilitas Nova Poshta dan Ukrposhta, yang kemudian dibalas Ukraina dengan menargetkan Wildberries. "Sekarang mereka menyerang jembatan. Apakah mereka benar-benar berpikir kami tidak akan merespons?" tegasnya.
Zelenskyy juga menuduh Moskow terus membidik infrastruktur sipil, termasuk pusat data dan fasilitas jaringan telepon seluler. Ia menilai Presiden Rusia Vladimir Putin sengaja memperpanjang eskalasi karena memang menginginkannya. Pernyataan ini memperkuat posisi Kyiv bahwa perang tidak bisa diakhiri hanya dengan pendekatan persuasif. "Ini merupakan jawaban bagi semua orang yang percaya bahwa seseorang hanya perlu meminta Putin dengan baik dan dia pasti akan mengakhiri perang. Itu sama sekali tidak akan berhasil," tuturnya.
"Apakah mereka benar-benar berpikir kami tidak akan merespons?" โ Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina
Dari kacamata geopolitik, tawaran perundingan di UEA menunjukkan upaya AS menjaga jalur diplomasi tetap terbuka di tengah ketegangan yang meningkat. UEA dipilih karena posisinya yang netral dan hubungan baik dengan Moskow maupun Washington, sehingga bisa menjadi ruang aman untuk pembicaraan sensitif. Namun, tanpa kehadiran Rusia, pertemuan trilateral hanya akan menjadi dialog sepihak yang tidak menghasilkan terobosan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap stabilitas harga energi dan pangan global. Konflik berkepanjangan di Ukraina telah mengganggu rantai pasok gandum dan pupuk, yang berdampak pada negara-negara berkembang. Jika perundingan ini membuka jalan menuju de-eskalasi, tekanan terhadap harga komoditas bisa mereda. Sebaliknya, kegagalan dialog akan memperpanjang ketidakpastian yang selama ini membebani anggaran subsidi dan ketahanan pangan nasional.
Ke depan, mata dunia tertuju pada Moskow. Apakah Rusia akan memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan fleksibilitas, atau justru memperkeras sikap dengan melanjutkan serangan? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah perundingan di UEA menjadi pintu menuju perdamaian atau sekadar formalitas tanpa arti.



